Adat Karawang Gede Bacot

Paribasa “Gede Bacot Murah Congcot” adalah sebuah ungkapan yang sangat tepat dalam menggambarkan watak dan adat Urang Karawang. Begitu menurut saya.

Gede Bacot mengandung pengertian suka ngomong gede, tinggi baik secara intonasi maupun makna. Secara intonasi misalnya orang Karawang kalau bicara seperti orang mau berantem.

Kadang garihal juga dengan penggunaan kata “Sunda Gahar” : “sia”, “aing”, “nurustunjung” “ngajedog sia”, “kumaha aing weh”, atau bahkan kata-kata seperti “”goblok”, “dikadek siah”, “dipodaran ku aing” dan lainnya. Banyak cerita orang luar yang belum mengenal adat seperti itu lalu menyebut urang Karawang bahasana kasar dan emosian.

Secara makna kata Gede Bacot juga umum dijumpai dalam kehidupan urang Karawang. Contoh orang Karawang tanpa banyak pertimbangan selalu bangga dengan keunggulan sejarahnya, missal “ moal aya Indonesia merdeka lamun teu aya karawang, Nabi Adam oge diturunkeun di Karawang, Karawang mah pangkolotna, dan lainnya. Jangan Tanya referensinya karena semua itu adalah bentuk Gede Bacot tadi.

Tapi adat Gede Bacot Urang Karawang bukanlah bentuk kesombongan hati ataupun kemarahan. Karena dalam Gede Bacotnya Urang Karawang tersimpan ungkapan Murah Congcot. Kata Murah Congcot mengandung arti berehan, bageur, tidak pelit. Yaks, Orang Karawang itu tidak pelit dan murah hati karena alam mereka subur dan mereka tidak khawatir kehabisan beras dengan berbagi pada orang lain mengingat luas dan suburnya pesawahan yang mereka miliki. Dulu.

Sekarang jaman berubah. Alam Karawang berubah. Adat Karawangpun berubah. Gede bacot masih sering dijumpai, tetapi lebih kepada luapan emosi kemarahan dan kejengkelan. Mungkin karena kondisi hidup yang dirasa banyak meng-tidak adil-kan Nurani Urang Karawang.

Murah Congcot juga semakin langka. Hanya tersisa di sudut-sudut perkampungan. Kemajuan teknologi dan pergeseran perilaku sosial membuat banyak orang sering mudah curiga. Kesuburan alam tidak lagi berpihak. Kemiskinan merajalela. Keteladanan hilang. Nilai-nilai agama dan budaya yang selama ratusan tahun memandu pranata sosial tergeser modernisasi. Akhirnya dari pada murah congcot sama orang lain mending penuhi dulu kebutuhan sendiri.

Karawang perlu merevitalisasi kembali nilai-nilai kuno-nya berupa keteladanan sara (agama) Syeh Quro dan kearifan buhun (budaya) Pamanahrasa.

Pondasi karakter Urang Karawang, saya kira, sara dan buhun. Dan itu harus digali dan dihidupkan kembali. Terutama ketika modernisasi dan industrialisasi makin meng-alienasi kita dari akar kehidupan yang sesungguhnya. Semoga RPJMD pasca Pileg 2019 memberi ruang luas pada pendidikan agama dan budaya sebagai basis penguatan karakter dan kesejahteraan masyarakat Karawang.

Leave a Comment