Menarik mencermati bagaimana anak-anak muda Pajajaran ini memainkan peran politiknya masing-masing. Ketiganya hidup sejaman dan terlibat satu sama lain dalam sebuah pergulatan politik yang mempengaruhi secara radikal arah sejarah Sunda ke depannya.
Kita mulai dulu dengan Walangsungsang. Menurut kisah babad, Walangsungsang memiliki hak suci untuk menjadi penguasa Pajajaran. Dulu, ketika ayah ibunya menikah di Pasantren Syeh Quro, Karawang, konon ada “kontrak politik” bahwa salah seorang anak dari pernikahan Subang Larang dan Pamanah Rasa kudu ada yang jadi raja, dan klausul itu nampaknya jatuh pada Walangsungsang sebagai anak paling tua. Kita tidak tahu kebenaran klaim tahta itu, tapi yang kemudian menjadi narasi sejarah dan diyakini oleh masyarakat bahwa setelah besar Walangsungsang tidak jadi raja dan malah pergi meninggalkan istana dan memulai jalan hidupnya sendiri, yang kalau dalam Narasi Politik Modern diceritakan bahwa dia merapat pada seorang penguasa kampung bernama Ki Gedeng Alang-Alang di pinggiran bekas wilayah Indraprahasta.
Di kampung tersebut, sebagaimana umumnya kisah tradisional sejarah tua, Walangsungsang menikah dengan anak Ki Gedeng Alang-Alang dan akhirnya jadi penguasa kampung tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya Walangsung berhasil mewujudkan Resolusi Kemandirian Ekonomi di wilayahnya dengan olah produk rebonnya yang terkenal sehingga wilayah kecilnya di Lemah Wungkuk terangkat naik, menarik penduduk lain dan akhirnya menjadi sebuah zona kekuasaan lokal yang seksi.
Kita baca dalam kisah babad, bahwa pusat kekuasaan Pakuanpun akhirnya mengakui entitas politik di pesisir utara itu dan Sri Baduga menggelari Walangsungsang yang juga merupakan anaknya dengan sebutan Sri Mangana. Sampai fase ini, perjalanan politik Walangsungsang mulai solid. Dia tidak hanya mewarisi darah Siliwangi, tapi juga punya sumber daya ekonomi bernilai tinggi serta potensi menjadi kekuatan politik baru karena pada saat itu dia dan rakyatnya memeluk Islam dan memiliki jaringan trans internasional yang potensial melalui para pedagang muslim.
Dalam persfektif politik modern,
Walangsungsang adalah politikus darah biru yang punya sumber daya ekonomi dan sokongan politik yang tak bisa dianggap remeh, meski untuk daya militer mungkin masih kecil. Tapi Walangsungsang juga dibatasi oleh visi politiknya yang terbatas sehingga dia merasa cukup dengan berkuasa di Pesisir Caruban saja dan mentransformasikan pandangan Islam Kultural-nya. Lalu, datanglah orang yang tepat yang bukan hanya memperluas visi politik Walangsungsang tapi juga muncul di saat yang pas. Itulah Syarief Hidayatullah, keponakannya, anak dari kakaknya yang bernama Rarasantang.
Inilah sosok penting Gerakan Islam di level kekuasaan politik yang kelak disebut Sunan Gunung Djati.
Syarief Hidayatullah adalah anak muda militan yang datang dari Mesir (baca : Timur Tengah) dengan membawa semangat politik “Pan Islamisme” (Persekutuan Islam di konteks politik), punya jaringan internasional dan sangat religius. Walangsungsang cukup menyadari keterbatasan visi politiknya dan akhirnya menyerahkan tahta pada keponakannya yang segera saja mengubah visi Islam Kultural pamannya menjadi beraroma Islam Politik penuh gelora.
Tidak lama setelah menjadi penguasa Caruban, dan setelah waktunya tepat dengan meninggalnya Siliwangi, Syarief Hidayatullah menggerakan militernya ke Wahanten (Banten) dan menguasai daerah tersebut yang kemudian dijadikan vassal di bawah pemerintahan anaknya, Pangeran Saba Kingkin. Banten dipersiapkan untuk menjadi poros barat gerakan Islam di wilayah Pajajaran sementara dari Caruban merangsek dari timur.
Tapi begitulah jaman, yang memiliki kecerdasannya sendiri. Seperti halnya jaman tidak hanya menghadirkan Hitler di PD II, tapi juga memunculkan Chrucill, Stalin dan pemimpin berbobot lainnya. Maka di Tanah Sunda abad 15, bukan hanya anak muda bervisi luas, militan, Islamis dan cenderung agresif seperti Syarief Hidayatullah yang hadir tapi juga muncul sosok anak muda Pajajaran kita yang ketiga, yakni Surawisesa. Yah, inilah sosok pemimpin Pajajaran yang seolah hadir hanya untuk melayani agresifitas anak-anak muda Caruban polesan Jaringan Islam Internasional seperti Syarief Hidayatullah.
Dalam sejumlah tradisi pantun, Surawisesa dipersepsikan sebagai sosok anak muda nasionalis-religius dengan kecenderungan militeristik yang kuat seperti ditampilkan dalam fragmen Kalapitung-nya. Dia juga punya visi politik yang luas seperti lawan tandingnya dari Caruban. Jika Syarief Hidayatullah membangun gerakan politiknya atas nama Poros Islam bersama Demak dan Wahanten, maka Surawisesa membangun aliansi dengan Patege (Portugis) dengan konsep Bilateral. Dalam tinjauan geopolitik, inilah dua anak muda trah Pajajaran yang sama-sama memiliki pemikiran global, bisa berpikir strategis dan tentunya sama-sama berani.
Pada akhirnya kita melihat bahwa dua politikus cadas Sunda abad 15 ini sama-sama kuat dan tangguh sebagaimana dinarasikan dalam Carita Parahyangan bahwa peperangan sebanyak 15 kali di dua front barat dan timur berakhir imbang. Syarief Hidayatullah dengan Poros Islamnya meskipun mampu mempreteli banyak wilayah Pajajaran, tapi tak pernah berhasil menyentuh Pakuan.
Sementara Surawisesa dengan keperkasaannya yang dipuji para prepantun juga tak pernah mampu merebut lagi wilayahnya meskipun pasukannya sempat juga merangsek ke pedalaman Wahanten. Dua politikus digdaya Sunda itu akhirnya berdamai tahun 1530. Dan dengan sedih, Surawisesa kemudian membangun Prasasti Batu Tulis untuk mengenang kejayaan ayahnya, Siliwangi.
Jika Walangsungsang menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai awal gerakan politiknya, dan Sunan Gunung Djati menjadikan kekuasaan sebagai instrumen politiknya maka Surawisesa, dengan terpaksa, menjadikan militer sebagai pilihan politiknya. “Lama hidup di medan perang, begitu pulang tak lama kemudian mati”, demikian tertulis dalam naskah.
Banyak Jalan Menuju Politik
