Mengenal Nagara Sunda.

negara sunda

Beberapa tahun belakangan ini, kita melihat tumbuh suburnya berbagai gerakan kebudayaan bernapaskan Kasundaan di berbagai wilayah di Jawa Barat. Apakah hal itu merupakan awal kebangkitan Sunda? Wallahu’alam.

Yang jelas, sejarah mengajarkan bahwa ketika kebangkitan muncul, maka akan ada pihak-pihak lain yang mencoba bermain di dalamnya; apakah itu intelijen, oknum, atau jurig nyiliwuri yang tujuannya bermacam-macam: keuntungan ekonomis, kebencian, memecah belah, mengejar kepentingan pribadi atau golongan, ataupun supaya eksistensi pihak lain tidak terganggu.

Hal ini, misalnya, bisa kita lihat pada gerakan keagamaan. Ketika ghirah keislaman menguat, lalu muncullah hal-hal seperti gerakan jihadis, pendirian negara Islam, dan lain sebagainya yang memanfaatkan semangat keagamaan untuk tujuan-tujuan seperti di atas—yang sepintas semuanya seolah benar dan masuk logika. Hal serupa juga bisa terjadi ketika anak-anak muda yang kritis dan peduli kemudian diplintir oleh oknum pada konsepsi komunisme.

Nah, bisa jadi hal serupa terjadi juga pada semangat Kasundaan yang sedang bertumbuh. Hal ini berdasarkan temuan saya di beberapa wilayah di Karawang beberapa bulan terakhir ini (2015), yang membuat saya harus menulis panjang begini—padahal kopi sudah hampir habis.


Eksistensi Nagara Sunda

Di sini saya ingin mengupas terlebih dahulu tentang eksistensi Nagara Sunda. Ini merupakan pendapat pribadi berdasarkan kajian pada sejumlah sumber.

Pada awalnya, Nagara Sunda itu hanya ada satu: Nagara Sunda. Tidak ada embel-embel lain seperti Nagara Sunda Nusantara, Nagara Sunda Pajajaran, ataupun Nagara Sunda Galuh Pakuan.

Dalam perkembangannya, orang asing—sesuai dengan bahasanya—kemudian menyebut negara ini dengan berbagai nama seperti Sundapura, Sunda Land, ataupun Sunda Pajajaran. Dan pada akhirnya, nama Pajajaran inilah yang lebih populer manakala kita berbicara tentang Nagara Sunda.

Pajajaran sendiri, menurut tradisi lisan, mengalami tiga zaman. Yang terakhir adalah Pajajaran yang berada di Pakuan Bogor. Sedangkan Pajajaran dua fase sebelumnya, ada yang menyebut berada di Karawang Selatan, Sukabumi, Kuningan, dan entah di mana lagi.

Adapun Galuh Kawali, menurut Naskah Darmasiksa, secara politik bukan bagian dari Nagara Sunda, walaupun pernah tergabung dalam kekuasaannya sebelum Wretikandayun memisahkan diri. Galuh dan Pakuan kembali bersatu pada masa Sri Baduga. Para ahli sejarah tentu lebih memahami hal ini.


Runtuhnya Pajajaran dan Jejak Sejarah

Pada tahun 1579, Pajajaran diruntuhkan oleh gabungan Banten dan Demak. Peristiwa ini mengakhiri kekuasaan politik Sunda, karena setelah itu wilayah Sunda masuk ke dalam kekuasaan Priangan Mataram, dan kemudian menjadi bagian dari Indonesia atau Nusantara.


Tentang Kebangkitan Sunda

Menurut Uga Siliwangi, Nagara Sunda Pajajaran diprediksi akan bangkit kembali—entah dengan nama dan konsep seperti apa. Hanya diistilahkan sebagai Pajajaran Anyar atau Baru, karena yang lama sudah runtuh atau ngahyang.

Berdirinya Pajajaran Anyar ini, masih menurut Wangsit Siliwangi, bahkan didahului oleh suatu peperangan dahsyat yang disebut Perang Sanekala, serta berbagai bencana yang terjadi di dunia ini.

Namun diingatkan, bahwa bangkitnya Nagara ini adalah karena digeuingkeun jaman—dibangunkan oleh zaman. Seperti halnya lahirnya Reformasi yang melahirkan banyak partai politik pada tahun 1999, atau naiknya Gus Dur menjadi presiden. Artinya, kebangkitan itu bukan melalui kumpul-kumpul lalu membentuk konsep negara, mencari-cari argumentasi historis, memunculkan data-data berlimpah, dan kemudian melahirkan nama-nama seperti Sunda Empire, Karadenan, ataupun Sunda Nusantara.

Ingat, Wangsit Ki Lengser juga memberitahu bahwa akan muncul orang-orang yang memaksa uga atau memaksakan terjadinya kebangkitan Sunda melalui jalan yang “tidak wajar”, sehingga mengabaikan tanda zaman (totonden jaman), hukum konstitusi, atau istilahnya mangsa dan wayah.

Hal ini pernah terjadi di Tangerang, ketika para pecinta Kasundaan akhirnya harus diringkus aparat dengan alasan kudeta, karena ingin mendirikan Negara Sunda Nusantara pada tahun 2006. (Silakan searching sendiri beritanya, Kangbro).


Catatan untuk Generasi Muda Sunda

Saat ini, gerakan Kasundaan baru muncul sebatas turiang dan sirung—tunas yang baru tumbuh. Karena itu, jangan sampai ia busuk sebelum matang, atau hilang sebelum menjadi cahaya. Seperti halnya fenomena batu akik atau tanaman gelombang cinta (anthurium), yang sempat booming lalu hilang begitu saja.

Jangan sampai rasa bangga anak-anak muda terhadap budaya dan sejarahnya diplintir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai Maung-Maung Ngora Sunda yang baru muncul justru langsung dihantam oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kebangkitan itu.

Di sinilah pentingnya belajar sejarah—agar kita tidak hanya semangat, tetapi juga bijak dalam melangkah.

Similar Posts