Membedah Mitos Sakral Jangkar Sanggabuana

pasir puntang

Pada 25 Februari 2016, Asep R. Sundapura melakukan penelusuran sejarah ke wilayah Gunung Sanggabuana. Di antara lokasi yang dituju adalah daerah Pasir Puntang di kaki gunung tersebut, yang berada di perbatasan Kecamatan Pangkalan. Kawasan ini bukan hanya bentang alam biasa, melainkan ruang yang sarat makna historis, mitologis, dan kultural dalam ingatan masyarakat setempat.

 

 

 

 

Menurut Asep R. Sundapura, “Nurutken cacandran ti Prepantun, tos kagurat ku mega kawasan ie moal suwung ku rurudat, akan selalu bergolak.” Ungkapan ini merujuk pada keyakinan lama dalam tradisi lisan Sunda bahwa wilayah tersebut telah “tertulis di langit” sebagai kawasan yang tidak akan pernah sepi dari gejolak. Dalam khazanah pantun Sunda—yang oleh para ahli seperti Ajip Rosidi disebut sebagai salah satu bentuk sastra lisan tertua di Tatar Sunda—cacandran atau pertanda sering kali menjadi cara masyarakat membaca hubungan antara alam dan peristiwa sosial.

Wilayah ini disebut sebagai Jangkar Sanggabuana, yang dalam tafsir simbolik dapat dimaknai sebagai titik penyeimbang atau pusat energi. Di sana pula diyakini berada Situs Salaka Domas, yang dalam berbagai cerita rakyat Sunda kerap dihubungkan dengan pusat kekuasaan spiritual atau kekayaan tersembunyi. Istilah Argyre’s Capital sendiri mengingatkan pada catatan kuno dalam geografi Yunani-Romawi, di mana “Argyre” atau “Argyra” sering dikaitkan dengan wilayah kaya logam mulia di Asia Tenggara, sebagaimana disebut dalam karya Claudius Ptolemy. Meskipun bersifat spekulatif, penyebutan ini menunjukkan bagaimana kawasan tersebut ditempatkan dalam imajinasi sebagai wilayah bernilai tinggi, baik secara material maupun spiritual.

Selain itu, terdapat pula penyebutan Zonasi Black Cadas, Leuit Salawe Jajar, serta Batu Kancah Nangkub, yang semuanya mencerminkan lanskap budaya yang khas. Leuit dalam tradisi Sunda adalah lumbung padi, simbol ketahanan pangan dan kesejahteraan komunitas, sementara batu dan cadas sering kali menjadi penanda ruang sakral atau tempat bersemayamnya kekuatan tertentu. Dalam kajian antropologi, seperti yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat, simbol-simbol ini tidak dapat dilepaskan dari sistem kepercayaan masyarakat agraris yang memandang alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual.

Namun, di balik lapisan makna tersebut, realitas kontemporer menunjukkan dinamika yang tidak kalah kuat. Wilayah Pasir Puntang dikenal sering mengalami gejolak sosial berupa demonstrasi masyarakat yang mempertanyakan aktivitas pertambangan oleh perusahaan semen, yakni PT. Juisin. Konflik ini mencerminkan ketegangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan serta warisan budaya. Data dari berbagai laporan lingkungan di Jawa Barat menunjukkan bahwa kawasan Pegunungan Sanggabuana merupakan salah satu daerah tangkapan air penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga aktivitas eksploitasi sumber daya alam di dalamnya berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang signifikan.

Fenomena “moal suwung ku rurudat”—tidak pernah sepi dari gejolak—dengan demikian menemukan relevansinya dalam konteks masa kini. Apa yang dahulu dibaca sebagai pertanda kosmologis kini seolah terwujud dalam bentuk konflik sosial dan lingkungan. Tradisi lisan, dalam hal ini, tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga cermin cara masyarakat memahami dan merespons perubahan zaman.

Penelusuran yang dilakukan oleh Asep R. Sundapura membuka kembali lapisan-lapisan makna tersebut, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ia menunjukkan bahwa ruang seperti Sanggabuana bukan sekadar lokasi geografis, melainkan medan pertemuan antara mitologi, sejarah, dan realitas sosial. Di sanalah “Naluri Kabumian” bertemu dengan tantangan modernitas, dan di sanalah pula pertanyaan tentang masa depan alam dan budaya terus bergema.

Dengan demikian, Pasir Puntang dan kawasan Sanggabuana tidak hanya penting sebagai wilayah ekologis, tetapi juga sebagai ruang refleksi tentang bagaimana manusia memaknai tanah yang dipijaknya. Ketika gejolak terus terjadi, mungkin yang perlu dicari bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara manusia, alam, dan warisan budaya yang telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Similar Posts