Naluri Kabumian Urang Sunda

Sewaktu kecil, ketika guru di SD meminta murid-murid menggambar, pemandangan yang paling sering muncul adalah dua gunung menjulang dengan jalan atau sungai di tengah, hamparan sawah hijau, dan langit cerah. Hanya sedikit yang menggambar lautan, bintang, bulan, atau bangunan ciptaan manusia. Fenomena ini menarik, karena sebagian besar anak-anak tersebut kemungkinan belum pernah melihat langsung bentuk gunung yang sesungguhnya. Namun imaji tentang gunung seolah sudah tertanam kuat dalam benak mereka.
Hal ini dapat dibaca sebagai adanya “Naluri Kabumian” dalam diri manusia—sebuah kecenderungan batin yang mengarah pada kedekatan dengan alam, khususnya lanskap pegunungan. Bukan semata-mata persoalan estetika atau kebiasaan belajar menggambar, tetapi juga bisa dilihat sebagai ekspresi kerinduan yang lebih dalam terhadap alam. Dalam perspektif budaya dan psikologi, kecenderungan ini memiliki kemiripan dengan konsep biophilia hypothesis yang diperkenalkan oleh Edward O. Wilson, yang menyatakan bahwa manusia secara naluriah memiliki kecintaan terhadap alam karena sejarah panjang evolusi yang bergantung padanya.
Gunung dalam banyak kebudayaan Nusantara memang bukan sekadar bentang alam. Ia adalah simbol kosmologis, pusat keseimbangan, dan tempat yang sakral. Dalam tradisi Sunda dan Jawa, gunung sering dipandang sebagai poros dunia, tempat bersemayamnya kekuatan spiritual, bahkan menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia ilahi. Tidak heran jika dalam sejarah, para leluhur pernah dituduh “menyembah gunung” atau “migusti batu”. Tuduhan ini lahir dari cara pandang luar yang tidak memahami bahwa penghormatan terhadap gunung dan alam bukanlah penyembahan dalam arti literal, melainkan bentuk kesadaran ekologis dan spiritual yang mendalam.
Istilah “Nu Tunggal” yang kerap disalahpahami sebagai berbeda dari “Nu Hiji” juga mencerminkan kompleksitas pemahaman kosmologi lokal. Dalam banyak ajaran lokal, keesaan tidak selalu dipahami secara kaku, tetapi hadir dalam kesatuan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Gunung, batu, tanah, dan air menjadi bagian dari jaringan makna tersebut. Maka ketika manusia modern menjauh dari alam, sesungguhnya yang hilang bukan hanya ruang fisik, tetapi juga hubungan batin yang telah teranyam sejak lama.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, preferensi anak-anak terhadap lanskap seperti gunung dan sawah juga dapat dijelaskan melalui penelitian perkembangan kognitif. Studi menunjukkan bahwa anak-anak cenderung menggambar bentuk-bentuk yang sederhana, simetris, dan mudah dikenali. Gunung dengan bentuk segitiga, matahari bulat, serta garis horizon yang jelas menjadi pola visual yang mudah direproduksi. Namun, fakta bahwa pola ini hampir universal di berbagai daerah menunjukkan adanya lapisan lain selain sekadar kemudahan teknis—yakni memori kolektif dan paparan budaya yang terus diwariskan.
Selain itu, penelitian dalam bidang pendidikan seni anak oleh Rhoda Kellogg menemukan bahwa anak-anak di seluruh dunia memiliki pola gambar dasar yang mirip, yang kemudian berkembang menjadi simbol-simbol tertentu, termasuk bentuk gunung dan lanskap alam. Ini menguatkan dugaan bahwa imaji tersebut bukan hanya hasil pengajaran formal, tetapi juga bagian dari struktur kognitif dan pengalaman budaya yang lebih luas.
Dalam konteks hari ini, ketika urbanisasi dan industrialisasi semakin menjauhkan manusia dari alam, “Naluri Kabumian” menjadi sesuatu yang penting untuk dihidupkan kembali. Kerinduan terhadap gunung, sawah, dan sungai bukan sekadar nostalgia masa kecil, melainkan sinyal bahwa manusia membutuhkan kembali keseimbangan dengan lingkungan. Kerusakan alam, perubahan iklim, dan hilangnya ruang hijau adalah konsekuensi dari terputusnya relasi tersebut.
Maka ajakan untuk “membangkitkan kembali Naluri Kabumian” bukanlah sekadar romantisme, tetapi juga panggilan ekologis. Menjaga alam sekitar berarti menjaga bagian dari diri kita sendiri. Karawang, dengan sejarah agraris dan lanskap pesawahannya, memiliki peran penting dalam merawat hubungan ini. Di tengah tekanan pembangunan, mempertahankan ruang hidup alam menjadi bentuk nyata dari kesadaran budaya dan tanggung jawab bersama.
