Tantangan Kebudayaan Sunda Di Era Urban

Kebudayaan dalam perspektif saya adalah gugusan konsepsi khas kahirupan secara total, bukan hanya hadir sebagai tontonan di atas panggung ataupun menjadi riuh dalam keramaian, melainkan sesuatu yang seharusnya hidup dan menyatu dalam berbagai lini kehidupan.

Ia perlu hadir di layar android, di sudut-sudut kota, di ruang-ruang rapat pemerintahan, bahkan sampai ke mimbar sebuah masjid. Ketika kebudayaan sudah mencapai titik itu, maka ia tidak cukup diperjuangkan hanya dengan simbol-simbol tradisional seperti iket dan kemenyan, tetapi juga melalui pakarang dan lontar, melalui tarian dan demonstrasi, melalui arsitektur dan bahasa, bahkan lewat tandatangan dan regulasi.

Namun persoalan yang sering muncul adalah kebingungan kita sendiri dalam menentukan kebudayaan seperti apa yang sebenarnya hendak diperjuangkan. Kebudayaan Sunda, misalnya, jika menengok pada Naskah Karesian, sesungguhnya telah merangkul berbagai instrumen pola budaya yang dapat diterapkan dalam beragam bidang kehidupan. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang sempit, melainkan luas dan memiliki kerangka nilai yang bisa dihidupkan kembali sesuai kebutuhan zaman.

Di sisi lain, berbicara mengenai kebudayaan Islam justru menghadirkan tantangan yang lebih kompleks. Kita dituntut untuk mampu membedakan mana aspek yang harus tunduk sepenuhnya kepada wahyu dan mana yang bersifat fleksibel, yang dapat menyesuaikan diri dengan konteks zaman, waktu, dan lingkungan.

Pemahaman ini bukan sesuatu yang sederhana, dan seorang budayawan modern setidaknya harus memiliki kapasitas minimal untuk membaca batas-batas tersebut. Dari sini tampak bahwa klasifikasi seorang budayawan pada hakikatnya tidaklah mudah, bahkan dalam beberapa hal bisa lebih kompleks daripada gelar ustadz.

Akan tetapi, di tengah kompleksitas itu, muncul kesan yang cukup problematik di masyarakat, seolah-olah budayawan adalah antitesis dari ustadz, kiai, atau ulama.

Lebih jauh lagi, penyematan gelar budayawan kerap dilakukan dengan begitu mudah, tanpa pertimbangan kedalaman pemahaman atau kontribusi nyata terhadap kebudayaan itu sendiri. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, budayawan sejati adalah mereka yang mampu menjembatani nilai, menjaga akar tradisi, sekaligus membaca arah perubahan zaman—bukan sekadar label yang disematkan secara serampangan.

Leave a Comment