Ada dua pertanyaan yang kerap muncul terkait kaos Getih Karawang, dan keduanya sebenarnya berangkat dari rasa ingin tahu yang wajar terhadap simbol serta narasi budaya yang dibawanya. Pertama, banyak yang mengira bahwa kalimat-kalimat di bagian belakang kaos merupakan versi lain dari Sa’adat Karawang.
Padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kalimat-kalimat itu merupakan hasil olahan dari beberapa nukilan bait Sa’adat Karawang yang kemudian dipadukan dengan potongan teks dari naskah yang dikaitkan dengan Sunan Ampel, sosok penting dalam penyebaran Islam di wilayah Nusantara, termasuk kawasan Sunda. Sisanya merupakan hasil kolaborasi kreatif agar susunan kalimat terasa lebih mengalir dan enak dibaca. Dalam konteks ini, aspek estetika dan kebutuhan komersial juga ikut berperan—“namanya juga dagang”—tanpa menghilangkan ruh budaya yang ingin disampaikan.
Pertanyaan kedua berkaitan dengan pemilihan simbol huruf “I” yang menggunakan lambang keris, bukan Bedok Lubuk atau kujang. Jika ditarik ke dalam konteks sejarah, Bedok Lubuk memang memiliki akar lokal Karawang, tetapi narasinya relatif lebih muda, yakni muncul sekitar abad ke-16 pada masa Singaperbangsa.
Sementara itu, semangat yang diangkat dalam Getih Karawang merujuk pada lapisan sejarah yang jauh lebih tua, bahkan hingga masa sebelum Tarumanagara, yakni era awal Masehi yang sering dikaitkan dengan fase Salakanagara atau Salakadomas dalam tradisi historiografi lokal. Oleh karena itu, Bedok Lubuk dianggap kurang merepresentasikan kedalaman historis yang ingin dihadirkan.
Pilihan terhadap kujang pun memiliki pertimbangan tersendiri. Secara simbolik, kujang memang sangat lekat dengan identitas Sunda, terutama dalam periode Kerajaan Pajajaran. Namun, sejumlah sumber filologis seperti naskah Karesian menunjukkan bahwa pada abad ke-14 hingga ke-15, keris telah lebih dahulu memperoleh status sebagai pusaka kerajaan, sementara kujang masih diposisikan sebagai alat yang lebih dekat dengan kehidupan agraris, yakni sebagai pegangan para petani. Baru pada periode akhir Pajajaran hingga masa modern, nilai simbolik kujang sebagai pusaka mengalami penguatan dan reinterpretasi budaya.
Dalam perspektif yang lebih luas, penting juga untuk tidak terjebak pada dikotomi modern yang memisahkan keris sebagai identitas Jawa dan kujang sebagai identitas Sunda. Secara historis dan kultural, keris juga merupakan bagian dari khazanah pakarang (senjata) masyarakat Sunda.
Dalam tradisi lisan dan cerita rakyat Sunda, keris kerap disebut sebagai duhung. Kisah-kisah klasik seperti Mundinglaya Dikusumah menyebutkan adanya Duhung Buta Tulah Tonggong yang diberikan sebagai pusaka, sementara dalam legenda Ciung Wanara, tokoh Layung Batik memiliki Duhung Gagak Karancang sebagai senjata andalannya. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan keris dalam budaya Sunda bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari warisan yang telah lama hidup dalam memori kolektif masyarakat.
Dengan demikian, pemilihan simbol keris dalam kaos Getih Karawang bukan sekadar estetika visual, melainkan hasil pertimbangan historis, filosofis, dan kultural yang mencoba menjembatani masa lalu yang panjang dengan ekspresi kekinian. Ia bukan hanya tentang identitas yang terlihat di permukaan, tetapi juga tentang lapisan-lapisan makna yang terkandung di dalamnya—sebuah upaya untuk merawat ingatan, sekaligus mengemasnya agar tetap relevan di zaman sekarang.
