Darurat Seni Pertunjukan Karawang di Tengah Covid

Seni pertunjukkan saya anggap sebagai salah satu dari tiga subsektor ekonomi kreatif unggulan di Karawang. Bukan tanpa alasan, melainkan karena sejarahnya yang panjang, potensinya yang besar, serta perkembangannya yang sangat konsisten dari waktu ke waktu.

Sektor ini mencakup beragam bentuk ekspresi, baik tradisional maupun modern. Mulai dari pentas tari, topeng, hadroh, standup comedy, pameran karya atau kreasi, teater, hingga berbagai produk industri seni pertunjukan lainnya yang bersifat intangible dan dinikmati oleh audiens dalam sebuah tontonan. Kehadirannya tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga ruang apresiasi dan interaksi sosial.

Di Karawang sendiri, saya melihat sebagian besar seni pertunjukan hadir dalam konteks hajatan atau kegiatan komunitas. Namun di balik itu, terdapat ekosistem ekonomi yang cukup besar. Dari sektor ini lahir berbagai turunan industri seperti fashion (tata rias dan kostum), panggung (audio, lighting, dekorasi), event organizer, videografi, hingga kuliner seperti catering. Ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan bukan sekadar tontonan, tetapi juga penggerak ekonomi yang melibatkan banyak pihak.

Sayangnya, sektor ini termasuk yang paling terdampak ketika pandemi melanda pada tahun 2020, dan bahkan hingga tahun 2021 kondisinya belum banyak berubah. Para pekerja seni mengalami kesulitan untuk tampil dan menyalurkan kreativitasnya. Dampaknya tentu sangat terasa pada sisi ekonomi dan penghasilan mereka.

Sejauh yang saya ketahui, belum banyak bantuan yang secara spesifik menyasar para pekerja seni. Bantuan pemerintah, termasuk bantuan tunai, umumnya hanya dapat diakses jika mereka terdaftar sebagai pelaku UKM. Padahal tidak semua seniman berada dalam kategori tersebut.

Saya memahami bahwa seni pertunjukan memiliki potensi menimbulkan kerumunan dan berisiko terhadap penyebaran Covid-19. Namun jika solusi yang diambil hanya bersifat tunggal, yaitu pembubaran acara atau pelarangan pertunjukan, saya merasa pendekatan tersebut kurang bijak, terutama dalam konteks kebijakan pemerintah.

Menurut saya, di tahun 2021 pemerintah, khususnya pemerintah daerah, perlu memikirkan skema alternatif. Jika pertunjukan dilarang demi alasan kesehatan, maka perlu juga dipikirkan bagaimana para pekerja seni tetap dapat berkarya tanpa menjadi sumber penyebaran virus. Saya percaya, selalu ada cara untuk menjembatani kebutuhan kesehatan dan keberlangsungan ekonomi.

Beberapa alternatif yang saya bayangkan antara lain melibatkan pelaku seni dalam kampanye vaksinasi, promosi kesadaran protokol kesehatan, penyelenggaraan panggung digital yang disubsidi atau disponsori, hingga simulasi kegiatan seni yang tetap aman secara kesehatan namun tetap produktif secara ekonomi. Bahkan pendekatan yang lebih kreatif dan out of the box sangat mungkin untuk diwujudkan jika ada kemauan bersama.

Saya juga menyadari bahwa kondisi anggaran saat itu terbatas dan banyak dilakukan refocusing. Karena itu, persoalan ini tidak seharusnya hanya dibebankan pada satu dinas seperti Disparbud, tetapi perlu melibatkan berbagai dinas teknis lainnya agar solusi yang dihasilkan lebih komprehensif.

Mumpung masih di awal tahun, saya melihat ini sebagai momentum yang tepat bagi berbagai wadah seni budaya untuk duduk bersama. Kita perlu memetakan persoalan secara menyeluruh dan merumuskan solusi bersama, yang kemudian dapat dimusyawarahkan dengan pemerintah daerah. Harapannya, akan lahir kebijakan alternatif yang konkret di tengah masih berlakunya pembatasan terhadap event seni pertunjukan.

Sebagai bagian dari Forum Ekraf Karawang, saya sangat mengapresiasi jika ada organisasi, komunitas, atau paguyuban yang bergerak di bidang seni budaya yang memiliki semangat yang sama. Membangun kesepahaman dan bergerak bersama adalah langkah penting agar para pekerja seni tetap memiliki ruang untuk berkarya dan bertahan di tengah situasi yang penuh tantangan ini.

Leave a Comment