Dari Surau yang Roboh ke Negeri yang Rapuh

Saya sering teringat pada karya A. A. Navis, Robohnya Surau Kami. Sebuah cerita yang sederhana, tetapi menyimpan kritik sosial yang begitu dalam. Pada zamannya, keruntuhan nilai digambarkan sebagai akibat dari ideologi yang menggerus kesadaran manusia—komunisme menjadi salah satu bayang-bayang yang dianggap meruntuhkan sendi kehidupan.

Namun hari ini, saya melihat sesuatu yang berbeda. Bukan lagi komunisme yang menjadi ancaman utama. Ideologi itu, bagi saya, sudah kehilangan spiritnya untuk benar-benar “manggung” di era modern. Yang justru tumbuh subur dan bergerak liar adalah sesuatu yang jauh lebih halus, tetapi juga jauh lebih berbahaya: hoakisme.

Hoakisme bukan sekadar kebohongan. Ia adalah cara berpikir, cara menyebarkan informasi tanpa tanggung jawab, tanpa verifikasi, tanpa nurani. Ia hidup di tengah kita—di layar gawai, di percakapan sehari-hari, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menjadi tempat mencari kebenaran.

Saya melihat bagaimana satu kabar yang belum tentu benar bisa menyulut emosi banyak orang. Satu narasi bisa membelah persaudaraan. Satu unggahan bisa memicu kebencian yang meluas. Dan yang lebih mengkhawatirkan, semua itu terjadi begitu cepat—tanpa sempat disaring oleh akal sehat.

Jika dulu ada kekhawatiran tentang perang ideologi, maka hari ini kita sedang menghadapi perang persepsi.

Saya kadang membayangkan, betapa mudahnya negeri ini dijadikan seperti Baratayudha—medan konflik yang penuh adu domba—hanya dengan satu letupan informasi yang tidak benar. Tidak perlu senjata, tidak perlu pasukan. Cukup satu kabar palsu yang disebarkan dengan masif, dan kita saling berhadapan sebagai lawan.

Di titik ini, saya merasa bahwa keruntuhan yang kita hadapi bukan lagi bersifat fisik, tetapi batiniah. Bukan bangunan yang roboh, melainkan kepercayaan. Bukan surau yang runtuh, melainkan nalar dan kebijaksanaan kita sebagai masyarakat.

Padahal, jauh sebelum semua ini terjadi, kita sudah diingatkan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Hey orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujuraat: 6)

Ayat ini terasa sangat relevan hari ini. Seolah menjadi penegasan bahwa persoalan informasi bukanlah hal sepele. Ia bisa menjadi sumber kebaikan, tetapi juga bisa menjadi sumber kerusakan.

Sebagai manusia, kita mungkin tidak bisa menghentikan arus informasi. Tetapi setidaknya kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari arus yang menyesatkan. Kita bisa belajar untuk menahan diri, untuk memeriksa, untuk berpikir sebelum percaya—apalagi sebelum menyebarkan.

Saya menulis ini bukan sebagai orang yang paling benar. Justru sebaliknya, saya juga bagian dari masyarakat yang sering kali lalai. Tetapi mungkin, dari kegelisahan kecil seperti ini, kita bisa mulai membangun kesadaran bersama.

Bahwa menjaga kebenaran adalah tanggung jawab kita semua.
Bahwa tidak semua yang viral itu benar.
Dan bahwa satu kebohongan kecil bisa berdampak besar bagi kehidupan banyak orang.

Jika dulu sebuah surau bisa roboh karena kehilangan makna, maka hari ini sebuah negeri bisa runtuh—bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan kejujuran.

Dan mungkin, dari situlah kita harus mulai memperbaiki diri.

Leave a Comment