Pada 27 Februari 2025, komunitas Karawang Heritage mengadakan musyawarah komunitas budaya Sunda sebagai ruang bersama untuk membicarakan arah dan masa depan budaya di Karawang. Dalam forum tersebut, Asep R. Sundapura menyampaikan kegelisahan yang dirasakan banyak masyarakat.
Menurutnya, banyak orang Karawang resah dengan kondisi budayanya. Begitu banyak ide, pemikiran, harapan, dan keinginan terhadap kemajuan budaya lokal, namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: kemajuan budaya seperti apa yang sebetulnya orang Karawang harapkan?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika Karawang terus bergerak sebagai wilayah modern dengan pertumbuhan industri, urbanisasi, dan perubahan sosial yang begitu cepat. Di tengah perubahan tersebut, muncul keraguan sekaligus refleksi: apakah budaya masih relevan dengan kondisi Karawang sekarang? Atau justru semakin penting sebagai penyeimbang arah pembangunan?
Dalam pandangan Asep R. Sundapura, budaya tidak bisa dipersempit hanya sebagai atraksi seni dan pertunjukan semata. Budaya adalah akar identitas, jati diri masyarakat, yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi.
Budaya juga berkaitan erat dengan lingkungan, literasi, tata ruang, ekonomi kreatif, bahkan hingga pengelolaan kepentingan umum. Oleh karena itu, membicarakan budaya berarti membicarakan masa depan Karawang secara menyeluruh.
Sebagai Ketua Karawang Heritage, Asep R. Sundapura menegaskan bahwa komunitas budaya memiliki tanggung jawab besar dalam merespons perubahan zaman. Ia menyampaikan bahwa pelaku budaya dan komunitas tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menerjemahkan nilai-nilai budaya ke dalam konteks kekinian.
Budaya harus hidup, beradaptasi, dan hadir dalam kehidupan masyarakat modern tanpa kehilangan akar dan maknanya.
Musyawarah ini menjadi titik temu berbagai gagasan yang selama ini tersebar. Ada kebutuhan untuk menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan langkah konkret agar budaya tidak tertinggal oleh laju modernisasi. Unsur budaya, pelaku budaya, dan komunitas perlu mengambil peran aktif dalam membangun kesadaran bersama, memperkuat literasi budaya, serta mengintegrasikan nilai budaya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, kegelisahan yang disampaikan bukanlah tanda kelemahan, melainkan panggilan untuk bergerak. Karawang tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa melalui budaya. Seperti yang disampaikan Asep R. Sundapura, semua ini perlu kita badamikan—dipertemukan, didialogkan, dan dirumuskan bersama—agar budaya tetap menjadi fondasi yang kokoh di tengah perubahan Karawang yang semakin modern.
