Saya cukup terkesan ketika memikirkan konsep-konsep kosmologi Sunda Kuno. Di dalamnya terdapat cara pandang yang utuh tentang kehidupan—bukan hanya melihat langit sebagai sumber spiritualitas, tetapi juga bumi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laku hidup manusia.
Salah satu contoh menarik adalah simbologi perkawinan dua buana, seperti bersatunya Dewi Sri dengan Dewa Kuwera. Dalam pemaknaan kosmologis, pertemuan ini bukan sekadar mitologi, melainkan gambaran tentang bersatunya karunia Tuhan: air hujan (Kuwera) yang turun dari langit bertemu dengan tanaman (Sri) yang tumbuh di bumi. Dari pertemuan itu lahirlah kehidupan—pangan, kesejahteraan, dan keberlangsungan manusia.
Di sini kita melihat sebuah konsep besar: sinergi dua kosmos, dua dunia, dua kehidupan spiritual antara langit dan bumi. Langit tidak berdiri sendiri, dan bumi pun bukan sekadar tempat berpijak. Keduanya saling melengkapi dalam harmoni yang sakral.
Namun, sesuatu yang tampaknya mulai hilang dalam kehidupan orang Sunda sekarang adalah keseimbangan itu. Kita cenderung hanya memandang langit (vertikalisme) sebagai satu-satunya sumber spiritualisme, sementara anasir-anasir spiritual yang hidup di bumi (horizontalisme) mulai diabaikan. Padahal, dalam kosmologi Sunda lama, keduanya tidak pernah dipisahkan.
Dalam tradisi lisan dan praktik kearifan lokal, kita mengenal istilah seperti kawin cai, kawin oray, ataupun kawin embun. Istilah-istilah ini bukan untuk dipahami secara harfiah, melainkan sebagai simbol penyatuan energi alam, keseimbangan unsur kehidupan, dan relasi manusia dengan semesta. Pemaknaan seperti ini memang hanya dapat diterima pada tataran hakikat dan tarekat, bukan semata-mata syariat—meskipun pada akhirnya semua bermuara pada makrifat yang sama.
Pandangan ini sejatinya sejalan dengan nilai universal yang juga tercermin dalam ajaran agama. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
“Jika kalian menyayangi yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.”
Pesan ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan bumi bukanlah hubungan eksploitatif, melainkan relasi kasih sayang. Merawat bumi berarti menjaga keseimbangan spiritual itu sendiri.
Dalam konteks Sunda, konsep seperti ini juga dapat ditelusuri dalam naskah-naskah lama seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian (abad ke-16), yang menekankan harmoni hidup, etika terhadap alam, dan keseimbangan antara dunia atas (buana nyungcung), dunia tengah (buana pancatengah), dan dunia bawah (buana larang). Begitu pula dalam kepercayaan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, yang hingga kini masih hidup dalam tradisi agraris masyarakat Sunda.
Dengan demikian, kosmologi Sunda Kuno sesungguhnya mengajarkan bahwa spiritualitas tidak hanya berada di langit yang jauh dan abstrak, tetapi juga hadir di bumi yang kita pijak setiap hari—dalam air, tanah, tumbuhan, dan seluruh kehidupan.
Barangkali yang perlu kita lakukan hari ini bukan sekadar mengingat kembali konsep-konsep itu, tetapi mencoba merasakannya kembali dalam laku hidup. Bahwa antara langit dan bumi tidak pernah benar-benar terpisah—yang terpisah hanyalah cara pandang kita.
