Kearifan Lokal Nama Gunung Sirnalanggeng dan Pasir Benteng Karawang

Ada dua lokasi pertambangan di Karawang yang memantik syaraf geli sekaligus kegelisahan batin saya: Gunung Sirnalanggeng, yang kini sudah berubah menjadi “gunung botak sabeulah”, dan Pasir Benteng yang rencananya akan ditambang oleh sebuah perusahaan. Dua nama ini, jika kita mau berhenti sejenak dan merenung, sebenarnya bukan sekadar penanda tempat. Ia adalah pesan. Ia adalah wasiat.

Gunung Sirnalanggeng, yang dahulu disebut Sinalanggeng, berasal dari kata Sinah Langgeng—yang berarti “titah agar tetap awet”. Sebuah pesan dari orang-orang tua kita, jauh sebelum teknologi pertambangan hadir, jauh sebelum kata “eksploitasi” menjadi bagian dari bahasa pembangunan. Mereka seperti sudah tahu bahwa suatu hari gunung itu akan digoda untuk digali, dikeruk, dan dihabisi. Maka mereka memberi nama sebagai pengingat: biarkan ia tetap ada, tetap utuh, tidak perlu diganggu.

Namun hari ini, kita menyaksikan sendiri bagaimana pesan itu perlahan dilupakan. Gunung yang dahulu “dititahkan untuk awet” kini berubah menjadi luka terbuka. Sebagian tubuhnya hilang, sebagian lainnya menunggu giliran. Dan kita, entah sadar atau tidak, sedang menjadi generasi yang mengingkari pesan leluhur sendiri.

Lalu ada Pasir Benteng—sebuah kawasan perbukitan yang membentang dari Pangkalan, Goa Dayeuh, hingga perbukitan Kuta. Nama “Benteng” tentu bukan tanpa alasan. Ia menggambarkan bentuk sekaligus fungsi: sebagai pelindung. Sebagai penjaga. Sebagai sesuatu yang berdiri untuk menahan, bukan untuk diruntuhkan.

Pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya dibentengi oleh perbukitan itu? Apa yang dilindungi oleh alam yang telah berdiri ratusan, mungkin ribuan tahun tersebut? Dan yang lebih penting, apa yang akan terjadi jika “benteng” itu kita jebol sendiri dengan alat berat dan ambisi pembangunan?

Barangkali kita terlalu sering melihat alam hanya sebagai objek ekonomi. Gunung dianggap sebagai bahan baku, bukit sebagai cadangan material, hutan sebagai lahan kosong yang menunggu “dimanfaatkan”. Padahal dalam pandangan budaya Sunda, nama bukanlah sekadar label. Nama adalah doa, adalah peringatan, adalah arah masa depan.

Dalam tradisi pantun Sunda, nama memiliki fungsi futuristik—ia tidak hanya menjelaskan keadaan masa kini, tetapi juga memberi petunjuk tentang fungsi dan tujuan di masa yang akan datang. Maka ketika leluhur memberi nama Sirnalanggeng dan Pasir Benteng, sesungguhnya mereka sedang berbicara kepada kita—generasi yang hidup jauh setelah mereka tiada.

Sayangnya, suara itu semakin samar di tengah riuhnya proyek, izin, dan jargon pembangunan. Kita begitu sibuk mengejar kemajuan, hingga lupa bertanya: kemajuan untuk siapa, dan dengan harga apa? Apakah kita benar-benar sedang membangun, atau justru sedang meruntuhkan sesuatu yang tidak bisa kita kembalikan?

Firman Tuhan pun sudah jelas mewasiatkan bahwa manusia ditugaskan untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Namun dalam praktiknya, sering kali kemakmuran itu diterjemahkan secara sempit—sebatas angka, investasi, dan keuntungan jangka pendek. Sementara kerusakan yang ditinggalkan justru diwariskan panjang kepada generasi berikutnya.

Mungkin sudah saatnya kita kembali belajar dari kearifan sederhana: membaca nama. Mendengar pesan yang tersimpan dalam bahasa leluhur. Karena bisa jadi, di sanalah tersimpan pengetahuan yang jauh lebih bijak daripada teknologi yang kita banggakan hari ini.

Sebab jika kita terus mengabaikan tanda-tanda itu, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita akan menyadari bahwa yang kita hancurkan bukan hanya gunung atau bukit—tetapi juga benteng terakhir yang menjaga keseimbangan hidup kita sendiri.

Leave a Comment