Dari Mupusti ke Edukasi: Peran Generasi Milenial dalam Menafsirkan Sejarah

Pemahaman kesejarahan kita selama ini baru mencapai tahap mupusti, belum sepenuhnya bergerak ke arah edukasi, apalagi komersialisasi. Dalam konteks budaya Sunda, mupusti bukan sekadar menjaga, tetapi merawat dengan penuh penghormatan, sering kali disertai dimensi spiritual dan simbolik yang kuat. Kita patut bersyukur bahwa generasi para orang tua kita telah berhasil melewati proses ini. Berkat mereka, berbagai tinggalan sejarah—baik berupa manuskrip, benda pusaka, situs, cerita rakyat, maupun pengetahuan tradisional—masih dapat kita kenali dan nikmati hingga hari ini. Di sinilah makna filosofi “Hana Nguni Hana Mangke” menjadi relevan: adanya masa kini tidak terlepas dari keberadaan masa lalu.

Namun demikian, generasi sekarang, khususnya generasi milenial, dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Tugas kita bukan lagi semata-mata mupusti kesejarahan, melainkan mengedukasi. Artinya, tinggalan sejarah tidak lagi cukup hanya dijaga secara simbolik dan spiritual, tetapi harus dipahami, ditafsirkan, dan disampaikan kembali secara logis, objektif, dan berbasis pengetahuan. Sejarah perlu dilepaskan dari dominasi harewos goib—yang memang menjadi domain generasi sebelumnya—dan diarahkan pada pendekatan ilmiah yang dapat dipelajari, diuji, serta dikembangkan.

Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan ilmu sejarah modern yang menekankan metode kritis, analisis sumber, dan verifikasi data. Menurut sejarawan seperti Kuntowijoyo dalam konsep “sejarah sebagai ilmu,” pemahaman sejarah harus melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Ini menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar warisan, melainkan juga proses intelektual yang terus berkembang. UNESCO pun dalam berbagai laporannya menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya yang disertai dengan edukasi publik agar nilai-nilai sejarah dapat diwariskan secara berkelanjutan dan relevan dengan zaman.

Dalam simbol budaya yang diungkapkan, generasi kini diibaratkan Ngangon Kalakay jeung Tutunggul—menggembalakan sisa-sisa dan jejak yang perlu ditafsirkan ulang. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang ngangon harupat jeung kukusan, atau bahkan lebih awal lagi ngangon handeuleum jeung hanjuyang, yang lebih menekankan pada pemeliharaan simbolik dan spiritual. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki keahlian, karakter, serta tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan zamannya.

Transformasi dari mupusti ke edukasi bukan berarti menghilangkan nilai-nilai lama, tetapi justru memperkuatnya dengan pendekatan yang lebih rasional dan komunikatif. Edukasi membuka ruang dialog, memungkinkan generasi muda memahami sejarah bukan sebagai sesuatu yang sakral dan tak tersentuh, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang hidup. Dengan demikian, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dimaknai, dikritisi, dan dimanfaatkan untuk membangun masa depan.

Ke depan, tantangan berikutnya adalah bagaimana edukasi sejarah ini dapat berlanjut ke tahap komersialisasi yang sehat—misalnya melalui pariwisata budaya, penerbitan, media digital, dan industri kreatif—tanpa kehilangan esensi dan nilai autentiknya. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus identitas nasional, selama dikelola dengan pendekatan edukatif yang kuat.

Dengan demikian, perjalanan kesejarahan kita adalah sebuah proses berlapis: dari mupusti, menuju edukasi, hingga akhirnya berpotensi menjadi kekuatan ekonomi dan identitas budaya. Setiap generasi memiliki perannya masing-masing, dan generasi kini dituntut untuk menjembatani masa lalu dengan masa depan melalui pengetahuan, analisis, dan kesadaran kritis.

Leave a Comment