Mieling Ngadegna Kota Karawang 392 (2025)

Untuk mengelola wilayah Nagara Agung Bongas Kilen atau Karawang yang telah terbebas dari penguasaan Pasukan Banten dibawah pimpinan Pageur Agung, Sultan Agung menunjuk Adipati Singaperbangsa dan Arya Wirasaba sebagai bupati.

Pengangkatan keduanya tercantum dalam plat kuningan yang disebut Piagam Plat Kuning Kandang Sapi.

Piagam Plat Kuning Kandang Sapi ditemukan pertamakali oleh pengawas perkebunan Belanda bernama F. Fokken pada tahun 1888. F.Fokken mendapatkannya dari seorang penduduk Kampung Kandang Sapi di Distrik Tegalwaru, Karawang. F. Fokken kemudian menyerahkan piagam tersebut kepada dr. Brandes untuk diteliti.

Jika ditinjau menurut sejarah demograpi pada masa lalu, besar kemungkinan piagam tersebut awalnya disimpan oleh keturunan keluarga Singaperbangsa.

Piagam itu terbuat dari tembaga (koperen) dan berjumlah tiga buah lempengan/ plat. Semuanya memiliki lebar yang sama, namun panjang yang berbeda yaitu 8,5 cm, 21,8 cm dan 29,5 cm, sedangkan lebarnya 7 cm.

Dan karena berbentuk berupa plat, terbuat dari kuningan (koperen/tembaga), dan ditemukannya di Desa Kandang Sapi maka piagam tersebut akhirnya disebut Piagam Plat Kuning Kandang Sapi. Piagam tersebut ada 2.

I. Piagam Plat Kuning Kandang Sapi Leutik

Piagam Plat Koneng Kandang Sapi Leutik : Piagam berukuran kecil merupakan perintah Singaperbangsa kepada Astrawardana yang berbunyi :

“Penget layang ingsun Singaperbagsa, kacekel dening Ki Astrawardana kalayan Ki Wanayuda, mila manira kacekel layang sawiyos manira kang juput pari kagegang Susuhunan kang kagadeh dening Ki Rangga Gede Sumedang lumbung Kalapaduwa, kang tinunggu dening Ki Astrawardana kalih Wanayuda. Isinekang manira juput pari limang takes punjul tiga welas jait bobot, arwahe Ki Yudabangsa. Titi. Kala nulis ing dina Jumaat tanggal pisan, sai Mukaram taun Alip.”

Terjemahan Bahasa Indonesia :

Perhatikanlah . Ini adalah surat dari saya yakni, Singaperbangsa, yang ditujukan kepada Ki Astrawadana dan Ki Wanayunda. Surat ini merupakan perintah dariku untuk mengangkut beras Susuhunan yang dijagai oleh Ki Rangga Sumedang, yang terdapat di lumbung beras Kalapa Dua yang dijaga oleh Ki Astrawardana dan Ki Wanayuda. Beras yang harus diangkut sebanyak lima tangkes tiga belas jait, dan harus dikumpulkan setelah Ki Yudabangsa datang. Surat ini ditulis pada hari Jumat tanggal 1 Muharam tahun alif.

II. Piagam Plat Kuning Kandang Sapi Gede

Dua piagam lainnya bertuliskan secara bersambung dan merupakan perintah Sultan Agung kepada Rangga Gede, yang berbunyi :

“Panget ingkang piagem kanjeng ing Ki Rangga Gede ing gadehi piagem. Sun kongkon anggraksa kagengan dalem Siti Nagara Agung, kilen wates Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, serta kon anunggoni lumbung isine pun pari limang takes punjul tiga welas jait. Wodening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa, basakalatan anggrawahi piagem, lagi lampahipun Kiayi Yudhabangsa kaping kalih Ki Wangsa Taruna, ingkang potusan kanjeng dalem ambakta tata titi yang kalih ewu, wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih Ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manira. Sasangpun katampi dipunprenaharen ing Waringinpitu lan ing Tanjungpura. Anggraksa Siti Gung Bongas Kilen. Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun Alif. Kang anulis piagem manira Anggrapana titi”.

Terjemahan Bahasa Indonesia :

“Diperingatkan tentang piagam dari Kangjeng (Sultan Agung) kepada Ki Rangga Gede di Sumedang, yang dititipkan kepada Ki Astrawardana yang membawa tugas menjaga wilayah kekuasaan raja “Nagara Agung”. Wilayah itu dibatasi oleh Cipamingkis di sebelah barat dan oleh Cilamaya di sebelah timur. Seterusnya Ki Astrawardana harus menunggu lumbung berisi padi lima takes lebih tigabelas jahit. Padi tersebut nantinya harus diangkut oleh Ki Singaperbangsa, bila surat perintahnya sudah diterima. Surat perintah itu akan diserahkan oleh Kyai Yudabangsa dan Ki Wangsataruna yang sekarang dalam tengah perjalanan membawa 2.000 orang. Dimana 2.000 orang itu akan diserahkan kepada Ki Singaperbangsa dan Ki Wirasaba yang telah diangkat sebagai Wadana.Kedua orang itu diangkat wedana oleh Raja. Bila surat pengangkatannya sudah datang, mereka harus ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah nagara agung di sebelah barat.Piagam ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan Mulud tahun Alif. Yang menulis piagam ini ialah Anggaprana. Selesai.”

Dalam tulisannya, Brandes menjelaskan bahwa Sultan Agung telah memerintahkan Kiai dari Banyumas dan Kanduruan dari Ayah (Galuh) untuk pergi ke Karawang dan membuka lahan pertanian di daerah barat yang berbatasan dengan Banten.

Dan selanjutnya Singaperbangsa ditempatkan di Karawang, Aria Wirasaba dari Banyumas ditempatkan di Tanjung pura, dan Wiratanu dari Cirebon ditempatkan di Cianjur.

Adapun 2000 penduduk yang dibawa oleh Yudabangsa dibagi-bagi sebagai berikut :

  1. Adipati Singaperbangsa mendapat 1000 orang dan mereka digabungkan dengan rakyat Udug-Udug yang sebelumnya dibawa oleh ayahnya, Wiraperbangsa, sewaktu mengusir Pangeram Pager Agung dari Banten.
  2. Aria Wirasaba mendapat tiga ratus orang dan diperintah tinggal di Waringinpitu, sebuah kubu pertahanan yang sebelumnya didirikan untuk membendung gerakan pasukan Banten di Karawang.
  3. Wira Tanu dari Cirebon mendapat tiga ratus orang yang kemudian dibawanya ke Cianjur.
  4. Sedangkan di Tanah Datar (Ciasem) terdapat 400 orang, dan disebutkan adanya keterlibatan Patih Mataram, Tumenggung Singaranu dari Banyumas dalam penempatan penduduk di sana.

Berita lainnya tentang peristiwa tersebut tercantum dalam Dagregister VOC 7 maret 1687 dimana tertulis bahwa ada sebuah surat dari beberapa umbul Ciasem yang menerangkan bahwa pemerintahan sebelum Sunan Tegalwangi, yakni masa Sultan Agung, telah mengirim 2000 orang ke wilayah Karawang dibawah pimpinan Ngabehi Yudabangsa, Adipati Singaperbangsa dan Tumenggung Arya Wirasaba.

Ngabehi Yudabangsa kemudian membagi kekuasaan di wilayah Karawang kepada 5 umbul. Para umbul itu ditempatkan sepanjang Ciasem sampai ke timur, hingga sampai Sigadon (Cigadung?) sedangkan ke baratnya sampai Sungai Cilamaya.

Nama Yudabangsa yang disebutkan dalam piagam, menurut Dagregister 23 juni 1679 adalah orang bernama Wangsayuda yang masih termasuk kelompok pemimpin Karawang, dan menurut catatan dari tahun 1678 ia merupakan petugas administrasi pengatur beras/ padi di Karawang.

Sementara pada bagian lainnya tercantum berita bahwa sebelum kedatangan Singaperbangsa, Sultan Agung sudah memerintahkan Rangga Gede dari Sumedang untuk menunjuk Astrawardana sebagai penguasa wilayah antara Cipamingkis dan Cilamaya.

Astrawardana bertugas menjaga lumbung padi yang akan diangkut oleh Adipati Singaperbangsa yang lokasi lumbungnya berada di Kalapadua, daerah Batujaya/Pakis.

Keberadaan lumbung padi Sumedang di sana nampaknya sudah berlangsung lama karena pada tahun 1624 Kompeni memberitakan jika banyak perahu berlayar ke Tanjung Karawang (Karawang Utara) yang dikenal banyak kayu jati dan bambu, dan di sana juga sering ada pengiriman beras dan perahu pengangkutnya dipungut pajak.

Berdasarkan perhitungan Brandes, peristiwa pengangkatan Adipati Singaperbangsa dan Arya Wirasaba sebagai Bupati Karawang terjadi pada tanggal 14 September 1633.

Peristiwa tersebut kemudian dijadikan sebagai titik awal lahirnya Kabupaten Karawang. Berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah KabupatenKarawang No.170/Pem/H/SK/1968, dimana telah ditunjuk R.H Achmad Memed, R. Ahmad Martasasmita, Suhud Hidajat, H.S Ronggowalujo, R.K Sastrakusumah dan R. Suntaraamidjaja sebagai Panitia Penyusunan Sejarah Kabupaten Karawang, yang menetapkan tanggal 14 September sebagai Hari Berdirinya Kabupaten Karawang.

Pemerintahan Pertama Kabupaten Karawang

Singaperbangsa dan Wirasaba ditunjuk menjadi Wedana Nagara Agung oleh Sultan Agung pada tahun 1633 dan dianggap sebagai koloni awal di wilayah barat Mataram (westerlanden).

Menurut Piagam Plat Kuning Kandang Sapi, Singaperbangsa ditempatkan di Tanjungpura, tapi kemudian dia meminta pindah ke Teluk Bunut dan mendirikan Kampung bernama Bakan Karawang. Sementara itu Wirasaba tinggal di Waringinpitu, sebuah daerah yang berada diantara Udug-Udug dengan Tanjungpura.

Sama seperti halnya Singaperbangsa, Wirasaba juga kemudian meminta pindah ke Tanjungpura, yakni ke daerah bernama Parakan Sapi. Tugas dari kedua bupati tersebut adalah mengolah tanah Karawang yang berupa rawa-rawa menjadi pesawahan guna memenuhi kebutuhan pangan prajurit Mataram yang akan menyerang Batavia.

Selain itu mereka juga ditugaskan menjaga keamanan wilayah tersebut dari ancaman Banten dan para perompak. Tetapi satu tahun setelah pengangkatan kedua bupati Karawang tersebut, ternyata hubungan Mataram dan Belanda mengalami perubahan.

Sejak tahun 1634 Mataram dan Kompeni memutuskan untuk berdamai dan Sultan Agung tidak lagi berniat menyerang Batavia setelah bantuan Portugis tidak bisa lagi diharapkan. Dengan demikian pasokan logistik dari Karawangpun tidak lagi untuk persediaan perang melainkan dikirim ke Mataram dan juga untuk kebutuhan perdagangan dengan Batavia.

Untuk keperluan pengiriman hasil bumi ke luar Karawang, Adipati Singaperbangsa kemudian membangun Pelabuhan Dipala di Ciparage (Tempuran). Dengan demikian pemukiman yang dibangun Singaperbangsa pada awal pemerintahannya adalah Udug-Udug, Bakan Karawang dan Dipala Ciparage, sedangkan Wirasaba membangun Waringinpitu dan Parakan Sapi.

Saudara Wirasaba yang bernama Nayataruna kemudian diperintah membuka perkampungan baru dekat Kali Karanggelam. Daerah tersebut diberi nama Tartanagara, tetapi kelak lebih dikenal dengan sebutan Adiarsa.

Leave a Comment