Sejarah Bakan Karawang : Kampung Tua di Sungai Buaya

Sekarang, nama Karawang hanya tertinggal pada nama kabupaten. Begitulah yang kita tahu. Tapi siapa kira kalau nama Karawang ternyata masih terawetkan juga pada nama sebuah kampung kecil di wilayah Cibuaya.

Namanya Kampung Bakan Karawang. Kampung ini dilintasi sungai yang terkenal ada buayanya, Cibuaya.

Tidak jauh dari Muara Pangawinan Kali Bengbeng dan Kali Cibuaya di utara sana, terseliplah sebuah gugusan kampung kecil di kelilingi sawah.

Suasananya teduh dan hijau. Penduduknya tidak banyak. Mereka berkerja sebagai petani dan kebun. Pada saat Bendungan Walahar dibangun oleh Belanda tahun 1918-1925 banyak warga kampung itu yang ikut berkerja di bendungan.

Nama Kampung Bakan Karawang terbilang unik karena mengandung arti sebagai kampung pertama Karawang.

Dahulu kampung yang didirikan oleh Bupati Singaperbangsa di pinggir Sungai Citarum daerah Kertayasa sekarang, juga bernama Bakan Karawang. Dinamakan demikian karena lokasi kampung berada di Ujung Karawang (ujung Sungai Karawang di Bunut-Poponcol).

Bedanya Kampung Bakan Karawang di Cibuaya diberi nama seperti itu karena yang membukanya adalah orang yang pernah tinggal di Karawang (Nagasari). Jadi saat dia pindah ke Cibuaya maka kampungnya disebut Bakan Karawang. Dan nama itu sudah sangat melekat.

Pada tahun 1950-an pemerintah pernah mengganti nama kampung menjadi Karangasih, tetapi yang dikenal tetap nama Bakan Karawang-nya.

Kampung Bakan Karawang termasuk kampung tua Karawang yang masih terjaga. Di tengah kampung itu terdapat beberapa makam tua, salah satunya adalah makam pendiri kampung yang bernama Ki Asimin.

“Ki Asimin adalah orang pertama yang datang ke sini,” ujar seorang warga lokal yang mengaku keturunan ke-5 dari Ki Asimin. “Ki Asimin berasal dari Banten. Dia putera ulama. Tetapi Ki Asimin tidak meneruskan jalur keulamaan ayahnya. Dia milih jadi tukang angon bebek dan memilih Jalur Buhun.

Menurut riwayat Ki Asimin datang ke pesisir utara Karawang sekitar tahun 1610-1619.

Berdasarkan cerita para orang tua, Ki Asimin hidup sejaman dengan Pangeran Jayakerta di Sunda Kalapa.

Sedangkan Kampung Bakan Karawang menurut penduduk lokal mulai di-bukbak (dibuka dan diperluas kembali) pada Jaman Bubuka Karawang (sebuah masa dimana populasi penduduk dan kampung di daerah Karawang bertambah secara signifikan-sekitar abad 18). Yang membuka lagi kampung itu adalah keturunan Ki Asimin yang sebelumnya tinggal di Karawang (Nagasari).

Itu sebabnya kampung itu bernama Bakan Karawang.

“Kampung ini nyaeta dibukana samangsa wilayah ti mulai Sadari sampai Kuta Tandingan dibuka jadi pilemburan. Kungsi jadi bagian ti puser dayehna Krawang Kulon baheula ti mimiti kaler sampe ka Tanjungpura, trus nyambung ka Krawang Wetan,” begitu cerita warga.

Kampung Bakan Karawang dianggap sebagai Lemah Paneuneuban, yakni tempat berkumpulnya tujuh sahabat yang membuka banyak wilayah di Karawang seperti Kiai Muklis Cibutek sampai Kiai Bunder-Loji dan beberapa nama lainnya yang menjadi tokoh-tokoh Karawang jaman dulu.

Oleh sebab itu dikalangan para orang tua dikenal istilah Jalur Babakti Karawang, yakni jalur situs-situs keramat para tokoh lokal yang terdapat di sejumlah titik di seantero Karawang yang titik awalnya dimulai dari Kmapung Bakan Karawang di Cibuaya.

Leave a Comment