Karawang — Wacana menjadikan Karawang sebagai Kota Sejarah dan Budaya kembali mengemuka di kalangan pegiat komunitas. Gagasan ini menguat seiring keberhasilan Cirebon yang sejak 2020 mencanangkan diri sebagai Kota Wisata Sejarah Budaya, ditopang jejak para wali, keraton, dan situs-situs bersejarah yang terkelola.
Komunitas Karawang Heritage menilai, potensi Karawang tidak kalah kuat. Jejak waliyullah telah dikenal lebih awal, bahkan sebelum kemunculan entitas yang menjadi cikal bakal Cirebon seperti Japura dan Indraprahasta. Jauh ke belakang, nama Tarumanagara sudah lebih dulu populer dan menjadi penanda penting sejarah di wilayah ini.
Namun, menurut komunitas, arah kebijakan daerah belum sepenuhnya menempatkan seni budaya sebagai nilai unggul. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) masih bertumpu pada industri dan pertanian. Di tengah keterbatasan daya serap industri terhadap pengangguran serta alih fungsi lahan pertanian, Karawang dinilai perlu membuka jalan pada sektor baru seperti pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ketua Karawang Heritage, Asep R. Sundapura, menyatakan bahwa upaya menuju Kota Sejarah dan Budaya membutuhkan visi jangka panjang yang terukur. “Kalau ada target, misalnya 2030 Karawang menjadi Kota Sejarah dan Budaya, maka infrastruktur, sarana, ekosistem, pendidikan, hingga regulasi bisa disiapkan secara bertahap. Tanpa target, sulit berharap ada konsistensi pembangunan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pembenahan ruang publik seperti alun-alun yang dinilai belum optimal tanpa dukungan serius lintas level pemerintahan. Sementara itu, tren peningkatan PAD dari sektor pariwisata menunjukkan adanya potensi yang menjanjikan. “Bagaimana kita bisa menyiapkan sarana prasarana pariwisata kalau kita sendiri belum punya rencana besar untuk menjadikannya sektor unggulan?” tambahnya.
Komunitas berharap pemerintah daerah mulai merumuskan arah strategis yang jelas, agar kekayaan sejarah dan budaya Karawang tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga motor penggerak masa depan.
