Pasundan alamnya indah, sedap dipandang mata, subur dan makmur, sehingga sejak lama diyakini sebagai tanah yang cocok untuk mensucikan raga dan jiwa—pa-nyunda-an. Lanskapnya bukan sekadar bentang alam, tetapi juga cermin batin masyarakatnya: tenang, guyub, dan sarat nilai.
Di wilayah yang kini termasuk Karawang hingga Priangan ini, kesuburan tanah dan kearifan hidup berjalan beriringan, membentuk identitas yang tidak lekang oleh waktu.
Dalam jejak sejarahnya, Pasundan dahulu dikenal sebagai Nagara Sunda. Perjalanan panjangnya mencatat pengaruh luar yang datang silih berganti, seperti kekuasaan keluarga Salankaya dari India yang kemudian mengubahnya menjadi Nagara Taruma.
Seiring waktu, ketika bergabung dengan Mataram, wilayah ini dikenal sebagai Priangan. Hingga akhirnya, ketika menjadi bagian dari Indonesia, ia menjelma sebagai Jawa Barat. Namun, perubahan nama dan kekuasaan itu tidak serta-merta menghapus ruh kasundaan yang tetap hidup dalam adat, bahasa, dan cara pandang masyarakatnya.
Sejak awal, Pasundan terbagi ke dalam lima kerajaan yang berdiri sejajar. Kesetaraan inilah yang melahirkan konsep Pajajaran, bukan sekadar sebagai nama, tetapi sebagai simbol keseimbangan kekuasaan.
Masing-masing kerajaan memiliki karakter khas: ada yang unggul dalam penguasaan ilmu keagamaan, ada yang kuat secara fisik, ada yang menjunjung tinggi sikap egaliter dan keterbukaan, serta ada pula yang piawai dalam tata politik dan bahasa. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan, bukan perpecahan.
Di Karawang sendiri, semangat itu terasa dalam keseharian masyarakatnya. Dari sawah yang membentang luas hingga tradisi mapag sri yang masih dijaga, nilai spiritual dan sosial tetap berpadu. Karawang bukan hanya dikenal sebagai lumbung padi, tetapi juga sebagai ruang hidup yang merepresentasikan harmoni antara manusia, alam, dan keyakinan.
Di sini, agama tidak dipandang sebagai penghambat, melainkan sebagai bagian dari napas budaya yang memperkuat identitas.
Karena itu, memahami sejarah dan geopolitik menjadi penting jika ingin mengusung kemajuan Sunda. Menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan agama sebagai penyebab kemunduran justru menunjukkan kurangnya ketekunan dalam memahami kasundaan itu sendiri.
Akar persoalan tidak selalu datang dari luar, melainkan seringkali tumbuh dari dalam—dari cara pandang yang terputus dari akar sejarah dan nilai-nilai luhur.
Menjadi aneh ketika ada yang mengaku sebagai pengkaji budaya, tetapi lebih gemar menyudutkan agama daripada menggali kearifan lokal yang telah lama menyatu dengannya. Pasundan, termasuk Karawang di dalamnya, justru menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan nilai spiritual. Sebaliknya, kemajuan dapat tumbuh dari pemahaman yang utuh terhadap sejarah, budaya, dan jati diri sendiri—sebuah perjalanan yang tidak hanya membangun peradaban, tetapi juga menjaga martabat.
