Misteri Nama Cigoeha Di Kota Karawang

Nama Cigoeha—atau Cigoa—di Karawang bukanlah sekadar penanda tempat. Ia hadir di empat wilayah yang tersebar, seolah menyimpan pesan lama yang belum sepenuhnya kita pahami. Cigoeha dapat ditemukan di perbatasan Batujaya–Pakis, di Rawamerta, di wilayah Pangkalan–Kuta, serta di perbatasan Karawang–Purwakarta yang kini telah tenggelam oleh genangan Jatiluhur.

Dalam bahasa Sunda Kuno, Cigoeha memiliki arti yang menarik: “rahasia” dan “lubang bawah tanah.” Dua makna ini seperti membuka pintu tafsir tentang hubungan antara nama, alam, dan sejarah ruang yang kita tempati hari ini.

Di wilayah Batujaya dan Rawamerta, yang sejak dulu dikenal sebagai kawasan rawa, makna Cigoeha sebagai “rahasia” terasa lebih dekat. Rawa-rawa sering kali menyimpan banyak hal yang tak terlihat—baik jejak peradaban lama, aliran air yang tersembunyi, maupun misteri yang hanya bisa dibaca melalui tanda-tanda alam. Tanah yang tampak datar dan tenang, sesungguhnya menyimpan kedalaman yang tak kasatmata.

Sementara itu, di wilayah Pangkalan, tafsir Cigoeha sebagai “lubang bawah tanah” menjadi lebih masuk akal. Kontur tanah di sana berupa dataran tinggi yang penuh rongga dan gua. Keberadaan Goa Dayeuh, Goa Walet, dan sejumlah rongga alam lainnya menjadi bukti bahwa wilayah ini memang memiliki struktur geologis yang berongga. Bahkan, Naskah Bujangga Manik pun menggambarkan lanskap yang serupa—sebuah wilayah dengan karakter alam yang khas dan tidak sederhana.

Dari sini, kita diajak untuk tidak sekadar melihat nama sebagai identitas, tetapi juga sebagai pengetahuan lokal yang diwariskan leluhur. Nama Cigoeha bukan hanya sebutan, melainkan petunjuk—tentang apa yang tersembunyi di bawah tanah, tentang bagaimana alam bekerja, dan tentang bagaimana manusia seharusnya memahami ruang hidupnya.

Namun, kegelisahan muncul ketika kita membayangkan kondisi hari ini. Ketika tanah yang berongga itu dikeduk secara besar-besaran, bukan hanya aliran air bawah tanah yang terputus, tetapi juga potensi amblasnya tanah dalam skala besar menjadi ancaman nyata. Alam yang selama ini menyimpan keseimbangan, perlahan bisa kehilangan daya tahannya.

Risiko ini tidak hanya mengintai wilayah Pangkalan. Di berbagai titik Karawang yang berada di jalur urat bumi—seperti Sisik Antaboga atau Sesar Cimandiri—potensi serupa bisa saja terjadi. Kita pernah belajar dari peristiwa Lumpur Lapindo, atau dari kisah sirnanya Kali Kancah Nangkub di Pangkalan. Alam selalu memberi tanda, hanya saja sering kali manusia terlambat membaca.

Dalam konteks ini, mungkin benar bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang Citaman Pangkalan. Ia adalah refleksi yang lebih luas tentang Karawang secara keseluruhan. Tentang bagaimana kita memperlakukan tanah, tentang bagaimana kita memahami warisan leluhur, dan tentang sejauh mana kesadaran kolektif kita masih terhubung dengan ruang hidup yang kita pijak.

Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada kita: sejauh mana Getih Karawang terpanggil untuk menjaga Sarakan Lemah yang kian hari terasa semakin awut-awutan?

Barangkali, sebelum semuanya benar-benar berubah, kita perlu belajar kembali membaca nama-nama lama seperti Cigoeha—sebab di sanalah, sering kali, tersimpan peringatan yang paling jujur dari masa lalu.

Leave a Comment