Jika bicara tentang kerajaan Islam di Tanah Jawa, khususnya di abad 15 pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran biasanya hanya tertuju pada Kesultanan Banten, Cirebon dan Demak. Namun ada hal menarik dalam Naskah Kuno Wangsakerta, yang menyebutkan bahwa di wilayah Karawang juga berdiri Kraton / Kerajaan Islam.
Naskah Wangsakerta menyebutkan bahwa di Karawang terdapat Kadatoning Pura, atau Kraton/ Istana Pura. Pura disana artinya adalah Tanjungpura. Pada jaman dulu, Tanjungpura disebutnya Pura saja. Pusat kekuasaannya dinamakan Pura Dalem. Lokasinya disekitaran alun-alun Karawang sekarang.
Kadatoning Pura atau Kraton Tanjungpura didirikan oleh anaknya Syeh Quro yang bernama Syech Ahmad atau disebut Juga Pangeran Krawang. Berdasarkan Naskah Jawa, Pangeran Krawang dan Syeh Bentong pernah datang ke Jawa dan ikut membantu pembangunan Masjid Demak.
Kraton Tanjungpura merupakan kerajaan kecil bercorak Islam mazhab Hambali. Kraton Pura memiliki kekuasaan politik yang kecil hanya wilayah Krawang, tapi pengaruh keagamaannya sangat besar karena adanya sosok Syeh Quro.
Penguasa Kraton Pura setelah Syeh Ahmad, adalah Nhay Kadaton. Dia cucu Syeh Quro. Nhay Kadaton dalam Naskah Caruban dan Tradisi Lisan disebut dengan nama Ratu Krawang.
Dalam Naskah Mertasinga dijelaskan bahwa Ratu Krawang adalah orang yang mempertemukan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Kawunganten yang selanjutnya melahirkan Dinasti Kesultanan Banten.
Jika dulu kakeknya yaitu Syeh Quro mempertemukan Siliwangi dengan Subang Larang yang akhirnya merintis berdirinya Kesultanan Cirebon, maka kini cucunya yang mempertemukan Sunan Gunung Jati dan Kawunganten yang melahirkan Kesultanan Banten.
Jadi, meskipun tidak populer dan bahkan tidak terlacak dalam sejarah namun peran Kerajaan Islam Krawang ikut membidani lahirnya kerajaan Isalm besar di Tanah Sunda : Cirebon dan Banten. Jadi, berdasarkan narasi Naskah-Naskah Caruban dan Tanah Jawi diketahui bahwa jaman dulu di Karawang bukan hanya terdapat Pesantren Syeh Quro, tapi juga Kerajaan Islam kecil dibawah pengaruh Cirebon. Itu sebabnya penguasanya di sebut Gedeng Krawang.
