Saya masih teringat sebuah filosofi yang dulu sering saya temui saat hobi membaca cerita wayang di masa ABG. Kisah-kisah itu bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kegelisahan manusia—terutama tentang nasionalisme. Barangkali tidak ada sikap nasionalisme yang serumit Kumbakarna dan Bisma.
Kumbakarna tahu betul bahwa saudaranya sendiri, Dasamuka, berada di pihak yang salah karena melarikan Shinta dari Rama, hingga membuat negeri Alengka digempur pasukan kera pimpinan Hanoman. Namun di tengah kesadaran itu, Kumbakarna tetap memilih berperang. Ia berkata, “Aku berperang bukan karena membela kejahatan saudaraku Dasamuka, tapi aku berperang karena membela negeriku yang diserang musuh.” Sebuah pilihan yang tragis sekaligus agung, karena ia berdiri di antara kebenaran dan kesetiaan, sebelum akhirnya gugur di tangan Lesmana.
Di tempat lain, nun jauh di Padang Kurusetra, kegelisahan serupa juga dirasakan oleh Bisma Dewa Barata. Ia adalah guru bagi Pandawa dan Kurawa, sosok yang memahami betul mana yang benar dan mana yang salah. Namun sumpahnya mengikatnya pada negeri. “Aku melawan Pandawa bukan karena mereka pihak yang salah dan aku membela Kurawa bukan karena mereka pihak yang benar. Tapi aku berperang karena sudah bersumpah membela negeri, meski aku tahu negeri itu dipimpin oleh kejahatan Kurawa,” ujar Bisma sebelum tubuhnya dihujani seribu panah oleh Srikandi. Di sini, nasionalisme menjadi dilema batin—antara sumpah, moralitas, dan kenyataan.
Di balik semua tragedi itu, terselip sosok lain yang justru tertawa: Sengkuni. Ia kerap dicitrakan sebagai nasionalis sejati Hastina, yang seumur hidupnya menggelorakan cinta negara. Namun di balik retorika itu, tersimpan kepentingan pribadi—balas dendam terhadap keluarga Barata. Dengan sejuta strategi licik, ia berhasil mengadu domba Pandawa dan Kurawa hingga kehancuran tak terelakkan. Nasionalisme, dalam dirinya, bukanlah pengabdian, melainkan topeng untuk menutupi ambisi.
Kisah-kisah ini terasa begitu dekat dengan keadaan hari ini. Banyak orang mengaku nasionalis, tetapi sering kali tidak mampu membedakan dirinya sendiri: apakah ia seperti Kumbakarna yang berjuang demi negeri di tengah kesadaran akan kesalahan, seperti Bisma yang terikat sumpah meski batinnya gelisah, atau justru tanpa sadar menjadi Sengkuni yang menjadikan nasionalisme sebagai alat untuk kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, mungkin hanya rakyat Tumaritis yang benar-benar tahu—siapa yang tulus, siapa yang terjebak, dan siapa yang sedang memainkan peran.
