Yang Hot dari Karawang: Ronggeng-Ronggeng Legendaris Karawang

Beberapa waktu lalu melakukan penelusuran budaya tentang Ronggeng Karawang. Diketahui bahwa selain dikenal sebagai kota industri dan lumbung padi, Karawang juga dikenal dengan label: Goyang Karawang, perempuan yang penggoda & suka minta babawaan kawin yang banyak, serta memiliki ikon wisata paling terkenal yaitu Curug Cigeuntis (selain Candi Jiwa dan Rumah Bung Karno).

Nah, tahukah Anda bahwa hal-hal di atas ternyata memiliki kaitan sejarah dengan para ronggeng? Yuk, kita simak supaya lebih mengenal Karawang.


1. Ronggeng Arum Tineung (Nyi Kamin)

Setelah Pajajaran runtuh, Nyi Arum Tineung mendapat tugas dari Ki Lengser untuk mengembara di Kuta Tandingan, Tegal Alur, Rawagede, Pajampangan, dan Jayakarta. Ronggeng ini harus menggoda para lelaki yang suka menyakiti istri-istrinya.

Jika lelaki tersebut ingin menikahinya, maka ia harus meminta pahugi/babawaan yang banyak, di mana babawaan itu nantinya harus dibagikan kepada perempuan-perempuan yang hidupnya susah.

Apakah karena “kutukan Nyi Arum” ini kemudian perempuan Karawang dianggap penggoda dan suka meminta babawaan yang banyak? Tentu saja tidak. Hal ini hanya kajian sastra saja. Perempuan penggoda dan materialistis bisa ada di mana saja (yang jelas bukan di grup Karin).

Sumber: Kajian Pantun Pajajaran Ronggeng Kala Sirna. Pantun ini termasuk pantun Bogor lainnya oleh ahli sejarah Belanda bernama Pleyte, yang dianggap sebagai sumber sejarah paling lengkap mengenai Pajajaran.


2. Ronggeng Nyi Geuntis

Keberadaan Cigeuntis di zaman modern diketahui pasca proklamasi. Wilayah tersebut sempat ditinggalkan penduduk karena adanya gerombolan DI. Dahulu, curug itu belum memiliki nama.

Namun, di wilayah dekatnya (sekarang masuk daerah Bogor), ada seorang ronggeng yang sangat terkenal bernama Nyi Geuntis. Setelah Nyi Geuntis meninggal dan curug tersebut ditemukan, maka diberilah nama Cigeuntis.

Nyi Geuntis dimakamkan di atas Batu Tumpang, arah Curug Bandung. Di atas Desa Jayanti, yaitu di Kebon Jambe, terdapat sebuah batu lingga yang saya sebut sebagai Watu Ronggeng, karena sejak puluhan tahun selalu diziarahi para peronggeng dan penyanyi yang ingin “laris manis” (tolong jangan ditambah asam asin… itu mah Nano-Nano).

Sumber: Wawancara dengan juru kunci terakhir Cigeuntis (beliau sebenarnya bukan juru kunci karena gagal dalam ujian akhir untuk menjadi kuncen Cigeuntis, tetapi dianggap sebagai orang terakhir yang mengetahui riwayat Nyi Geuntis).
Ujian akhirnya harus mandi di kolong dipan jenazah juru kunci terakhir yang sedang dimandikan, yaitu Nyi Fatimah. Hii… serem juga ya. Peristiwanya sekitar tahun 1970-an. Mangga ka urang Loji–Cigeuntis bila ingin menambah atau mengurangi informasi.


3. Ronggeng dan Asal-Usul Goyang Karawang

Karena sering menjadi juara ronggeng tingkat kabupaten, Nyi Itoh Masitoh yang tinggal di Kecamatan Pedes diminta mewakili Karawang mengikuti lomba tari tradisional di Bandung. Di sana, ia berhasil menjadi juara.

Namun, yang paling fenomenal dari penampilannya adalah sebuah gerakan tari berupa Lele Ngongser Jika ia menari seperti itu, semua penonton bersorak dan meneriakinya: “Goyang Karawang!”

Karena pakem tari seperti itu terkesan “liar”, “erotis”, dan berani untuk ukuran masa itu—padahal saingannya para penari Parahyangan yang lembut dan santun seperti widadari (cie, seperti yang sudah pernah lihat widadari saja).

Setelah acara, Nyi Itoh masuk media (RRI) dan sering ditanyakan soal Goyang Karawang. Dari situlah, lambat laun istilah Goyang Karawang mulai dikenal dan semakin populer, terutama ketika dinyanyikan oleh penyanyi dangdut (entah Iis Karlina atau Cita Citata, yang penting mah penyanyi dangdut weh!).

Goyang Karawang dikenal bukan karena keindahan dan kelembutan gerakannya, tetapi justru karena keberanian dan kehebohannya.

Asal-usul Goyang Karawang sendiri memang memiliki banyak versi. Ada yang secara filosofis menyebut bahwa Karawang “menggoyang” Indonesia melalui perjuangannya melawan penjajah. Ada juga yang mengaitkannya dengan kemunculan Jaipong dari Pak Suwanda. (Jangan diributkan—semuanya benar supaya kita tidak tawuran).

Leave a Comment