Kabupaten Karawang berdiri tahun 1633 berdasarkan pada pengangkatan Singaperbangsa dan Wirasaba sebagai Wedana melalui Piaagam Plat Kuning Kandang Sapi.
Catatan sejarah seperti Daghregister Castle Batavia, juga Cerita Rakyat menyebutkan bahwa Bupati Singaperbangsa kemudian mendirikan pusat pemerintahan bernama Bakan Krawang, setelah sebelumnya tinggal di Udug-Udug.
Bakan Krawang adalah sebuah lokasi di Teluk Bunut, tepat di pinggir Sungai Citarum. Salah satu ke-khasan tempat tersebut bahwa di sana terdapat beberapa pohon Nagasari.
Sejak dijadikaan sebagai pusat pemerintahan Kampung Bakan Krawang jadi terkenal dan menjadi cikal bakal Kota Karawang Modern. Beberapa ratus tahun sebelumnya, Teluk Bunut menjadi lokasi berdirinya pesantren Syeh Quro, penyebar Islam pertama di Tanah Sunda.
Kampung Krawang kemudian menjadi lebih besar ketika pada tahun 1682 putera Singaperbangsa yang bernama Panatayudha 1 mendirikan Kampung Besar (Dayeuh) bernama Kartayasa, tidak jauh dari lokasi Kampung Bakan Krawang (Nagasari sekarang).
Dan meskipun kemudian pusat kota Karawang mengaalami beberapa perpindahan ke Wanayasa, Purwakarta dan Subang tetapi nilai legendaris Kampung Bakan Krawang tetap terjaga karena para penguasa Karawang tinggal di sana.
Pada masa era kolonial, Kampung Karawang menjadi pusat pemerintahan setingkat resident.
Kampung Karawang dibangun dengan inspirasi tata kota khas Jawa Islam dan kemudian berkembang dengan ciri-ciri kota modern awal, seperti berdekatannya antara pusat pemerintahan, masjid, pasar dan lapangan luas (alun-alun). Dengan demikian Kampung Krawang adalah ibukota pertama Kabupaten Karawang.
Berdasarkan narasi sejarah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan maka disimpulkan bahwa Kampung Bakan Krawang memiliki nilai istimewa sebagai berikut :
a. Kampung Bakan Krawang merupakan cikal bakal Karawang Modern
b. Kampung Bakan Krawang menjadi Pusat Pemerintahan pertama Kabupaten Karawang
c. Kampung Bakan Krawang dalam perkembangannya menjadi sebuah kota yang besar dan bahkan disebut dengan nama Dayeuh atau kota sehingga dapat dianggap sebagai Kota Tuanya Karawang
Berdasarkan sumber sejarah kolonial, cerita rakyat dan penelusuran lapangan maka kemudian kami menyimpulkan bahwa lokasi yang diidentifikasi sebagai Kampung Bakan Krawang atau Kota Tuanya Karawang adalah di Lokasi Areal Kramat Nagasari sekarang. Hal tersebut dipertegas juga oleh laporan Pleyte, seorang petugas kolonial pada tahun 1910.
Mengingat bernilainya kota tua Karawang (Kampung Bakan Karawang) maka kami mengusulkan supaya areal tersebut direvitalisasi kembali berdasarkan nilai kesejarahannya.
Adapun usulan kami sebagai berikut :
1. Melakukan perencanaan pembangunan jangka panjang Revitalisasi Dayeuh Karawang sebagai destinasi wisata Kota Tua yang meliputi Labuhan Tua Teluk Bunut, Dayeuhan Kartayasa, Masjid Agung Syeh Quro, Lapangan Alun-Alun, dan Situs Nagasari.
2. Khusus untuk bekas lokasi Kampung Bakan Krawang yaitu di Situs Kramat Nagasari perlu dijadikan sebagai Taman Sejarah Karawang dimana disana dapat dibangun Tembok Relief Sejarah Berdirinya Kabupaten Karawang dan unsur-unsur pembangunan penunjang lainnya yang tujuannya menjadikan lokasi tersebut sebagai Destinasi Historis.
Selain itu perlu dilakukan juga penanaman kembali Pohon Nagasari di lokasi tersebut.
3. Mengingat lokasinya yang strategis yakni berada di alun-alun kota, dan berdekatan dengan pusat niaga Galuh Mas maka Destinasi Wisata Historis Kota Tua Karawang atau Situs Nagasari dapat dikembangkan sebagai Destinasi Wisata Kota.
