Tapa di Mandala : Ramadhankan Jatisunda

Dalam khazanah Sunda Kuno dikenal istilah Tapa di Nagara dan Tapa di Mandala, yg secara singkat bisa diartikan dalam istilah modern sbg Kesalehan Sosial (Tapa di Nagara) dan Kesalehan Pribadi (Tapa di Mandala).
Tapa di Nagara adalah penerapan nilai2 spiritual dalam konteks publik, ranah sosial-politik (wilayah nagara). Sedangkan Tapa di Mandala adalah implementasi spiritualitas di wilayah keagamaan, dan cenderung personalistik.
Nagara (wilayah sosial politik) dan Mandala (wilayah keagamaan) dalam perspektif Sunda Kuno dianggap wilayah yg berbeda, oleh sebab itu pengelolaannya juga tidak sama. Tapa di Nagara kita bahas di lain tempat.
Tapa di Mandala sederhananya bisa dimaknai sebagai kesalehan, atau ketekunan menjalankan nilai2 agama. Dahulu, agama yg dimaksud adalah Jatisunda dg susunan “syareatnya” yg disebut Purbatisti Purbajati. Kiwari, dikarenakan Jatisunda sbg sebuah pranata sosial-religi yg integral sudah kehilangan elan vitalnya maka orang Sunda dapat mengikuti langkah Brahmesta Pamungkas Pajajaran Resi Tundapura, bahwa jaman sudah berganti dan kini Islamlah agama pilihan Bangsa Sunda. Kalau tidak ingin jadi muslim silahkan pergi ke kulon (Bubuhan Rawayan/ Baduy), begitu kata Wangsit Siliwangi. Jelas dan tegas.
Nah, bagi orang Sunda yg muslim maka Tapa di Mandala nya di jaman yg baru ini saya kira adalah Berislam dg taat, karena Purbajati Purbatisti sbg sebuah Konsepsi Spiritual bukan hanya sudah sudah hilang, tapi juga sulit dikenali spt apa konten-kontennya. Jadi Purbajati Purbatisti seperti apa yg mau dijalankan mayoritas orang Sunda Kiwari ? Kitabnya sdh tidak ada, ajarannya kabur, infrastruktur penunjangnya sdh punah. Tapa di Mandala bagaimana yg bisa dilakukan? Dan inilah yg kemudian diberikan oleh Ajaran Islam, khususnya melalui momentum Romadhon.
Salah satu inti Purbajati Purbatisti diungkapkan dalam peribahasa : keunteul peujit kandeul cileuh. Artinya, kerontang perut karena lapar dan berongga mata karena jarang tidur. Kita tentu tidak mau ungkapan tersebut dialamatkan pada Tradisi Hinduistik/Budhis berupa meditasi siang malam ataupun Pola Samsara (menderitakan diri sendiri), karena seperti di ungkap banyak Naskah dan Tradisi Tutur : Ageuman Sunda itu bukan Hindu ataupun Budha, tetapi Jatisunda.
Nah, pola keunteul peujit kandeul cileuh ala Jatisunda saya kira senapas dg Pesan Ramadhan dimana pada bulan Ramadhan kita diperintah menahan lapar di siang hari (keunteul peujit) dan mengurangi tidur di malam hari (kandeul cileuh).
Saya tidak tahu apa saja yg dilakukan Penganut Jatisunda dahulu saat mereka sedang meng-keunteulkan peujit dan meng-kandeulkan cileuh …… Namun dalam Ramadhan hal itu dilaksanakan dg berpuasa di siang hari, tidak berlebihan makan minum disaat sdh berbuka dan mengurangi secara radikal waktu tidur/istirahat kita dg banyak tilawah dan sujud2 panjang tahajud serta tapa (mengelola raga, rasa dan pikiran) untuk tunduk pada nilai2 agama (Mandala).
Yah, tulisan di atas memang ada pencampuran antara tradisi kuno Jatisunda dg Islam. Tapi di jaman seperti sekarang apa sih yg masih orisinil? Sulit bagi orang Sunda Kiwari utk menjalankan Tapa di Mandala dg meninggalkan prinsip2 Islam karena mereka sendiri pasti bingung menjelaskan apa sih Purbatisti Purbajati? Seperti apa ajaran lengkapnya, pola ibadahnya, etika spiritual nya, kode moralnya dll? Semua itu, menurut saya sudah disajikan secara lengkap dalam Suprastruktur Islam, termasuk Tapa di Mandala melalui Momentum Ramadhan.
Jangan sampai kita ka Jatisunda teu Napak ka Ageuman Anyar te nepi. Jadilah Sunda bangsa yg terombang-ambing kebingungan.

Leave a Comment