Sejak tahun 2010 saya ikut menangani promosi kepariwisataan Karawang, dan sampai sekarang masih berlanjut beserta kajian mandirinya.
Jadi sedikit banyak sebagai seorang amatir saya pahamlah tentang dinamika pariwisata lokal. Ada suatu pola dalam kepariwisataan lokal yang saya temukan selama 10 tahun terakhir.
Pola itu berpa tumbuh matinya destinasi wisata berbasis kemandirian dan kreasi warga. Baik yang bersifat swadaya seperti wisata desa ataupun yang nyerempet kapitalis seperti wisata bikinan pemodal. Saya sebut ini destinasi kreasi mandiri. Pelakunya biasanya pemerintah desa, karang taruna, pengusaha menengah atau kelompok komunitas.
Tahun 2010 yang pertama mencuat adalah wisata kreasi yang diinisiasi pengusaha alam sari. Saya kebetulan beberapakali interview dengan para stakeholder di dalamnya untuk mengetahui motivasi dan visi wisata seperti itu.
Sepanjang 2015-2020 muncul juga beberapa wisata kreasi lainnya baik yg berbasis alam ataupun inovasi lingkungan seperti Grand Canyon, Batu Purba, Goa Dayeuh, Pohon Miring, Kebon Kembang, Danau Hijau, Danau Eceng, dan bebrapa lainnya. Saya masukan juga ke dalamnya seperti Tanjung Baru, Cikeong, Pantai Mutiara, Pantai Pelangi, dan banyak lagi.
Pola yang saya lihat, wisata-wisata kreasi seperti itu ternyata bersifat musiman. Awalnya ramai bahkan viral, tapi kemudian tenggelam. Kalaupun bertahan maka statusnya berubah dari destinasi wisata potensial jadi destinasi biasa/ standar. Padahal dari segi potensi lumayan besar. Itu hampir terjadi di seluruh Karawang.
Kenapa bisa begitu? Jawaban paling mudah, gampang dan simple adalah menyalahkan pemerintah yang dinilai tidak mendukung/ kurang support. Bisa jadi seperti itu. Tapi tidak cukup. Mungkin kita juga harus menyalahkan para pengelolanya. Masa sih? Iya! Pada ummnya para pengelola wisata kreasi cenderung bergerak secara spontan. Tidak ada manajemen yang baik dan solid di dalamnya baik menyangkut kepemilikan asset, koordinasi lingkungan, konsep promosi, pelayanan pengunjung dan marketing.
Termasuk juga minimnya kolaborasi dengan pihak-pihak eksternal. Pokoknya munculkan saja, kelola apa adanya, promosi sebisanya lalu tunggu pengunjung datang. Seperti itu biasanya. Dalam 1-2 tahun akhirnya kebanyakan mati atau stagnan.
Pada akhirnya kalau bicara pariwisata Karawang ujung-ujungnya kita kembali ke Cigeuntis, Walahar, Cipule, Djiau Kie Song Dengklok, Pakis atau wisata modern milik kaum pemodal besar model waterpark dan sejenisnya.
Dimana wisata-wisata kreasi tadi yang diinisiasi para pemuda desa dan komunitas? Jarang berumur panjang meskipun di awal kemunculannya biasanya suka heboh, seheboh-heboh-nya.
Pariwisata itu perjuangan jangka panjang. Perlu napas panjang dan konsistensi luar biasa. Modal juga tidak bisa balik secara cepat. Kuncinya adalah kolaborasi. Idealnya kolaborasi itu difasilitasi oleh organ seperti Konpepar, Pokdarwis ataupun instansi terkait. Itu sebabnya kita komunitas Karawang terutama yang berhubungan dengan kepariwisataan, perlu berhimpun dalam sebuah organ kreatif. Kalau tidak, berdasarkan banyak kajian bisa cepat kehabisan tenaga dan sumber daya.
Sementara destinasi yang sudah solid seperti Cigeuntis, Walahar, Cipule ataupun Rumah Dengklok dan Rawagede itu sudah alamiah perkembangannya seperti halnya wisata religi. Biarpun pemerintah dan komunitas tidak urus, potensi wisatanya tidak akan berkurang. Hanya skala kemajuannya saja yang terdampak.
Beda dengan wisata kreasi tadi, saat kelompok warga/komunitas dan pemerintah abai maka langsung good bye.
Sekali lagi kolaborasi itu penting di era kekinian. Dan bicara kolaborasi keyword-nya tidak jauh-jauh dari pemerintah, swasta dan ekosistem komunitas.
