Sejumput Jejak Komunisme Karawang 1965

Pernah ada obrolan panjang dengan para orang tua di wilayah utara Karawang, sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai lumbung padi sekaligus ruang pertemuan beragam arus sejarah. Dari tutur mereka, gambaran tentang pengikut Partai Komunis Indonesia di masa lalu tidaklah tunggal. Di kalangan bawah, kebanyakan orang yang ikut hanyalah rakyat biasa, petani dan buruh tani yang hidupnya bergantung pada musim dan tanah. Mereka bergabung bukan karena ideologi yang matang, melainkan karena ikut-ikutan. Kegiatannya pun sederhana, seperti latihan baris seminggu sekali di lapangan kecamatan. Tidak tampak semangat kebencian terhadap agama dalam keseharian mereka. Banyak di antara mereka tetap menjalankan praktik keagamaan sebagaimana biasa. Yang membuat mereka tertarik justru janji-janji perubahan sosial—tentang keadilan, kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik—yang bagi rakyat kecil terdengar sangat menjanjikan.

Namun cerita menjadi berbeda ketika menyentuh lapisan kader. Menurut para penuturan itu, bahkan kader tingkat desa memperlihatkan sikap yang lebih tegas terhadap hal-hal yang berbau agama. Ada yang merasa terganggu dengan suara adzan, ada pula yang menunjukkan ketidaksukaan secara terang-terangan terhadap simbol-simbol religius. Di sini tampak bahwa ada jarak antara pengikut akar rumput dengan kader ideologis, sebuah fenomena yang juga dicatat oleh banyak peneliti sejarah Indonesia. Sejarawan seperti Robert Cribb dan Geoffrey Robinson menunjukkan bahwa basis massa Partai Komunis Indonesia pada awal 1960-an memang sangat luas dan heterogen, dengan jumlah anggota dan simpatisan yang diperkirakan mencapai jutaan orang, tetapi tidak semuanya memiliki kedalaman ideologis yang sama.

Ketika peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi dan berujung pada kegagalan serta penumpasan besar-besaran oleh militer, lanskap sosial di banyak daerah berubah drastis, termasuk di Karawang utara. Dalam cerita para orang tua itu, muncul fenomena yang sangat khas: banyak orang mendadak menjadi lebih religius. Mereka yang sebelumnya dikenal gemar mabuk, berjudi, atau mengadu ayam, tiba-tiba rajin salat berjamaah di tajug-tajug kecil di kampung. Bahkan ada yang sampai menginap di sana. Tajug yang biasanya lengang mendadak penuh. Perubahan ini bukan hanya soal iman, tetapi juga soal situasi sosial-politik yang penuh ketakutan dan ketidakpastian. Dalam banyak kajian, seperti yang ditulis John Roosa, periode pasca-1965 memang ditandai oleh tekanan kuat untuk menunjukkan identitas keagamaan sebagai bentuk “keamanan sosial”.

Meski demikian, mereka yang dianggap sebagai kader tetap tidak luput dari penangkapan. Ingatan kolektif tentang masa itu masih tersisa dalam bentuk cerita-cerita lisan, yang diwariskan dari generasi ke generasi di kampung-kampung pesisir Karawang, berdampingan dengan suara angin sawah dan deru laut utara.

Di era kiwari, sebagaimana dituturkan dalam obrolan tersebut, memang sulit membayangkan kebangkitan PKI sebagai sebuah partai politik. Sejarah panjang pelarangan dan trauma sosial membuatnya nyaris mustahil hadir kembali dalam bentuk organisasi formal. Namun sebagai sebuah paham, perdebatan tentang keberadaannya masih terus hidup di ruang publik Indonesia. Ada pandangan yang melihat bahwa pengaruh itu tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang menjadi atheis, melainkan dari bagaimana nilai-nilai keagamaan diposisikan dalam kehidupan bersama.

Dalam perspektif akademik, Indonesia sejak awal berdiri memang tidak memilih menjadi negara sekuler murni, tetapi juga bukan negara agama. Prinsip Pancasila menempatkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama, yang menandakan bahwa agama memiliki posisi penting dalam ruang publik. Namun dalam praktiknya, relasi antara agama, negara, dan ideologi selalu mengalami dinamika. Istilah seperti “sekularisme” sendiri memiliki banyak spektrum, dari yang moderat hingga yang radikal, dan sering kali digunakan secara berbeda dalam konteks sosial-politik Indonesia.

Karawang, dengan identitasnya sebagai daerah agraris yang religius sekaligus terbuka terhadap perubahan, menjadi contoh menarik bagaimana lapisan-lapisan sejarah itu bertemu. Tajug-tajug kecil di pinggir sawah, tradisi pengajian kampung, hingga cerita-cerita tentang masa lalu menjadi bagian dari lanskap budaya yang hidup. Di sana, ingatan tentang ideologi, agama, dan perubahan sosial tidak hadir sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai pengalaman nyata yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kisah-kisah itu, terlihat bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar hitam-putih. Ada yang ikut karena harapan ekonomi, ada yang bergerak karena keyakinan ideologis, dan ada pula yang berubah karena tekanan keadaan. Semua itu membentuk mozaik sejarah lokal yang kompleks. Karawang tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi nasional, tetapi juga sebagai ruang ingatan—tempat di mana cerita tentang masa lalu, keyakinan, dan perubahan terus berkelindan, membentuk cara pandang masyarakat terhadap dunia hari ini.

Leave a Comment