Sejarah Singkat Tatanen Karawang

Hung
Ahung
Ka Nu Agung Sang Rumuhung
Pupunclak Agung Pamunjung
Anu Nunggal di Kalanggengan
Anu Langgeng nya Tunggal bae
Nu Ngabogaan sakabeh Jagat
Nu Ngabogaan sakabeh Alam
Paralun
Mohon izin untuk nyatur
Catur galur nu kapungkur
Kisah cerita masa silam
Haneuleum kolot jaman baheula
Hanjuwaneun anak incu nu daratang bari mapay
Nyarusul bari maruruh
Mencari jejak sebuah tapak
Tapak lacak Tatanen Alam Karawang
Sabudeur jagat sarawu Nusantara sudah tentu tahu dan mengenal bahwasannya Karawang terkenal sebagai Daerah Lumbung Padi Nasional, Leuit Pangan Nusantara. Karawang adalah wilayah yang tanahnya tersusun dari lapisan alluvial yang kemudian menjadi Taman Hijau Subur Makmur Lohjinawi. Hamparan sawah ngayapak di mana-mana. Hijau. Kuning. Subur. Sedap dipandang mata. Geunah natrat na paneule, reueus ngancik na rasa, bagja sumebar na hate. Hijaunya pesawahan Karawang mengingatkan kita tentang betapa pemurahnya Sang Ilahi Robbi kepada Bumi Karawang.
Nurutkeun basa ti pujangga, beja ti carita, kokoreh ti lontar, kertas jeung tatapakan sajarah kahirupan manusa, dijelaskan bahwasannya pertanian di Karawang telah ada sejak ribuan tahun silam. Hamparan persawahan telah menjadi bagian dari urat nadi Ambu Karawang sejak awal Masehi, ketika pada batuan penyusun Candi Batujaya tinggalan Kerajaan Tarumanagara ditemukan adanya Sekam atau kulit padi, yang kemudian melahirkan simpulan bahwa leluhur Karawang yang hidup pada abad 2-5 Masehi telah mengenal sistem pertanian. Dan hal itu kemudian diperkuat juga oleh teks Prasasti Tugu tentang penggalian Sungai Candrabagha dan Gomati yang bukan hanya untuk solusi bajir, tapi juga untuk pengairan persawahan.
pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka
Pada abad 5 Masehi terjadi letusan Gunung Krakatau Purba yang maha dahsyat, yang menimbulkan Bancana Satengahing Bumi. Bencana tersebut konon menghancurkan juga kerajaan Tarumanagara. Maka sirnalah Tarumanagara dan Karawang unggah lalakon menjadi lautan selama ratusan tahun sebelum kemudian air surut dan jadilah Karawang Ka-rawa-an. Daerah Karawang yang dulu makmur di masa kerajaan Taruma kini menjadi hamparan rawa-rawa maha luas.
Sistem pertanian sawah dengan sokongan pengairan irigasi tidak lagi dikenal, dan berganti sistem persawahan huma di bukit-bukit dan hutan-hutan. Sistem pertanian huma menjadi model dominan dari kehidupan agraris masyarakat Kerajaan Sunda, termasuk Karawang. Pertanian di Karawang diwarnai oleh aktivitas narawas, nyacar, nukuh, ngaduruk, ngaseuk, laju dipungkas ku nutembeuyan pare atau tanam padi.
Pertanian pada masa kerajaan Sunda Pajajaran yang berpusat di Pakuan membawa kemakmuran bagi seluruh Rakyat Sunda, termasuk di Karawang. Prepantun bilang : Talung talung basa Pajajaran ngadeg keneh. Jaman aya keneh Kuwera Bakti, jaman Guru Bumi dipusti-pusti, jeung Leuit Tangtu metu bae. Euweuh anu tani mudu ngijon. Euweuh anu tani nandonkeun lahan. Euweuh anu tani paeh ku kajengkel. Euwuh anu tani modar kalanti. Pare subur beas mucunghul : Cere Toropong Bogor,Ketan Corogol Jonggol Niwara Pare Leuweung, Ketan Kawalu Molog,
Tahun 1578 Pajajaran burak, disusul Sumedang Ngadeg Nalendra. Tetapi tahun 1620 Sumedang katut wilayah Sunda yang lainnya berada di bawah kekuasaan Sultan Agung Mataram. Tahun 1633 Adipati Singaperbangsa dari Galuh dan Surengrono dari Wirasaba diangkat oleh Sultan Agung Mataram sebagai Wedana melalui Piagam Plat Kuning Kandang Sapi.
Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipun wadanahakeun ing manir. Sasangpun katampi dipunrenahakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura,anggraksa siti NagaraGung Bongan Kilen,
Singaperbangsa dan Ki Wirasaba ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugas keduanya adalah menjaga tanah nagara agung di sebelah barat, termasuk menjadikan daerah tersebut sebagai penyedia kebutuhan pangan bagi pasukan Mataram yang akan menyerang Kompeni di Batavia. Sejak itu Singaperbangsa dan Wirasaba mendapat tanggung jawab untuk mengolah rawa-rawa Karawang menjadi persawahan.
Dan untuk memulai pekerjaan menjadikan Karawang sebagai lumbung padi maka Singaperbangsa kemudian memerintahkan Ki Yudabangsa mengambil benih padi dari leuit Rangga Sumedang yang ada di Kalapa Dua, Cabang Bungin, yang dijaga oleh Ki Astrawardana dan Wanayudha :
Penget layang ingsun Singaperbangsa. Kacekel dening Ki Astrawardana kalayan Ki Wanayudha. Isinekang manira juput pare limang takes punjul tiga welas jait bobot. Inilah perintahku kepada Astrawardana dan Wanayudha untuk mengirim beras sebanyak lima tangkes tiga belas jait pada saat Yudabangsa datang.
Dengan beras sebanyak lima tangkes tiga belas jait tersebut Bupati Singaperbangsa membuat areal persawahan yang luas dari mulai Udug-Udug sampai Pura Dalem Karawang. Menghampar sepanjang aliran Sungai Citarum. Beras-beras dari Karawang setiap tahun dikirim ke Mataram melalui Pelabuhan Dipala di Ciparage. Suburnya lahan Karawang membuat pesawahan Karawang berkembang dengan luas. Dan akhirnya datanglah Bangsa Kebo Bule yang pada awalnya ngadayeuh di Muara Cihaliwung laju selanjutnya berhasil menguasai Nusantara. Pada tahun 1925 Penjajah Belanda memanfaatkan potensi alam Karawang untuk pertanian. Mereka membangun bendungan di Babakan Walahar yang berfungsi untuk mengairi areal persawahan di Karawang. Sejak itu, sejarah Karawang sebagai Daerah Lumbung Padi dimulai lagi.
Setelah Indonesia Merdeka, predikat Karawang sebagai lumbung beras tetap dipertahankan oleh Soekarno. Tahun 1961 Presiden Soekarno memulai Operasi Gerakan Makmur penanaman padi pertamakali di Rengasdengklok – Karawang.
Soekarno mengatakan di hadapan Rakyat Karawang agar keberadaan Karawang sebagai Lumbung Beras harus dijaga.
Pada masa Presiden Soeharto keberadaan Karawang sebagai Lumbung Beras Nasional juga ditingkatkan lebih luas lagi. Tahun 1970, atau dua tahun setelah jadi Presiden RI, Soeharto mengunjungi Karawang sebagai upaya membangun kekuatan Pangan Indonesia. Hasilnya pada tahun 1985 Indonesia berhasil melakukan Swasembada Beras dan menjadi peringkat pertama ekspor beras dunia. Dan Karawang dianggap sebagai salah satu kunci keberhasilan pengembangan pertanian di Indonesia.
Di masa kini, keberadaan Karawang sebagai Lumbung Beras Nasional mengalami persoalan yang cukup berat. keberadaan Kabupaten Karawang sebagai lumbung padi mulai terancam seiring berkembangnya sektor industri dan perkembangan permukiman yang menyebabkan alih fungsi lahan sawah.
Perkembangan penggunaan lahan di Kabupaten Karawang semakin tinggi dikarenakan Kabupaten Karawang akan menjadi kawasan strategi ekonomi dampak dari perkembangan wilayah di sekitarnya (Jabodetabek). Dengan demikian, lambat laun masa depan Karawang sebagai Lumbung Beras Nasional mulai terancam.
Masa depan pertanian di Karawang bukan hanya terancam dari sisi lahan, tapi juga budayanya. Selama ribuan tahun kebudayaan lokal Sunda telah menjadi bagian penting dari berkembangnya pertanian Karawang. Masyarakat jaman dahulu tidak sembarangan dalam bertani. Mereka memuliakan setiap prosesnya, dari mulai buka lahan, memilih bibit, memulai waktu tanam, mengatur air dan merawat pertumbuhan hingga melaksanakan panen.
Semua proses dianggap sebagai ritus suci yang melibatkan kepercayaan terhadap sosok Ambu Hiyang Sri Pohaci. Oleh sebab itulah pertanian Karawang erat dengan banyak ritus seperti Nyajen, Nyawen, Nyalin, Babarit, Hajat Galengan Buntu, Ritus Budak Angon dan lain sebagainya. Keyakinan seperti itu telah memandu para petani Karawang untuk bersikap arif dan bijak terhadap tanaman padi, yang pada akhirnya berdampak pula pada tingkat kesejahteraan sehingga muncul paribasa Buncir Leuit Loba Duit, Bru di juru Bro di panto, Ngalayah di tengah imah untuk menggambarkan kekayaan orang jaman dulu yang berbasiskan kepemilikkannya atas lahan pesawahan.
Hasil panen melimpah ada Pare Ukut, Pare Gandul, Pare Genjah Rante, Pare Benong, Pare Jolen, Pare Genjah Melati, Cere Rante, juga Ketan Rangda Kaya. Dan ketika nilai-nilai kearifan lokal dalam dunia pertanian jaman dulu ditinggalkan maka yang terjadi adalah berkuasanya Hukum Pasar dan Nilai-Nilai Modernisasi yang liar, yang bukan hanya berdampak pada kesemrawutan tata nilai sosial tapi juga merusak lingkungan, dan masa depan pertanian itu sendiri.
Dan dengan tibanya Hari Lahir Kabupaten Karawang yang ke 385, kita diingatkan kembali tentang pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dalam Dunia Pertanian. Dunia Modern telah sangat jauh memisahkan kehidupan tatanen dengan jatidirinya. Kita mungkin tidak tahu lagi kumaha nyajen dina sawen, ataupun mana singkal mana lanjam, tatanen te wawuh usum, ngaritung lain ku waktu lain ku wuku, nyarawah pasingsalan dina mangsa, ukuran paburisat mana sambilan mana sapocong mana sagedeng mana sangga mana gacong., Tarani loba udar tali paranti, paroho bakti ka Ambu Haci – Nyi Sri Marganing Hirup.
Sakumaha catur para karuhun, salila heunteu ngajenan Inyana – salila Inyana dilalawora, najan sawah-sawah mahi cai kandel berak oge, mowal eundeuk pare leubeut ranggeuy, moal wuli beurat eusi, moal suwung-suwung katumpangan hama jeung panyakit. Dan jika sistem pertanian dan kehidupan petani semakin menyimpang dari Pikukuh Kearifan Lokal maka segala macam potensi kerusakan tatanen dari mulai balabarnya Sang Dugul Ki Dulang Suntak dan Si Garung Bakul Guha Sikakala sebagai simbol kehancuran pertanian siap menimpa dan menghancurkan pertanian seluruhnya.
Menggunakan tali paranti bukan munjung yang harus disikapi dengan anti, tapi tali paranti nyaeta ngalampahkeun pangarti tina panuduh, nya panuduh anu pabalatak di salega alam. Tali Paranti adalah tata tani yang menjadi teknologi para orang tua dahulu, yang pemanfaatannya didasari oleh pengetahuan dan pembuktian. Tali paranti dalam pertanian selalu berubah seiring jaman. Baheula mihape siki ka taneuh diparancahan make jampe atau mantra, tapi kiwari disarebut doa. Laju robah dei mernahkeun tatanen teh ku wuluku teu pake munding, ku padati jalan sorangan.
Dan sejarah Pertanian di Karawang tidak bisa dilepaskan dari tata tani yang dinamakan Tali Paranti tersebut dengan Ambu Pohaci sebagai bagian penting di dalamnya. Oleh sebab itu melestarikan sejarah tatanen Karawang bukan hanya menjaga luas lahan pertaniannya saja tapi juga menghidupkan kembali tata tani budayanya.

Leave a Comment