Saya pernah berbincang dengan sejumlah tokoh politik Karawang yang mengakui bahwa sentimen kedaerahan dalam Politik Karawang masihlah sangat kental, terutama di Pilkada.
Utamanya isyu Sunda dan Non Sunda ataupun Pendatang dan Pribumi sebagai bagian dari Politik Identitas Lokal.
Dalam dunia politik hal seperti itu tidaklah aneh. Di awal Reformasi kita akrab dengan istilah Putera Daerah. Bahkan seorang kapitalis murni seperti Trump juga mengusung Politik Identitas yang sangat kental lewat First America-nya.
Bagaimana dengan Karawang?
Di Karawang Politik Identitasnya sedikit menyempit. Ada pandangan bahwa yang harus jadi Pemimpin Karawang itu Orang Karawang-nya. Itu betul. Setiap daerah memiliki kecenderungan seperti itu dengan tingkatan yang berbeda-beda. Kebetulan di Karawang tingkatannya cukup kental dan membuat banyak politisi pendatang berpikir lebih panjang lagi untuk nyalon Bupati.
Setiap Daerah Layak dipimpin Putera Daerahnya. Meskipun tidak ada garansi Putera Daerah akan berhasil memimpin daerah-nya. Pada akhirnya kembali lagi pada kapasitas dan integritas kepemimpinan si orangnya.
Hanya saja ada harapan emosional bahwa kalau Putera Daerah yang memimpin maka akan lebih maju karena ikatan emosional dan kepedulian Putera Daerah lebih kuat dibanding politisi luar yang hanya sekadar nyalon, menjabat lalu pulang kampung lagi begitu usai menjabat.
Kata kuncinya adalah Ikatan Emosional. Mereka yang memandang Karawang sebatas ladang mengeruk kekayaan, karier dan kekuasaan menandakan ikatan emosional dengan Karawangnya terbangun di atas dasar pragmatisme.
Sementara Putera Daerah ikatan emosionalnya kemungkinan besar terbangun atas dasar kadeudeh ka lembur sorangan. Mungkin dia akan lebih care dan peduli terhadap kampungnya sendiri, meskipun kembali saya tekankan bahwa ini bukan jaminan. Di tingkat lebih kecil banyak Kepala Desa gagal besar membangun desanya padahal dia dan tujuh nenek moyangnya lahir dan besar di desa tersebut.
Semuanya adalah Perjudian Demokrasi.
Namun Politik Getih Karawang yang ideal itu bukan tentang Pemimpin Putera Daerah dan Pemimpin Pendatang. Bagi saya, Politik Getih Karawang itu lebih menjanjikan di tataran kebijakan.
Contohnya seperti Perda Ketenagakerjaan 60:40. Atau kebijakan Beli Produk Lokal ala Bupati Azwar Anas di Banyuwangi. Atau kebijakan-kebijakan lainnya yang lebih memprioritaskan Orang dan Produk Karawang.
Tapi jika ada penganut garis keras Politik Getih Karawang yang berpendapat bahwa Pemimpin Karawang itu harus Orang Karawang …itu lain perkara.
