Yang Hot dari Karawang: Kuta Tandingan dan Mitos Perempuan Karawang Sang Penggoda

Ada beberapa label tentang Karawang—berdasarkan penelitian kecil-kecilan di lapangan, opini umum, dan cerita yang berkembang—yang menyebutkan bahwa selain sebagai kota lumbung padi dan industri, ternyata Karawang juga terkenal dengan goyangannya, perempuannya yang dianggap penggoda, serta anggapan bahwa jika menikah, perempuan Karawang suka meminta maskawin atau babawaan yang banyak.

Betulkah demikian? Yuk, kita lihat dari sisi sejarahnya.

Berdasarkan pantun kuno, Kuta Tandingan dahulu merupakan sebuah kerajaan bawahan Pajajaran. Jangan heran jika tidak banyak ditemukan dalam buku sejarah formal, karena sejarah Sunda masih banyak yang belum terungkap—contohnya kerajaan Salakanagara, Kendan, Saunggalah, dan lain-lain. Oleh karena itu, kita bisa menggunakan sumber sejarah tradisional seperti pantun, babad, dan naskah kuno sebagai referensi awal.

Menurut pantun tersebut, di Kuta Tandingan terdapat seorang ronggeng bernama Arum Tineung atau Nyi Kamin. Ia diperintahkan oleh gurunya untuk menggoda kaum lelaki yang gemar menyakiti istri-istrinya.

“Ka sakur lalaki anu ngan nganyenyeri awewe, Arum Tineung kudu ngagoda dina tampilan anu geulis. Tah lamun eta lalaki nu sok nganyenyeri awewe hayang ngawin, maka maneh (Arum Tineung) kudu menta pamahugi anu loba pisan piduiteunana. Terus eta duit bagikeun ka sakabeh awewe anu hirupna susah jeung dinyenyeri lalaki.”

Dari kisah tersebut, mungkin saja muncul anggapan atau “sinetron sosial” yang berkembang di masyarakat, bahwa:

  1. Karawang terkenal dengan goyangannya (wajar, karena sejak dahulu Karawang memiliki banyak ronggeng),
  2. Perempuan Karawang dianggap penggoda (bahkan pernah ada yang mengeluhkan hal ini, seperti istri dari seorang kenalan yang khawatir suaminya tergoda saat bekerja di Karawang, atau pengalaman memiliki atasan perempuan yang tidak menyukai perempuan Karawang karena pengalaman pribadi),
  3. Perempuan Karawang dianggap meminta babawaan atau maskawin yang besar (hingga membuat sebagian pria dari luar Karawang merasa khawatir untuk menikah dengan gadis Karawang).

Namun, semua anggapan tersebut tentu tidak benar. Hal-hal seperti itu bisa terjadi di mana saja, apalagi di era konsumtif seperti sekarang. Terkadang, hal tersebut hanya kebetulan semata—misalnya ada yang “kurang beruntung” mendapatkan pasangan yang materialistis, atau menemukan sosok perempuan yang dianggap “penggoda”.

Opini negatif seperti ini sering berkembang begitu saja, seperti virus, dan tentu merugikan Karawang serta masyarakatnya.

Padahal, dalam pantun kuno justru ditegaskan bahwa hanya lelaki yang tidak setia yang akan tergoda di Karawang—yang sebenarnya berlaku di mana saja. Di sinilah letak misi dari Ronggeng Arum Tineung atau Nyi Kamin, yang seolah “menular” hingga ke masa sekarang.

Jika dianalogikan, mungkin seperti virus Ebola—he..he… Tapi begitulah yang kemudian disebut sebagai “kutukan Karawang”.

Dan yang paling kasihan, tentu saja para gadis Karawang masa kini yang ikut terkena dampak dari stigma tersebut.

 

Leave a Comment