Cerita Gunung Goong Sanggabuana

Gunung Goong yang berada di kawasan Giri Sanggabuana, secara administratif termasuk wilayah Desa Cipurwasari, Kecamatan Tegalwaru, menyimpan jejak alam sekaligus warisan budaya yang kuat. Nama “Goong” disematkan karena bentuk bebatuannya yang menyerupai waditra gamelan, yakni gong, dengan kontur bulat menonjol di bagian puncak. Untuk mencapainya, pendaki harus merayap di atas batuan andesit yang licin dan membulat, seolah berjalan mengendap seperti lincahnya kidang.

Di puncaknya terdapat cekungan-cekungan kecil yang menampung air, dikenal sebagai Sumur Tujuh, yang dipercaya memiliki makna simbolik sekaligus spiritual. Sementara itu, di bagian bawah gunung terdapat Goa Goong, dengan pintu sempit namun bagian dalamnya luas, bahkan konon mampu dimasuki kendaraan besar. Penelusuran yang dilakukan tokoh setempat mengungkap adanya lapisan batuan bernilai di dalamnya, menambah kesan misterius sekaligus sakral.

Cerita turun-temurun dari masyarakat menyebutkan bahwa pada malam tertentu, terutama tengah malam, kerap terdengar suara gamelan yang menggema dari arah gunung. Suara tersebut diyakini sebagai tabuhan para wali, memperkuat anggapan bahwa Gunung Goong bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang spiritual yang dijaga. Para sesepuh Karawang pun meyakini gunung ini sebagai tempat keramat yang telah disucikan sejak lama, ditandai dengan keberadaan tujuh sumur sebagai simbol penjagaan alam.

Dalam tradisi lisan, Gunung Goong juga dikaitkan dengan nubuat akan hadirnya ritual suci yang dilakukan para kokolot Karawang, berkaitan dengan peristiwa besar seperti “bedahnya Talaga Pataruman” atau Citarum Beureum. Ungkapan sepuh, “Goong gede dimandian, kancah nagkub ditangkarakeun, ku nu ngunggahkeun kareta kancana,” menjadi simbol bahwa gunung ini memiliki fungsi penting sebagai paku alam—penjaga keseimbangan jagat.

Kepercayaan tersebut sejalan dengan kesadaran ekologis masyarakat, bahwa merusak gunung berarti mengundang bencana. Gunung dipandang sebagai penyangga kehidupan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: 31), bahwa gunung diciptakan agar bumi tetap kokoh dan tidak goncang. Dengan demikian, Gunung Goong bukan hanya situs alam, tetapi juga cermin kearifan lokal yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan lintas generasi.

Leave a Comment