Setiap kota punya nama. Dan setiap nama punya cerita yang sering kali jauh lebih menarik dari yang diajarkan di sekolah.
Kalau kamu pernah cari tahu asal-usul nama Bekasi, hampir pasti kamu akan menemukan jawaban yang sama di mana-mana: nama ini berasal dari kata Chandrabhaga — nama sungai dalam Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Kata itu lalu berubah jadi Bhagasasi, disingkat jadi Bhagasi, dieja Belanda jadi Bacassie, dan akhirnya lahirlah “Bekasi.”
Rapi. Logis. Dan sudah diterima begitu lama sampai tidak ada yang berani mempertanyakannya.
Tapi tunggu dulu.
Ada cerita lain yang sudah jauh lebih lama hidup di tanah ini — bukan di prasasti, bukan di buku teks, tapi di lidah para juru pantun Sunda yang menuturkannya turun-temurun, dari generasi ke generasi, jauh sebelum huruf dianggap perlu.
Cerita tentang seorang raja bernama Bakasida. Tentang sebuah kerajaan bernama Kuta Tambaga. Dan tentang seorang putri yang — karena dikejar-kejar dan tidak punya tempat lagi untuk lari — berubah menjadi seekor burung rawa.
Dulu, Bekasi adalah Lautan Rawa
Sebelum masuk ke kisah raja dan putri itu, ada satu hal yang perlu kamu bayangkan dulu: Bekasi zaman dulu itu sama sekali tidak seperti Bekasi sekarang.
Tidak ada jalan tol. Tidak ada perumahan yang berderet sampai horizon. Tidak ada asap pabrik.
Yang ada adalah rawa. Rawa. Dan lebih banyak rawa.
Secara geologis, kawasan Bekasi dan Karawang adalah dataran rendah aluvial — tanah endapan lumpur dari sungai-sungai besar yang mengalir ke Laut Jawa. Ribuan tahun lalu, banyak bagian wilayah ini masih berupa genangan permanen, telaga luas, dan hamparan rawa yang membentang tanpa ujung yang jelas.
Dalam tradisi lisan Sunda, ini bukan sekadar perkiraan geologis — ini kenangan yang masih diingat. Pantun-pantun kuno menyebut kawasan ini pernah menjadi “telaga yang sangat luas selama ratusan tahun”, sebelum perlahan-lahan surut jadi rawa-rawa besar, lalu menjadi daratan.
Dan memori itu tidak hilang. Sampai hari ini, nama-nama kampung dan kawasan di Bekasi masih menyimpan jejak geografis purba itu: Rawa Tembaga, Rawa Gede, Rawa Bacin, Rawa Menembe… puluhan nama yang semuanya berawalan “Rawa.” Bukan kebetulan. Itu adalah ingatan yang terukir dalam peta.
Di dunia rawa inilah, jauh sebelum ada kerajaan Hindu-Buddha, ada manusia yang sudah hidup, berdagang, dan membangun peradaban.
Sebelum Tarumanagara, Ada Orang-orang Buni
Ini bagian yang jarang masuk ke pelajaran sejarah SMP — padahal buktinya nyata dan tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Di Kampung Buni Pasar Emas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, ada sebuah situs arkeologi yang namanya cukup terkenal di kalangan akademisi: Situs Buni. Di sinilah, pada 1958, seorang warga bernama Dogol sedang bikin parit sawah ketika cangkulnya menghantam sesuatu yang keras. Setelah digali: tulang belulang manusia, lengkap dengan perhiasan emas di sekitarnya.
Masyarakat setempat langsung heboh. Penggalian liar merajalela selama bertahun-tahun — orang-orang mencari emas, dan karena begitu banyak transaksi jual-beli emas di sana, kampung itu pun dapat julukan baru: Kampung Buni Pasar Emas.
Tapi bagi para arkeolog, yang menarik bukan emasnya. Yang menarik adalah keseluruhan konteksnya: tembikar dengan motif geometris khas, beliung batu, artefak perunggu dan besi, manik-manik dari berbagai bahan — dan yang paling mengejutkan, piring keramik dari Arikamedu, sebuah kota pelabuhan di India Selatan.
Itu artinya: ribuan tahun lalu, orang-orang yang tinggal di tepi rawa Bekasi ini sudah berdagang langsung dengan India. Bukan karena ada kerajaan besar yang mengatur. Bukan karena ada raja Hindu yang memerintah. Tapi karena mereka adalah pelaut dan pedagang yang punya jaringan.
Kebudayaan ini dikenal sebagai Kebudayaan Buni, diperkirakan berkembang antara 400 SM hingga sekitar 500 Masehi. Prof. Hasan Djafar dari UI menyimpulkan bahwa temuan di Buni menunjukkan kesinambungan peradaban dari zaman prasejarah akhir sampai ke masa Tarumanagara. Sejarawan Bekasi Ali Anwar bahkan lebih tegas: “Tarumanagara merupakan puncak peradaban Buni yang berlangsung selama ratusan tahun.”
Intinya: ketika Tarumanagara datang, tanah ini sudah berpenghuni. Sudah berperadaban. Dan sudah punya nama sendiri.
Kuta Tambaga: Kerajaan yang Hidup dalam Pantun
Nah, di sinilah cerita mulai masuk ke wilayah yang lebih gelap — dalam arti: lebih sedikit yang tertulis, lebih banyak yang hanya dituturkan.
Dalam tradisi lisan Sunda, ada beberapa pantun buhun (pantun kuno) yang menyebut sebuah kerajaan bernama Kuta Tambaga. Salah satunya adalah pantun berjudul Ngadegna Nagara Pajajaran, yang juga dikenal dengan nama Pakujajar Bekah Kembang. Pantun lain yang menyebutnya adalah Budak Pamalang.
“Kuta Tambaga” kalau diterjemahkan kira-kira berarti “benteng tembaga” atau “kota tembaga”. Menarik, bukan? Rawa Tembaga di Bekasi. Kuta Tambaga sebagai nama kerajaan. Sepertinya ada benang merah di sini yang menunggu untuk ditarik.
Menurut pantun-pantun itu, kerajaan ini bermula dari hulu Sungai Cipamingkis, dirintis oleh seorang leluhur Sunda bernama Ki Lutung (atau Aki Balangantrang). Ki Lutung ini dikisahkan sebagai orang yang pandai berlayar — ia mendirikan pelabuhan besar di kawasan yang kelak dikenal sebagai Rawa Gede, di perbatasan Bekasi dan Karawang. Dari pelabuhan itu, kapal-kapalnya mengarungi lautan.
Sekarang, dengan pengetahuan tentang Situs Buni dan kontak dagangnya dengan India — gambaran ini tiba-tiba tidak terasa seperti fiksi, bukan?
Dugaan lokasi pusat Kuta Tambaga ada di kawasan Pasir Puntang–Pangkalan, di perbatasan Bekasi dan Karawang Selatan. Di sana konon ada jejak bebatuan berundak yang menyerupai pondasi bangunan kuno, meski belum ada penggalian arkeologi serius yang dilakukan di sana. Tradisi pantun lain yang lebih spesifik menyebut lokasi di sepanjang Sungai Cigeuntis dan Cibeet yang melintasi kawasan Sanggabuana — dan ada yang meyakini bahwa ketika Tarumanagara runtuh pada abad ke-7, sebagian keluarga istana yang tersisa justru mengungsi ke pegunungan Sanggabuana dan mendirikan kerajaan Sunda kecil di sana.
Apakah Kuta Tambaga benar-benar ada sebagai entitas politik? Belum bisa dipastikan. Penelitian arkeologi yang serius untuk membuktikannya belum pernah dilakukan. Tapi fakta bahwa kerajaan ini disebut dalam beberapa pantun berbeda, dari konteks cerita yang berbeda-beda pula, membuat banyak peneliti tidak mau begitu saja menganggapnya sebagai dongeng kosong belaka.
Raja Bakasida dan Putri yang Tidak Punya Tempat Lari
Sekarang kita sampai ke inti cerita.
Di antara penguasa-penguasa Kuta Tambaga, ada satu nama yang terus muncul: Raja Bakasida. Ia disebut sebagai salah satu penerus kerajaan ini — memerintah di masa ketika pengaruh Tarumanagara sudah mulai membesar dan merambah ke wilayah-wilayah sekitarnya.
Dan di masa Raja Bakasida inilah konflik itu terjadi.
Menurut tradisi lisan Sunda, dalam sebuah narasi yang dikenal sebagai Sasakala Burung Baka (asal-mula burung baka), putri dari keluarga Raja Bakasida dikejar-kejar oleh para pendatang dari India yang datang bersama gelombang pengaruh Tarumanagara. Larinya kemana-mana, tapi tidak ada tempat yang benar-benar aman. Sampai akhirnya — dalam kesedihan dan kepasrahan yang total — sang putri berubah wujud. Ia menjelma menjadi seekor burung baka, burung yang hidup di rawa-rawa, dan terbang pergi meninggalkan tanah yang sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Ada versi pantun lain dari keluarga kerajaan Kuta Tambaga yang kisahnya mirip secara tone meski berbeda tokoh: seorang laki-laki dari India bernama Wangsa Damba datang ke Kuta Tambaga, jatuh cinta pada perempuan bernama Arum Sugara, lalu memperdayai suaminya sampai mati di Sungai Cibeet. Ketika orang-orang Kuta Tambaga mengejarnya, Wangsa Damba lari ke Pelabuhan Kalapa — tempat kaumnya tinggal — meminta bantuan. Tapi kaumnya sendiri menolak, karena membantu dia berarti perang dengan orang Sunda.
Dua kisah yang berbeda tokoh, tapi satu tema yang sama: kedatangan orang luar, konflik, dan kekalahan pihak yang sudah lebih dulu ada di sana.
Itu bukan hanya dongeng. Itu adalah cara masyarakat mengingat dan menceritakan pergolakan politik dan kultural yang nyata — ketika satu gelombang peradaban menyapu yang sudah ada sebelumnya.
Burung Baka: Makhluk Rawa yang Membawa Luka Sejarah
Satu pertanyaan yang wajar muncul: burung apa sebenarnya yang disebut “baka” dalam kisah ini?
Di ekosistem rawa Jawa Barat, ada beberapa burung yang paling ikonik. Yang paling mungkin adalah Cucak Rawa — yang dalam bahasa Sunda disebut cangkurawah. Burung ini memang khas rawa-rawa dataran rendah Jawa Barat: suaranya keras dan merdu, kerap sahut-menyahut di antara rerumputan rawa, dan dulunya sangat umum ditemui di kawasan seperti yang pernah menjadi Bekasi kuno.
Sayangnya, sekarang cucak rawa hampir punah dari Jawa. Perburuan besar-besaran sejak tahun 1980-an membuat burung ini kini berstatus Vulnerable (Rentan) dalam daftar IUCN. Di Jawa, populasinya sudah dianggap nyaris hilang. Yang dijual di pasar burung kebanyakan didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan.
Bisa jadi, “baka” juga merujuk pada bangau atau kuntul — burung air berleher panjang yang juga sangat umum di rawa-rawa pesisir Jawa Barat. Dalam banyak mitologi Asia Tenggara, bangau adalah simbol dunia lain, transformasi, dan perjalanan jiwa.
Apapun identitas aslinya, satu hal yang tidak bisa dibantah: burung baka adalah burung rawa. Dan dipilihnya burung rawa sebagai simbol transformasi sang putri bukan kebetulan. Rawa adalah dunia yang paling dekat dengan identitas Bekasi sejak zaman purba. Sang putri tidak hilang ke gunung atau ke laut — ia melebur ke dalam ekosistem yang paling hakiki dari tanah itu.
Ada puisi dalam logika itu, kalau kamu mau melihatnya.
Lalu Apa Hubungannya dengan Nama “Bekasi”?
Sekarang kita ke bagian yang paling menarik: mengapa semua ini relevan untuk pertanyaan soal nama?
Coba perhatikan deretan kata ini:
Bakasida → Baka → Bakasi → Baccasie → Bekasi
Kalau kamu bandingkan dengan jalur resmi versi Poerbatjaraka:
Chandrabhaga → Bhagasasi → Bhagasi → Bacassie → Bekasi
Dua jalur yang berbeda. Dua titik awal yang berbeda. Tapi bermuara ke satu nama yang sama.
Sejumlah budayawan lokal, di antaranya Rakean Minda Kalangan dan Prof. Ekadjati — sejarawan Sunda terkemuka dari Universitas Padjadjaran — sudah lama menyuarakan kegelisahan yang sama: tafsiran Poerbatjaraka perlu dikaji ulang. Bukan berarti Poerbatjaraka salah — prasasti Tugu itu nyata, Chandrabhaga itu nyata — tapi kemungkinan bahwa nama “Bekasi” punya akar yang lebih tua dan lebih lokal dari sekadar alih-bunyi dari kata Sansekerta, itu juga terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
Pertimbangkan ini: jika Kuta Tambaga memang lebih tua dari Tarumanagara seperti yang diindikasikan pantun, maka nama “Baka” atau “Bakasi” untuk kawasan ini mungkin sudah ada sebelum Tarumanagara datang. Ketika Tarumanagara kemudian hadir dan memberi nama Sansekerta “Chandrabhaga” pada sungai di wilayah itu, nama asli lokalnya mungkin tetap hidup di mulut rakyat — dan dari pertemuan dua nama itulah, entah bagaimana, lahirlah “Bekasi” yang kita kenal sekarang.
Ini bukan teori gila. Dalam linguistik dan kajian toponimi, nama tempat yang berasal dari perpaduan dua bahasa atau dua tradisi penamaan adalah hal yang sangat umum — terutama di wilayah-wilayah yang pernah mengalami kontak dan akulturasi budaya yang intens.
Yang Tertulis dan Yang Dituturkan
Ada satu pertanyaan yang lebih besar di balik semua ini, dan mungkin ini yang paling penting.
Kita cenderung lebih percaya pada yang tertulis. Prasasti adalah bukti. Buku adalah fakta. Sedangkan pantun, cerita rakyat, tradisi lisan — itu dongeng, itu mitos, itu tidak bisa dipegang.
Tapi siapa yang bilang begitu?
Di banyak bagian dunia, termasuk Nusantara, tradisi lisan adalah satu-satunya cara masyarakat menyimpan sejarah sebelum tulisan datang — atau bagi mereka yang tidak punya akses ke tulisan. Pantun Sunda bukan sekadar hiburan. Ia adalah arsip. Ia adalah cara seorang nenek menceritakan kepada cucunya: inilah yang pernah terjadi, inilah yang tidak boleh dilupakan.
Ketika pantun menyebut Kuta Tambaga, Raja Bakasida, dan burung baka, ia tidak sedang bercerita tentang negeri khayalan. Ia sedang merekam ingatan tentang sesuatu yang pernah nyata — mungkin tidak persis seperti yang diceritakan, tapi ada kernel sejarah di dalamnya yang menunggu untuk ditemukan.
Dan di sinilah masalahnya: karena kita terlalu lama hanya mendengarkan satu versi, kita tidak tahu apa yang mungkin tertinggal di balik versi yang lain.
Penutup: Bekasi, Nama yang Belum Selesai Bercerita
Jadi, dari mana nama Bekasi berasal?
Mungkin dari Chandrabhaga. Mungkin dari Bakasida. Mungkin dari keduanya sekaligus. Mungkin dari sesuatu yang lain yang bahkan belum kita temukan petanya.
Yang jelas, tanah ini sudah berpenghuni sejak ribuan tahun sebelum Tarumanagara berdiri. Orang-orang Buni sudah berdagang dengan India, sudah menguburkan orang mati dengan perhiasan emas, sudah membangun komunitas di tepi rawa-rawa yang sekarang tinggal namanya saja.
Di atas warisan itu, mungkin ada Kuta Tambaga. Di atas Kuta Tambaga, datang Tarumanagara. Di atas Tarumanagara, datang Pajajaran. Lalu VOC, lalu Hindia Belanda, lalu Indonesia merdeka, lalu kota industri yang sesak dan ramai seperti sekarang.
Bekasi adalah kota berlapis. Dan namanya — pendek, biasa, sering jadi bahan lelucon — mungkin menyimpan lebih banyak cerita dari yang pernah kita sangka.
Suatu hari, mungkin ada yang mau menggali Pasir Puntang dengan serius. Mungkin ada prasasti lain yang belum ditemukan. Mungkin ada pantun yang masih tersimpan di ingatan seorang kakek tua di pelosok Karawang selatan yang belum sempat dicatat.
Sampai saat itu, kita punya dua cerita yang berjalan berdampingan: cerita yang tertulis di batu, dan cerita yang hidup di udara.
Keduanya mungkin sama-sama benar.
Sumber yang digunakan dalam artikel ini meliputi: Prasasti Tugu (peninggalan Tarumanagara, abad ke-5 M); tafsiran Poerbatjaraka dalam Jurnal Patanjala Vol. 6 No. 3 (2014); penelitian arkeologi Situs Buni oleh Lembaga Purbakala (1960–1970); tulisan Prof. Hasan Djafar tentang Kebudayaan Buni dan Tarumanagara; Ali Anwar, Sejarah Kabupaten Bekasi; pantun buhun Ngadegna Nagara Pajajaran dan Budak Pamalang; serta pandangan budayawan Rakean Minda Kalangan dan Prof. Ekadjati tentang alternatif tafsir nama Bekasi.