Ekonomi Kreatif dan Pilkada Karawang 2020

Sebagai seorang pemerhati Ekraf saya ingin bicara Pilkada dari persfektif dunia kreatif, dengan kaum milenial sebagai salah satu lokomotif pengembangannya.

Apakah Pilkada Karawang 2020 akan membawa pengaruh pada pengembangan Ekonomi Kreatif dan Kaum Milenial? Begitu dasar pemikiran saya.

Kita bahas kelompok milenial dulu atau Y-Generation. Saya mengutip salah satu data riset Kemendagri bahwa kelompok milenial adalah mereka yang berada pada rentang usia 20-30 tahun. Versi kategori usia milenial memang berbeda-beda versi. Saya ambil data pertengahan yang juga pernah dirilis resmi Kemendagri. Usia tersebut merupakan salah satu kategori penyumbang terbesar Bonus Demografi Indonesia 2035.

Di Kabupaten Karawang kelompok milenial berkisar di angka 600 ribuan, tepatnya 617.211 (Data BPS Kab. Karawang 2019) atau sekitar 37 % dari total pemilih Pilkada Karawang 2020. Jadi, seandainya kaum milenial Bersatu maka merekalah penentu siapa pemenang Pilkada Karawang 9 Desember nanti.

Sekarang kita coba telisik seperti apa visi atau konsep politik Cagub/Cawagub Karawang terhadap Kaum Milenial. Saya percaya, semua paslon mengetahui angka dan potensi kaum milenial. Mereka juga mungkin punya tim khusus dan strategi menggarap Market Milenial.

Tapi sebentar. Karena pada umumnya Orang Karawang itu belum tentu juga kenal Karawang maka situasinya akan terjadi seperti ini. Politikus, pejabat, tim sukses dan aktivis politik cenderung berbicara angka dan data hanya sebagai objek politik. Jumlah milenial sekian jumlah petani segini jumlah UKM segitu.

Besar kecenderungan persepsi budaya, sosial dan lainnya cenderung terabaikan. Dan dengan persfektif seperti itu maka percayalah strategi kampanye dan pendekatannyapun cenderung pendekatan politik formil seperti pertemuan tatap muka 1-2 jam, dialog sekali selesai, konten seadanya, program berbunga-bunga di kanal medsos dan cara-cara instan lainnya. Karena memang seperti itulah karakter politik lokal kita, belum sampai pada bedah anatomi yang spesifik.

Itu sebabnya kita belum pernah melihat semisal kampanye bersifat workshop atau bantu bikin IUMK/NIB untuk UKM, Kampanye Musik untuk milenial, atau Kampanye bercorak Budaya untuk garap seniman budayawan. Seolah-olah Karawang hanya dianggap hanya sebagai masyarakat politik belaka.
Demikian juga sejauh ini kita belum melihat pendekatan kampanye kreatif yang betul-betul menyentuh sensitifitas psikologi Kaum Milenial. Cagub/Cawagub mungkin melakukan pemetaan digital seperti menghitung seberapa banyak milenial Karawang yang menggunakan Medsos dan serta berapa porsi di FB dan IG. Intinya mereka tahu potensi besar Kaum Milenial.

Tapi saya ragu mereka memfolow up data itu secara detail hingga ke tingkat anatomy wilayah, demografis, pola sosial, dan kecenderungan minat.

Saya merasa seperti itu karena sejauh ini tidak terlihat ada kampanye kreatif menggarap kaum milenial yang berkesinambungan dan terstruktur berbasis data spesifik. Bahkan jumlah konten digital yang membidik kaum milenial berkisar di angka yang sangat minim, tidak sesuai dengan potensi market yang sangat seksi di kisaran 37%.

Saya juga heran dengan hampir tidak adanya konten menggunakan Adsense untuk mempengaruhi opini publik mengingat besarnya pengguna digital di Karawang, termasuk kaum milenial sebagai pengguna aktif.

Nah, sekarang kita bicara program. Sejauh ini baru Paslon No 2 yang menyinggung Isyu Milenial dengan Program Ekonomi Kreatifnya. Beberapa konten mereka juga menunjukan adanya keseriusan menggarap Pasar Milenial meski polanya masih belum begitu terstruktur.

Indikatornya bisa diukur dari quantity konten regular dan kampanye kreatif yang spesifik. Selama ini hampir semua paslon mengusung pendekatan tatap muka, ruang riung dan pasang baliho. Itupun dengan kebanyakan peserta di luar kategori milenial.

Apakah Anda melihat ada kampanye kreatif regular yang betul-betul membidik Suara Milenial? Saya bilang regular atau berkesinambungan, bukan hanya sekali dua kali bikin konten lalu merasa sudah garap milenial!

Memang betul, tanpa menggarap suara milenial-pun Bupati Baru tetap akan terpilih. Tapi sangat tidak diharapkan jika Angka Golputnya tinggi. Apalagi jika suara Golput terbesarnya disumbang Kelompok Milenial.

Lalu yang lebih tidak nyamannya adalah nanti setelah Pilkada selesai dan proses pembangunan dimulai. Dengan tidak adanya keseriusan terhadap Kaum Milenial di saat pemilihan, mungkinkah Pemimpin Terpilih akan peduli Milenial?

Karawang Kekinian tidak sama dengan Karawang kejadulan. Sekarang, Karawang sedang memasuki masa Bonus Demografi dimana jumlah anak mudanya sangat banyak. Mengabaikan kelompok milenial sama dengan meninggalkan separuh populasi dan level terpenting generasi muda. Ini yang tidak kita harapkan karena populasi anak muda Karawang (20-40 tahun) yang cukup banyak (41% dari total populasi penduduk/data 2019).

Saya tidak bilang bahwa masa depan Milenial Karawang di periode 2021-2025 tidak cerah, tapi mungkin sedikit berat dalam hal aktualisasi potensi di ranah pembangunan daerah jika Pemimpin Terpilih tidak menjadikan Ekonomi Kreatif sebagai salah satu Program Perubahannya.

Leave a Comment