Tradisi pantun menuturkan bahwa di kalangan masyarakat Sunda kelak akan muncul segolongan “dukun-dukun gebleg”—yakni orang-orang berilmu yang mengaku sebagai penyebar kabar dari langit. Mereka mengklaim mengetahui berita dari Mandala, kejadian masa depan, hingga hal-hal gaib melalui perantara yang disebut karuhun.
Padahal, dalam keyakinan tradisi itu sendiri, karuhun justru mengutuk perilaku semacam ini. Sebab, pekerjaan mereka pada hakikatnya adalah membohongi orang lain dengan memanfaatkan pengetahuan tentang dunia maya (ghaib). Oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk mampu membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan—berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar kepercayaan.
Dalam konteks ini, kemampuan analisa sebenarnya telah menjadi bagian dari DNA masyarakat Sunda. Hal tersebut tercermin dalam berbagai babasan (ungkapan tradisional) yang mengajarkan kebijaksanaan, kehati-hatian, dan kecermatan dalam menyikapi sesuatu. Tradisi Sunda tidak pernah mengajarkan kepasrahan yang buta, melainkan mendorong sikap eling dan waspada.
Jika terhadap kabar yang bersifat spiritual saja kita dituntut untuk bersikap kritis, maka terlebih lagi terhadap informasi lain—seperti politik, sosial, maupun isu-isu yang sifatnya bungkeuleukkan (membingungkan dan mudah memancing emosi). Dalam era yang dipenuhi arus informasi seperti sekarang, sikap kritis menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam manipulasi, hoaks, atau kepentingan tersembunyi.
Dengan demikian, menjadi Sunda bukan hanya soal identitas budaya, tetapi juga tentang cara berpikir. Sunda adalah masyarakat yang kritis, yang tidak mudah dibodohi, dan yang mampu menimbang segala sesuatu dengan akal sehat dan pengetahuan.
Karena itu, pesan yang hendak ditegaskan sederhana namun penting: jangan mau terus dibobodo. Jadilah bagian dari masyarakat Sunda yang sadar, berpikir jernih, dan mampu menjaga warisan kebijaksanaan leluhur di tengah tantangan zaman.
