Menanti Asa Institusi Poilitik Sunda

Pada abad ke-18, seorang peneliti Belanda pernah mencatat kesedihan orang-orang Sunda dan kerinduan mereka pada tanah airnya yang hilang, yaitu Pajajaran.

Sejak institusi politik Sunda runtuh, orang Sunda bukan hanya merasakan kehilangan secara emosional, tetapi juga mengalami kemunduran budaya yang luar biasa akibat dominasi kebudayaan lain seperti Mataram (Jawa), Melayu, hingga budaya Barat.

Kehilangan itu bukan sekadar hilangnya kekuasaan, melainkan juga melemahnya ruang hidup bagi kebudayaan untuk tumbuh dan berkembang secara utuh.

Dukungan politik memang menjadi salah satu penopang penting bagi ajeg dan terawatnya khazanah budaya. Ketika dukungan itu melemah, maka sebesar apa pun potensi budaya yang dimiliki suatu daerah akan sulit berkembang. Dalam konteks ini, Karawang menjadi contoh yang cukup jelas.

Tidak sedikit orang Karawang sendiri yang melihat Purwakarta sebagai daerah yang lebih berbudaya, padahal jika ditelusuri, khazanah budaya Karawang justru sangat melimpah dan tersebar luas.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Persoalannya terletak pada lemahnya dukungan politik terhadap kebudayaan di Karawang. Para pemangku kebijakan masih cenderung memandang budaya sebatas seni pertunjukan atau acara panggung. Akibatnya, keberpihakan terhadap pemajuan kebudayaan lokal menjadi minim.

Hal ini terlihat dari kurangnya apresiasi, kecilnya alokasi anggaran, hingga tidak adanya penyertaan objek kebudayaan dalam konsep tata kota dan pembangunan daerah. Wajah Karawang pun belum mencerminkan kekayaan budaya yang dimilikinya.

Untuk beberapa hal, kondisi ini mungkin bisa dipahami. Sejak Sunda kehilangan lembaga politiknya, definisi, instrumen, dan cara pandang terhadap kebudayaan lokal memang menjadi kabur. Banyak elemen kebudayaan Sunda yang hilang atau terasa asing bagi generasi sekarang.

Pada akhirnya, yang tersisa dan paling dikenal luas hanyalah kebudayaan yang bercorak seni pertunjukan. Padahal, kebudayaan jauh lebih luas dari itu—ia hidup dalam nilai, ruang, bahasa, ingatan kolektif, dan cara masyarakat memaknai kehidupannya sehari-hari.

Leave a Comment