Bertemu Para Petani, Asep R Sundapura Kupas Makna Kebudayaan Dalam Dunia Tatanen

Budayawan Asep R. Sundapura bertemu dan berbicara dengan para petani dalam sebuah ruang dialog yang hangat namun sarat kegelisahan. Ia menyampaikan bahwa kebudayaan tatanen atau pertanian di era sekarang tidak cukup hanya dipahami sebagai praktik simbolik seperti nyajen, nyawen, ataupun penghormatan kepada Sri Pohaci. Menurutnya, pemaknaan budaya agraris telah mengalami pergeseran yang menuntut pemahaman lebih luas, terutama pada aspek struktural yang selama ini kerap diabaikan.

Dalam pertemuan tersebut, Asep menegaskan bahwa para petani hari ini dipaksa untuk tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memahami persoalan yang lebih kompleks, seperti siklus distribusi air, sistem irigasi, hingga kepemilikan lahan. Ia menyatakan, “Kita tidak bisa lagi hanya berhenti pada simbol dan ritual. Kebudayaan tatanen hari ini harus dibaca juga sebagai sistem pengetahuan yang menyangkut siapa menguasai air, siapa memiliki tanah, dan bagaimana distribusinya berjalan.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan realitas yang dihadapi sektor agraris di Indonesia. Data dari berbagai kajian menunjukkan bahwa ketimpangan penguasaan lahan masih menjadi persoalan serius. Sebagian besar petani kecil menggarap lahan kurang dari 0,5 hektare, sementara distribusi air seringkali tidak merata akibat kerusakan infrastruktur irigasi maupun konflik kepentingan di tingkat lokal. Dalam situasi seperti ini, kearifan lokal yang dahulu menjadi penyangga keseimbangan ekosistem pertanian perlahan mengalami disrupsi.

Asep melihat bahwa kerusakan kearifan lokal bukan semata karena modernisasi, tetapi karena terputusnya hubungan antara nilai budaya dengan realitas ekonomi-politik agraria. Ia menambahkan, “Kalau kita tidak memahami struktur di balik pertanian, maka kearifan lokal hanya akan menjadi romantisme. Padahal, ia seharusnya menjadi alat untuk membaca dan memperbaiki keadaan.”

Dengan demikian, kebudayaan tatanen di era sekarang tidak bisa lagi diposisikan sebagai warisan statis. Ia harus berkembang menjadi kesadaran kritis yang menghubungkan tradisi dengan pengetahuan kontemporer. Dialog antara budayawan dan petani seperti ini menjadi penting, karena membuka ruang refleksi bahwa menjaga budaya agraris bukan hanya soal melestarikan ritual, tetapi juga memperjuangkan keadilan dalam sistem pertanian itu sendiri.

Leave a Comment