Setiap masyarakat memiliki ciri khasnya dan karakter masing-masing yang dipengaruhi oleh dinamika sejarah dan lingkungan alamnya. Ciri khas tersebut mewujud dalam bentuk kearifan lokal dengan mengambil instrument baik berupa makanan, pakaian, tradisi, pandangan hidup ataupun arsitektur.
Bagaimana dengan Karawang? Ada beberapa instrument kearifan lokal Karawang yang menarik untuk kita kenali. Pertama adalah Kemandirian Pangan. Dalam sejarahnya Karawang dikenal sebagai Masyarakat Agraris. Kita bisa mencomot potongan sejarah dari kejayaan Taruma di periode awal Masehi ataupun kisah buka sawah oleh koloni Mataram pada abad 16. Potensi agraris Karawang tersebut yang kemudian disempurnakan Belanda dengan pembangunan Dam Walaharnya dan penyematan label Kota Lumbung Padi Nasional oleh Soekarno tahun 1961.
Sebagai daerah agraris Karawang memiliki kemandirian pangan, sebagamana umumnya Masyarakat Sunda jaman dulu. Kemandirian pangan itu disimbolkan dengan bertebarannya leuit-leuit atau lumbung padi di seantero wilayah persawahan Karawang. Tidak ada ceritanya Masyarakat Karawang kelaparan, terkecuali ketika kehidupan agrarisnya ditinggalkan seperti ketika terjadi tahun 1658 dimana sebagian besar Masyarakat Karawang ditarik ke Mataram untuk bikin danau kraton dan mengakibatkan sawah-sawah di seluruh Karawang tidak ada yang mengurus. Di saat itulah terjadi kelaparan di Karawang.
Kemandirian Pangan juga berarti ketangguhan ekonomi. Artinya Masyarakat Karawang pada mnasa lalu jarang yang hidup susah. Yang punya sawah bias mengandalkan panen, dan yang tidak punya sawah berkerja di sawah orang. Jeda antara musim tanam dengan musim panen dimanfaatkan dengan buburuh yang artinya melakukan pekerjaan diluar bertani. Dengan pola seperti itu maka tidak ada yang namanya pengangguran di Karawang.
Semiskin-miskinnya orang Karawang dia masih bisa makan teratur saat musim tanam dan makan berlimpah saat musim panen. Dinamika ekonomi seperti itu yang kemudian melahirkan anggapan pada masa lalu kalau orang Karawang itu kaya-kaya karena dianggap punya banyak sawah dan penghasilan. Istilah pengangguran mulai muncul ketika Karawang menjadi kota industri saat istilah berkerja diasosiasikan dengan jadi karyawan pabrik. Istilah Karawang Lumbung Pangan Nasional juga kemudian menjadi ambigu ketika Karawang dinobatkan sebagai salahsatu penerima Raskin terbesar se-Jawa Barat.
Ciri kearifan lokal Karawang yang kedua adalah Semangat Berbagi (Berehan), yang terungkapkan dalam istilah Gede Bacot Murah Congcot. Yah, pada dasarnya Masyarakat Karawang itu baik-baik (bageur), meskipun mereka dianggap panasan, mudah emosi (gede bacot), tetapi mereka senang berbagi (murah congcot). Mudah emosi (gede bacot) itu sendiri sebetulnya bukan berarti mudah marah tetapi lebih kepada ekspresi watak yang terbuka, bicara seadanya yang besar kemungkinan dipengaruhi oleh lingkungan alamnya yang gahar karena berada di lingkungan pesisir yang panas dan pengaruh dominasi pola agraris yang egaliter serta barangkali minimnya penetrasi budaya peodal.
Semangat Berbagi Masyarakat Karawang itulah yang kemudian terintegrasikan ke dalam rangkaian pranata ritual seperti Hajat/Sedekah Bumi, Ruwatan Lembur, dan ritual-ritual agraris lainnya yang semuanya mencirikan adanya Semangat untuk saling berbagi, misalnya dalam ritual-ritual tersebut selalu ada yang namanya makan bareng (papahare) dengan makanan yang dibawa dari masing-masing rumah. Budaya Papahare ini masih sering dijumpai saat kita masih kecil. Papahare bukan sebatas makan bareng, tetapi mengandung tindakan untuk saling melengkapi kekurangan makanan masing-masing.
Budaya lainnya yang sering dijumpai adalah menyediakan gentong air di pinggir jalan untuk memberi minum pejalan kaki. Dan masih banyak lagi budaya lainnya yang bukan hanya sebatas keramaian yang bersifat keramat dan holistik, melainkan pengejewantahan semangat sosial untuk saling berbagi. Oleh sebab itu akan menjadi aneh kalau sekarang ini banyak kegiatan budaya tapi sepi dari Semangat Kesosialan. Kegiatan budaya di Karawang tak bisa dilepaskan dari semangat berbagi dengan sesama dan lingkungan, apapun judulnya. Bahkan dalam tradisi Pantun Sunda, nilai berbagai dengan sesama ini jauh lebih mulia daripada penghormatan kepada Sri Pohaci sekalipun.
Ciri kearifan yang ketiga dalam Masyarakat Karawang adalah Guyub. Semangat Guyub atau Gotong Royong menjadi karakter khas Masyarakat Nusantara dan di Karawang serta daerah-daerah Sunda lainnya hal itu mewujud dengan kental. Sebagai contoh adalah soal pindahan rumah dimana orang beramai-ramai menggotong rumah ke lokasi baru. Contoh lain adalah saling meminjam perabot rumah tangga saat ada yang hajatan, gotong-royong bikin sarana umum seperti jembatan, rumah, dan lainnya ataupun bahu membahu membantu orang yang sedang kesusahan.
Karakter tegas dari budaya guyub adalah solusi, yaitu cerita tentang bagaimana mengatasi masalah sosial secara bersama-sama. Guyub tidak boleh berhenti di tataran riungan, melainkan harus di UP ke level pemecahan masalah sosial. Untuk kasus Karawang hal ini tergambar jelas dalam proses pembangunan Masjid Al-Jihad di Karangpawitan dimana ketika pembangunan terkendala biaya lalu masyarakat Karawang gotong-royong (patungan) mengumpulkan padi untuk dijual agar ada dana untuk pembangunan. Acara Guyub Patungan ini dijumpai juga dalam proses pembangunan Tugu Kebulatan Rengasdengklok Tahun 1950.
Tiga Kearifan lokal Karawang berupa kemandirian pangan, semangat berbagi dan guyub itu sekarang memang sudah nyaris punah ditelan kemajuan jaman dan perkembangan kota. Lebih memprihatinkan lagi di pelosok-pelosok kampong budaya positif tersebut juga sudah sulit dijumpai. Bukan karena budayanya sudah hilang, tetapi karena kita kehilangan inisiator, gagasan, teladan dan pemimpin yang bisa membangun tanpa harus meninggalkan local wisdom masyarakatnya.
