Hari Batik Karawang (?)

Bagaimana sejarah batik di Karawang?

Yaps, kita pernah tergagap dan mungkin sedikit latah juga kalau bicara tentang batik. Terutama di awal 2011-an. Kita ingin menunjukkan bahwa Karawang juga punya batik. Lalu, lahirlah istilah Batik Tarawang. Akronim dari Tarum Karawang sesuai dengan motif awal kembang tarum yang dianggap identik dengan Karawang. Motif pare sagedeng, pesta panen dan lainnya menyusul kemudian.

Sejumlah seniman lokal sebetulnya kurang setuju dengan ide tentang Batik Karawang, dianggap terlalu memaksakan. “Karawang tidak punya sejarah tentang batik!” begitu kira-kira ungkapan mereka.

Bisa jadi seperti itu. Tidak ada literasi dan narasi lokal yang menyebutkan tentang tradisi pem-batik-an di Tanah Karawang. Argumen tentang kain batik (kain mori) keluarga Tan Tjeng Kwat di Rengasdengklok pada dasarnya argumentasi dadakan yang terpaksa harus dimunculkan untuk memperkuat gagasan Batik Karawang.

Tapi okelah. Saya menganggap itu sebagai kreasi budaya kekinian. Kita munculin kain batik, tambah dengan motif-motif khas dan barangkali di sana bisa muncul peluang pengembangan fashion lokal dan industri kreatif. Menarik bukan.

Yah, Karawang memang tidak punya tradisi batik secara an sich. Tapi sebentar. Hal itu bukan berarti kita tidak punya tradisi fashion seperti batik. Karawang dan wilayah Sunda lainnya punya juga tradisi per-kain-an (textile) yang cukup tua sejak era Pajajaran. Industri pewarnaan tarum (indigo) di Karawang pernah cukup booming di masa lalu, meskipun sekarang tidak mudah menemukan satupun batang pohon tarumnya di kota ini.

Pem-batik-an Sunda, sebut saja begitu, telah eksis sejak era Pajajaran. Ahlinya per-kain-an disebut pangeuyeuk. Motif-motif seperti kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat sahurun, anyam cayut, sigeji, dan lainnya adalah pengkreasian seni motif kain masyarakat Pajajaran.

Berdasarkan literasi Babad Karawang, Kreasi kain di Karawang dikenalkan pertamakali oleh Wiraperbangsa dari Galuh. Dia ayah Singaperbangsa, Bupati Karawang Pertama.

Saat di Karawang, Wiraperbangsa menjadikan Kain Karawang sebagai salah satu upeti unggulan untuk Sultan Agung. Kain tersebut yaitu Kain Poleng (Rengganis) atau kain motif kreasi hitam putih. Sekarang kita secara umum mengenalnya sebagai pola kain khas Hindu Bali.

Dan jujur saja, kebanyakan kita mungkin alergi dengan kainnya. Dianggap kain dedemit atau lainnya. Mungkin karena kita lupa belajar sejarah sendiri. Tapi itulah produk fashion Karawang yang pertamakali dikenal secara bergengsi dan jadi persembahan raja. Jadi, nilainya tinggi sekali.

Leave a Comment