Musuh Halus Bangsa Sunda

Anda tahu Pajajaran? Saat masih bernama Nagara Sunda, kerajaan ini terlibat banyak peperangan. Terutama pada fase Sanjaya. Ras Sunda adalah Ras Warrior. Begitu kira-kira.Dan cuplikan komentar Tome Pires di Suma Oriental-nya saya kira juga mendukung hal itu.

Era penuh peperangan banyak mewarnai perjalanan Kerajaan Sunda, terutama ketika ibukota berpusat di Pakuan dan pasca kekuasaan Sri Baduga. Perang dengan Cirebon dan Banten berlangsung panjang. Kondisi peperangan itu berdampak pula pada suasana psikologis Urang Sunda.

Carita Parahiyangan bilang tentang “musuh halus” yang merusak spiritualitas, mental dan loyalitas rakyat Pajajaran. Tapi Rakyat Pajajaran terbukti kuat. Meski digempur secara fisik oleh kampanye militer Caruban dan Banten serta digedor alam batiniah-nya dengan persebaran agama baru, ternyata mereka baru betul-betul kalah 58 tahun kemudian setelah perang pertama pecah tahun 1522 di Tanjung Kalapa.

Suasana jiwa petarung Orang Sunda masih terawetkan pasca runtuhnya Pajajaran dan sebelum masuknya Mataram. Tradisi Pantun Buhun banyak menggambarkan suasana kebatinan mereka. Bahwa dalam suasana damaipun jika penguasa bertindak dzalim maka harus dilawan.
Perlawanan pertama dilakukan dengan diam. Atau diam tapi sambil tersenyum.

Perlawanan fasif. Tetapi jika penguasa semakin dzalim maka mereka akan semakin diam. Bukan diam karena takut, tapi karena sedang bersiap meletupkan perlawanan. Karena itu yang dikhawatirkan dari rakyat bukanlah ketika bersuara, tapi saat mereka diam sediam-diamnya. Begitu menurut kisah buhun.

Dan ketika akhirnya mereka melancarkan perlawanan dengan pengerahan massa dan bikin keributan, hal itu bukan karena mereka ingin menjatuhkan penguasa. Tetapi karena kegaduhan adalah salah satu cara efektif untuk menarik perhatian penguasa supaya betul-betul memperhatikan rakyatnya.

Dan jika kegaduhan itu masih belum berhasil menyadarkan penguasa, maka Orang Pajajaran akhirnya menyerah kepada mangsa atau Papasten Waktu : bahwa mungkin belum masanya mereka memiliki penguasa yang baik dan bijak.

Mereka merasa mungkin itulah masanya Raja Panyelang dan Para Buta memimpin mereka. Secara historis perlawanan bikin kegaduhan ini mungkin saja bisa kita lacak pada kisah Dipati Ukur ataupun perlawanan di era penjajahan. Y

ang jelas dari suasana seperti itulah lahirnya kepercayaan tentang Budak Angon yang diramalkan akan membawa kemenangan melawan para penguasa dzalim yang menindas mereka.

Sayang-nya sikap Pasrah Pada Papasten karena Can Waktu-nya ini yang kemudian mengkebiri Jiwa Petarung Sunda karena pasrah-nya mereka seringkali bukan karena sudah melawan habis-habisan, tapi pasrah sebelum melawan.

Keok samemeh dipacok. Berharap terus pada Utopia Budak Angon. Apakah ini yang terjadi pada Aria Kusumahdinata dan para penguasa selain Dipati Ukur lainnya ? Entahlah.

Di sini di Era Kekinian, rasanya kita perlu memunculkan kembali Semangat ke-Pajajaran-an kita. Tapi entah dengan cara apa.

Leave a Comment