Karawang Heritage dukung gagasan kdm soal kota tua, tetapi …

KARAWANG – Rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menyulap Jalan Tuparev menjadi kawasan Kota Tua bernuansa Sunda mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Komunitas Karawang Heritage, yang selama ini konsisten mengawal sejarah lokal, menyatakan dukungan penuh atas inisiatif tersebut, namun memberikan catatan kritis yang mendalam mengenai letak historis “Kota Tua” yang sesungguhnya.
Dukungan untuk Estetika Budaya
Perwakilan komunitas Karawang Heritage, Asep R Sundapuran mengungkapkan bahwa langkah menata Jalan Tuparev dengan konsep “Pelataran Cinta” dan penyeragaman bangunan pertokoan adalah langkah maju untuk memperkuat identitas budaya Karawang. Penataan kabel bawah tanah dan sentuhan arsitektur Sunda diyakini akan membuat pusat bisnis tersebut lebih manusiawi dan memiliki nilai estetika tinggi.
“Kami sangat mengapresiasi visi Pak Dedi Mulyadi. Tuparev memang membutuhkan sentuhan karakter agar tidak sekadar menjadi deretan ruko beton yang gersang,” ujar perwakilan Karawang Heritage.
Masukan Historis: Tuparev vs Kertayasa
Namun, Karawang Heritage mengingatkan bahwa secara nilai sejarah, Jalan Tuparev baru mengalami perkembangan pesat pada era kolonial akhir abad ke-19, seiring dengan menguatnya ekonomi perkebunan dan perdagangan di bawah pemerintah Hindia Belanda.
Berdasarkan naskah-naskah babad, tradisi lisan, serta peta-peta laporan berita Belanda kuno, titik nol atau “Jantung” Kota Tua Karawang sebenarnya berada di wilayah Kertayasa atau kawasan sekitar Alun-Alun Karawang dan Masjid Agung. Namun wajah sejarah di kawasan alun-alun tidak terlihat sama sekali meskipun disana terdapat bangunan heritage seperti masjid agung dan gedung juang 45. “Jangan lupa, disana juga terdapat jejak kampung pertama Karawang meskipun tinggal nama dan jejak kramatnya di Nagasari. Termasuk juga tugu bersejarah yang sudah hilang : Tugu Titik Nol Karawang.”
“Jika kita merujuk pada sejarah yang lebih tua, kawasan Alun-Alun dan Kertayasa sudah menjadi pusat peradaban bahkan sejak zaman Kerajaan Pajajaran,” tambah mereka. Tradisi lisan dan naskah kuno menyebutkan bahwa wilayah ini adalah simpul pemerintahan asli Karawang jauh sebelum kolonial membangun infrastruktur jalan protokol seperti Tuparev.
Usulan Penataan Terintegrasi
Karawang Heritage mengusulkan agar penataan yang direncanakan Dedi Mulyadi tidak hanya berhenti di Jalan Tuparev, tetapi juga mencakup revitalisasi total kawasan Alun-Alun dan Kertayasa sebagai satu kesatuan Historical District.
“Jangan sampai kita menata ‘wajah’ (Tuparev), tapi melupakan ‘ruh’ sejarahnya (Alun-Alun). Kota Tua Karawang yang otentik adalah wilayah yang menghubungkan stasiun, Masjid Agung, hingga ke arah Kertayasa. Di sanalah jejak Pajajaran hingga era awal kemerdekaan saling bertumpuk,” jelasnya.
Komunitas ini berharap Pemprov Jabar dan Pemkab Karawang mau melibatkan para pegiat sejarah dalam merumuskan detail arsitektur agar nuansa Sunda yang dihadirkan bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki dasar historis yang kuat dari masa kejayaan Pajajaran hingga masa kolonial.
Dengan integrasi penataan antara Tuparev dan kawasan Alun-Alun-Kertayasa, Karawang tidak hanya akan memiliki kota yang cantik, tetapi juga sebuah kawasan bersejarah yang memiliki akar kuat dan mampu bercerita kepada generasi mendatang tentang identitas asli Tatar Sunda di Karawang.
