Yang Hot dari Karawang: Kuta Tandingan – Misteri Kota Kuno Karawang

Kuta Tandingan baru muncul dalam lima tahun terakhir, yakni sejak ramainya isu pembangunan bandara. Dari situlah kawasan di Kecamatan Ciampel mulai tereksplorasi, termasuk sisi sejarah dan budayanya. Nah, berikut ini beberapa poin menarik tentang Kuta Tandingan:

Menurut dongeng rakyat Karawang, Kuta Tandingan adalah sebuah dayeuh (kota) kuno pada masa Kerajaan Sunda. Wilayahnya mencakup tujuh kuta, yaitu: Kuta Masigit, Kuta Meriam, Kuta Kolambu, Kuta Gombong, Kuta Sejati, Kuta Maneuh, dan Kuta Larang. Setiap kuta memiliki sejarahnya masing-masing dan melambangkan fase tujuh ratus tahun kebangkitan Sunda, seperti tercantum dalam Uga Siliwangi.

Kuta Tandingan sendiri berarti kota yang tidak tertandingi. Saya rasa hal ini mungkin ada hubungannya dengan pantun kuno yang menjelaskan bahwa Kuta Tandingan tidak dapat dikalahkan oleh kerajaan lain dalam sayembara Putri Sumur Agung. Kuta Tandingan hanya takluk pada Pajajaran, itupun melalui jalan pernikahan.

Dongeng lokal lainnya juga menuturkan bahwa di Kuta terdapat goa bawah tanah yang terhubung ke Pakuan dan Solo. Selain itu, konon terdapat harta karun peninggalan penjajah Jepang dan pengungsi Majapahit. Banyak orang bertapa dan berziarah ke goa Kuta (ssst, kita mah jangan ikut-ikutan).

Dalam sejarah klasik, Kuta Tandingan disebut sebagai ibu kota pertama Karawang, tepatnya di Kampung Udong-udong. Di situlah Raden Singaperbangsa yang datang dari Galuh mendirikan pusat pemerintahannya untuk melawan pasukan Banten. Sisa peninggalannya, seperti peralatan rumah tangga, benteng, senjata, dan pondasi bangunan, masih dapat ditemukan di sana.

Sementara itu, peninggalan berupa bebatuan dan watu lingga menunjukkan bahwa Kuta Tandingan pernah menjadi permukiman pada masa megalitikum, sekaligus lokasi kabuyutan atau mandala (tempat ibadah dan belajar para pandita agama Jatisunda—setara dengan paguron atau pesantren dalam tradisi Islam).

Sultan Agung Mataram bahkan menamakan wilayah Kuta dan sekitarnya (Rangka Sumedang/Karawang) sebagai Negara Agung di Kulon.

Di beberapa lokasi, menurut cerita rakyat, terdapat petilasan Prabu Siliwangi, Syeh Quro, dan Amuk Marugul. Jejaknya memang hanya berupa batu, tetapi jika kita memahami Jatisunda, barulah kita akan mengerti makna dari batu-batu tersebut.

Juru kunci Kuta bernama Ki Hideung, sosok penuh misteri (kini telah almarhum). Kuta Tandingan sendiri berada di bawah pengelolaan Perhutani, dan sebagian wilayahnya kini telah menjadi kawasan industri—bahkan terdapat pula kompleks pemakaman mewah.

Dahulu, terdapat jalur perdagangan yang ramai dari Pakuan Pajajaran – Cilengsi – Tanjungpura – Kuta – Cikao – Sagaraherang hingga ke Sumedanglarang dan Kawali. Jejaknya masih bisa ditemukan hingga sekarang.

Sebelum tahun 2000-an, banyak orang Baduy yang datang ke Kuta.

Leave a Comment