Terbit sebagai salah satu karya literasi yang mengangkat sejarah lokal Priangan, novel Satria Kabuyutan hadir membawa pembaca kembali ke abad ke-16, sebuah periode krusial dalam perjalanan Tatar Sunda.
Priangan pada abad 16 berada pada titik paling krusial dalam sejarahnya. Setelah runtuhnya Pajajaran, Priangan dikepung oleh tiga kekuatan politik yang kuat yakni Mataram, Banten dan VOC. Perubahan melanda seluruh Priangan dari mulai Galuh, Sumedang Larang, Sukapura, Timbanganten, Krawang dan seluruh daerah lainnya yang berada di Tatar Ukur.
Dan dibalik kesunyian Hutan Larangan Kuta Tandingan, sebuah Mandala Kabuyutan Sunda Kuno berusaha bertahan di tengah arus perubahan jaman.
Dalam khidmat mantera, harupat dan tumpukkan lembaran naskah lontar dan gebang, Kabuyutan bukan hanya menjadi benteng terakhir pertahanan ajaran Jatisunda dari desakan ajaran Islam, tapi juga berfungsi sebagai sebuah skriptorium atau lembaga pengetahuan, yang mengawetkan berbagai ilmu pengetahuan Manusia Sunda dari generasi ke generasi.
Namun, setelah mampu bertahan dari desakkan ajaran Islam yang disebarkan Syeh Quro di Tanjungpura tiga abad sebelumnya, kini Kabuyutan Kuta Tandingan harus berhadapan dengan kekuatan militer Kesultanan Banten yang merangsek ke Citarum setelah tunduknya Sumedang Larang pada Mataram tahun 1620. Gawatnya, salah seorang perwira telik sandi Banten yang bertugas di Citarum, juga membawa misi dari gurunya yang pernah ikut meluluhlantakkan Dayeuh Pakuan, untuk menumpas habis sampai ke akar Keyakinan Jatisunda di wilayah Priangan, yang dianggapnya bakal menghambat penyebaran agama anyar dari seberang.
Agama Jatisunda harus lestari dan Kabuyutan harus tetap bertahan, kata murid-murid Kabuyutan. Dan untuk itu maka sebuah perjalanan berbahayapun ditempuh oleh mereka.
Di bawah pimpinan seorang Kai Raga, Pujangga Sunda Kuno. Mereka memulai pencarian ke berbagai Kabuyutan Sunda untuk menemukan Kitab Suci Jatisunda yang diharapkan akan dapat mempertahankan keyakinan Jatisunda, dan bisa melewati perubahan jaman yang menderu di setiap jengkal wilayah Priangan.
Pergolakan politik, agama, budaya, pencarian jatidiri dan ganasnya rimba persilatan berpadu dalam lara kasih tak sampai seorang Pujangga Sunda Kuno.
_____________________________________________________
“Buku ini merupakan karya literasi yang menarik dan perlu dibaca oleh Masyarakat Jawa Barat, khususnya Generasi Muda (Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat)
“Novel Satria Kabuyutan bukan hanya menyajikan cerita yang menarik, tapi juga menggetarkan. Bermanfaat untuk membangun Semangat Kasundaan pada Generasi Muda.” (Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta)
“Novel berlatar sejarah lokal yang akan mengisi rak kesusastraan Indonesia. Penulisnya mahir meramu teks buhun dengan gaya bahasa kekinian.” (Pungkit Wijaya – Penulis Buku Rawayan)
“Kalau Tetralogi Buru karya Pram ibarat film Titanic yang megah dan rasional, maka novel ini adalah Crouching Tiger Hidden Dragon yang imaginatif dan memukau. Satria Kabuyutan bukan sekadar novel.” (Ust. Solehudien, Aktivis Islam)
