Sejarah Masjid Agung Karawang: Dari Pondok Quro hingga Ikon Islam di Tatar Sunda

Di tengah hiruk-pikuk Kota Karawang yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan jejak perjalanan panjang Islam di Jawa Barat. Bangunan itu adalah Masjid Agung Karawang, sebuah masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi simbol sejarah, identitas, dan transformasi budaya masyarakat Karawang selama lebih dari enam abad.
Ketika membicarakan Sejarah Masjid Agung Karawang, masyarakat setempat hampir selalu menghubungkannya dengan sosok Syekh Hasanuddin atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Quro. Nama ulama ini begitu melekat dalam memori kolektif masyarakat Karawang karena diyakini sebagai tokoh yang pertama kali menanamkan benih-benih Islam di wilayah tersebut pada awal abad ke-15. Namun sebagaimana banyak sejarah Islam awal di Nusantara, kisah berdirinya Masjid Agung Karawang berada di antara fakta sejarah, tradisi lisan, naskah babad, dan bukti-bukti arkeologis yang masih terus diteliti hingga sekarang.
Karawang pada abad ke-15 bukanlah daerah pedalaman seperti yang sering dibayangkan banyak orang saat ini. Sebaliknya, wilayah ini merupakan bagian dari jalur perdagangan penting di pesisir utara Jawa. Sungai Citarum yang mengalir dari pegunungan Priangan menuju Laut Jawa menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan. Dalam dokumen Kronologi Sejarah Masjid Agung Karawang disebutkan adanya Pelabuhan Bunut dan Pelabuhan Nagasari yang diduga menjadi pusat aktivitas perdagangan pada masa itu. Lokasi tersebut berada di kawasan yang kini menjadi bagian dari Karawang Kulon dan sekitarnya.
Posisi geografis ini menjadikan Karawang sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai wilayah Asia, termasuk Campa, Malaka, Gujarat, Arab, dan Tiongkok. Para sejarawan modern umumnya sepakat bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung melalui jaringan perdagangan maritim seperti ini. Karena itu, kisah kedatangan Syekh Quro dari Campa tidak dapat dilepaskan dari konteks besar perdagangan internasional di Asia Tenggara pada abad ke-15.
Menurut tradisi yang berkembang di Karawang, Syekh Hasanuddin merupakan putra Syekh Yusuf Sidik, seorang ulama dari Campa. Ia dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an dan qari yang memiliki suara merdu sehingga mendapat julukan “Quro”. Dalam catatan yang dihimpun Dewan Kemakmuran Masjid Agung Karawang, Syekh Quro pertama kali datang ke Pulau Jawa melalui Cirebon sebelum kemudian menuju Karawang dan mendirikan sebuah pesantren pada tahun 1418 Masehi. Pesantren tersebut dikenal sebagai Pondok Quro dan diyakini menjadi cikal bakal Masjid Agung Karawang yang ada sekarang.
Angka tahun 1418 M memiliki arti penting dalam narasi Sejarah Masjid Agung Karawang. Jika tahun tersebut benar, maka Pondok Quro termasuk salah satu pusat pendidikan Islam paling awal di Jawa Barat, bahkan lebih tua dibandingkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon maupun Masjid Agung Demak yang dibangun pada paruh kedua abad ke-15. Namun para peneliti sejarah juga mengingatkan bahwa angka tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut karena belum ditemukan prasasti atau dokumen primer sezaman yang secara langsung menyebutkan pendirian masjid pada tahun tersebut.

Meski demikian, keberadaan tradisi yang konsisten selama berabad-abad menunjukkan bahwa masyarakat Karawang memang menyimpan memori sejarah yang kuat tentang Pondok Quro. Di pesantren inilah, menurut sumber-sumber lokal, berlangsung peristiwa yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah Islam Tatar Sunda, yakni pertemuan antara Nyi Subang Larang dan Raden Pamanah Rasa yang kelak dikenal sebagai Prabu Siliwangi.
Kisah tersebut sudah sangat populer dalam tradisi Sunda. Diceritakan bahwa Raden Pamanah Rasa diutus untuk menutup aktivitas Pondok Quro karena dianggap menyebarkan ajaran yang berbeda dari agama resmi Kerajaan Pajajaran saat itu. Namun sesampainya di pesantren, ia justru terpikat oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nyi Subang Larang, salah seorang santri Syekh Quro. Pertemuan itu berujung pada pernikahan keduanya yang menurut tradisi berlangsung di Pondok Quro dengan Syekh Quro sebagai penghulu.
Bagi masyarakat Karawang, kisah ini memiliki makna simbolis yang sangat besar. Dari pasangan tersebut lahir tokoh-tokoh yang kemudian berpengaruh dalam perkembangan Islam di Jawa Barat, seperti Walangsungsang, Rara Santang, dan Kean Santang. Melalui garis keturunan Rara Santang lahir Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam Islamisasi wilayah Sunda. Walaupun unsur-unsur legenda dan babad sangat kuat dalam cerita ini, banyak peneliti menganggapnya sebagai refleksi dari proses akulturasi antara elite Pajajaran dan komunitas Muslim yang berkembang di pesisir utara Jawa.
Perjalanan Masjid Agung Karawang tidak berhenti pada masa Syekh Quro. Seiring berkembangnya Islam di wilayah Karawang, bangunan awal yang berupa mushala dan pesantren sederhana perlahan berkembang menjadi masjid yang lebih besar. Dokumen sejarah lokal menyebutkan bahwa pada tahun 1633 bangunan tersebut direhabilitasi oleh Adipati Singaperbangsa, tokoh yang dikenal sebagai bupati pertama Karawang. Kemudian pada abad ke-18, bangunan masjid kembali diperbaiki oleh Raden Muhammad Soleh atau Panatayuda IV yang menjabat sebagai Bupati Karawang pada periode 1752–1786.

Perubahan terbesar terjadi pada abad ke-20. Pada tahun 1954 dilakukan pembangunan bagian depan masjid oleh masyarakat bersama pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati R. Tohir Mangkudidjojo. Perluasan kembali dilakukan pada tahun 1968 untuk menampung jamaah yang terus bertambah. Bangunan lama yang selama berabad-abad menjadi saksi sejarah akhirnya mengalami pemugaran besar pada tahun 1990. Pemugaran tersebut dipimpin oleh Bupati H. Sumarno Suradi dan selesai pada tahun 1994 ketika Masjid Agung Karawang diresmikan kembali oleh Gubernur Jawa Barat R. Nuriana.
Wajah Masjid Agung Karawang yang kita lihat saat ini merupakan hasil dari proses panjang tersebut. Bangunan modern berukuran sekitar 35 x 35 meter berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.800 meter persegi. Meski mengalami modernisasi, unsur arsitektur tradisional tetap dipertahankan. Atap limasan bertingkat tiga yang menjadi ciri khas masjid melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Bentuk ini mengingatkan pada arsitektur masjid-masjid kuno Nusantara yang berkembang sebelum pengaruh kubah Timur Tengah menjadi dominan.
Selain bangunan utama, sejumlah peninggalan lama masih tersimpan sebagai bukti material perjalanan sejarah masjid ini. Dokumen DKM mencatat keberadaan potongan balok kayu tiang utama, batu umpak, kayu atap, jam duduk tua, podium, dan berbagai komponen bangunan lama yang diselamatkan saat pemugaran. Benda-benda tersebut menjadi artefak penting yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan masjid yang pernah berdiri berabad-abad sebelumnya.
Di sekitar kawasan yang diyakini sebagai pelabuhan kuno Karawang juga ditemukan berbagai temuan arkeologis seperti kapak batu neolitik, pecahan keramik, uang logam VOC, uang Gulden, dan situs makam tua yang dikenal sebagai Makam Embah Dalem. Temuan-temuan ini memang tidak secara langsung membuktikan usia Masjid Agung Karawang, tetapi menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah lama menjadi pusat aktivitas manusia dan perdagangan sejak masa lampau.

Dalam perkembangan mutakhir, Masjid Agung Karawang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Sepanjang periode 2015–2022, berbagai pemberitaan media lokal dan nasional menunjukkan bahwa masjid ini telah berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan wisata religi di Kabupaten Karawang. Pemerintah daerah secara berkala melakukan penataan kawasan Alun-Alun Karawang dan lingkungan masjid untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon kota. Berbagai kegiatan seperti peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, program sosial kemasyarakatan, hingga wisata sejarah Islam menjadikan masjid ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Namun demikian, pendekatan historiografi modern mengharuskan kita membedakan antara tradisi dan fakta sejarah. Banyak bagian dalam Sejarah Masjid Agung Karawang berasal dari babad, silsilah keluarga, dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Narasi tentang Syekh Quro, Nyi Subang Larang, dan Prabu Siliwangi memiliki nilai budaya yang sangat penting, tetapi sebagian detailnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut menggunakan metode sejarah, arkeologi, filologi, dan kajian naskah yang lebih mendalam. Di sisi lain, keberadaan Pondok Quro sebagai salah satu pusat awal penyebaran Islam di Karawang memiliki dasar tradisi yang sangat kuat dan didukung oleh keberadaan situs-situs sejarah yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Pada akhirnya, Sejarah Masjid Agung Karawang bukan hanya kisah tentang sebuah bangunan. Ia adalah cerita mengenai perjumpaan berbagai budaya di pesisir utara Jawa, tentang para pedagang dan ulama yang membawa ajaran baru, tentang masyarakat Sunda yang mengalami transformasi keagamaan secara bertahap, dan tentang bagaimana sebuah pesantren kecil di tepi jalur perdagangan berkembang menjadi salah satu simbol Islam terpenting di Jawa Barat.
Selama lebih dari enam abad, Masjid Agung Karawang telah melewati masa kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, hingga era modern. Bangunannya boleh berubah, tetapi fungsinya sebagai pusat kehidupan umat tetap bertahan. Di balik dinding-dinding yang kini tampak megah, tersimpan jejak panjang perjalanan sejarah yang terus menghubungkan Karawang masa kini dengan akar peradabannya yang jauh di masa lalu.

