Elegi Pohon Karawang

Suatu hari Bupati Kusumadiningrat dari Galuh terbetik niat. Dia ingin wilayahnya menjadi produktif. Lalu munculah ide itu, Sang Bupati mengeluarkan peraturan bahwa setiap orang yang mau menikah harus tanam pohon kelapa. Dengan kebijakan itu, dalam beberapa waktu kemudian wilayah Ciamis menjadi sentra kelapa dan menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis. Dan itu bermula dari pohon.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Dia bisa memunculkan ide-ide kreatif dan bermanfaat, bukan sekadar jadi tukang pidato seremonial dan selfih-selfih ber-make up tebal. Bikin cantiklah kotamu, Bunda.
Jika sempat, sesekali jalan-jalanlah memutari trotoar Kota Karawang, mumpung trotoarnya masih tersisa. Ada banyak yang bisa kita dapati : tebaran polusi pabrik, asap kendaraan, panas matahari atau butiran debu. Dalam kondisi seperti itu, kita akan merindukan kota ini punya banyak pohon rindang dan ruang-ruang publik yang nyaman seperti taman yang luas dan nyaman yang bikin anak-anak muda kota ini betah ngeriung berlama-lama. Tak perlu seteduh Bogor atau secantik Bandung, tapi cukuplah untuk sekadar mendapat free wifi dan mengais ide di bawah pohon berdaun rindang. Tapi bagi Karawang, memelihara pohon besar di tengah kota bukanlah pilihan. Pelan-pelan, kota kita semakin memusuhi pohon. Apalagi kala musim Pilkada, pohon tak lebih dari gantungan paku untuk spanduk calon pejabat.
Sekali dua kali tengoklah sejarah bagaimana Kota Ini terbentuk. Karawang tersusun dari akar pepohonan. Jaman Old, Tanjungpura itu cerita tentang ademnya Bakula (Pohon Tanjung) yang tumbuh sejak era Sunda Galuh. Tapi di Jaman Now tak satupun ada Bakula di sana. Yah, begitulah. Teluk Gempol itu sebuah bukit kecil yang rapat oleh pohon Gempol sejak masa Panatayudha, hingga untuk lewatpun susah bukan kepalang terhalang pepohonan itu.
Tapi, adakah satu saja Pohon Gempol di sana? Bahkan pohon Nagasari yang menjadi muasal Kota Karawang, satupun tak lagi berdiri di kota ini. Dan apa itu Lamaran? Pohon Lamaran itu kayu-kayunya adalah penopang sumur-sumur kuno Pecandian Batujaya. Dan begitu juga pepohonan Jati yang menyusun kontruksi Perbentengan Batavia berasal dari Karawang hingga sekarang di Tanjungpura dikenal Kampung Tunggkjati, bekas lebatnya Hutan Jati Karawang. Begitu juga Pohon Bunut di Alun-Alun, dan Pohon Jambe di Teluk Jambe yang semuanya bercerita tentang betapa hijau kota ini.
Jadi, bicara Sejarah Karawang bukan sebatas tuturan tentang rawa-rawa, tapi juga rimba dengan pohon-pohon yang lebat dan hijau yang keberadaannya ikut melahirkan pembangunan Ibu Kota. Saya kira, pusat kota Karawang itu tak bisa dilepaskan dari Sejarah Pepohonan meskipun sekarang semua pohon itu sudah tidak ada dan tinggal nama-nama kampung. Seperti Lembur Suwung Dangiang. Berharap Kalpataru pada lembaran terpal yang menutupi gunung sampah.

Leave a Comment