Pada 16 Oktober 2024, Asep R Sundapura bersama Universitas Singaperbangsa Karawang memaparkan narasi kesejarahan Rengasdengklok dalam sebuah forum yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia bagian timur.
Kegiatan ini menjadi ruang temu pengetahuan sekaligus penguatan kesadaran sejarah, terutama bagi generasi muda yang berasal dari wilayah dengan latar sosial dan budaya yang beragam.
Narasi yang disampaikan tidak hanya menekankan kronologi peristiwa, tetapi juga menggali makna strategis Rengasdengklok dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Rengasdengklok sendiri dikenal sebagai lokasi penting dalam Peristiwa Rengasdengklok, ketika golongan muda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang.
Peristiwa yang terjadi pada 16 Agustus 1945 tersebut menjadi titik krusial yang mempercepat lahirnya Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Dalam pemaparannya, Asep R Sundapura menekankan bahwa Rengasdengklok bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol keberanian, desakan moral, dan dinamika pemikiran antara generasi muda dan tua dalam menentukan arah bangsa.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana sejarah lokal memiliki posisi penting dalam memperkaya narasi nasional. Mahasiswa dari Indonesia bagian timur yang hadir diajak untuk melihat bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya milik satu wilayah, tetapi merupakan hasil kontribusi berbagai daerah dengan karakter dan dinamika masing-masing.
Dengan demikian, pemahaman terhadap sejarah Rengasdengklok menjadi pintu masuk untuk memahami kompleksitas perjuangan bangsa secara lebih utuh.
Sebagai penggiat literasi lokal, Asep R Sundapura menyampaikan bahwa penguatan narasi kesejarahan harus terus dilakukan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Ia menegaskan, “Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi fondasi identitas dan arah masa depan. Melalui literasi lokal, kita merawat ingatan kolektif sekaligus membangun kesadaran kebangsaan yang lebih kuat.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya upaya literasi sejarah yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan upaya akademik dalam mengintegrasikan sejarah lokal ke dalam kajian pendidikan tinggi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis sejarah lokal mampu meningkatkan pemahaman kritis mahasiswa terhadap sejarah nasional serta memperkuat rasa memiliki terhadap bangsa.
Dengan menghadirkan narasi Rengasdengklok dalam forum lintas daerah, UNSIKA turut berperan dalam menjembatani pemahaman sejarah yang inklusif dan berimbang.
