Salah satu buku yang cukup menarik dan telah saya baca beberapa kali adalah Angsa-Angsa Liar karya Jung Chang, seorang eks Tentara Merah. Buku ini mengisahkan perjalanan panjang perjuangan kaum komunis di bawah pimpinan Mao Zedong dalam menguasai Tiongkok, termasuk di dalamnya program Revolusi Kebudayaan yang dikenal sangat brutal dan penuh gejolak.
Yang menarik dari buku tersebut adalah satu kenyataan yang sering luput dari perhatian: bahkan di negeri asalnya sendiri, kaum komunis “sejati” tidak selalu mendapatkan tempat. Mereka justru kerap disingkirkan, ditelikung, atau dikalahkan oleh kelompok-kelompok pragmatis yang lebih mengedepankan kepentingan kekuasaan daripada ideologi. Jika di tanah kelahirannya saja demikian, apalagi di negeri yang mayoritas penduduknya memiliki latar belakang religius yang kuat.
Dalam teori klasik, gerakan komunisme dikenal memiliki pola perjuangan dari bawah—menguasai desa untuk kemudian menaklukkan kota. Strategi ini menempatkan rakyat sebagai basis utama perubahan, dengan harapan tercipta transformasi sosial yang berakar dari massa.
Namun jika kita melihat realitas hari ini, pola tersebut tampak mengalami pergeseran. Yang terjadi justru sebaliknya: upaya menguasai pejabat untuk mengendalikan rakyat, serta mengepung birokrasi untuk melemahkan kelompok yang seharusnya menjadi representasi kelas bawah. Bahkan konsep seperti “angkatan ke-5” pun seolah tidak lagi relevan atau tidak dilirik dalam praktik kekuasaan modern.
Fenomena ini menjadi semacam antitesis dari komunisme klasik. Ideologi yang semula berbicara tentang perjuangan kelas dan keberpihakan kepada kaum proletar, dalam praktiknya justru bisa berubah menjadi alat kepentingan segelintir pihak.
Karena itu, saya melihat akar persoalan yang terjadi hari ini tidak semata-mata terletak pada komunisme sebagai ideologi. Melainkan lebih pada kebijakan ekonomi dan arah pembangunan nasional yang membuka ruang bagi praktik-praktik kekuasaan yang tidak terkendali. Dalam konteks tertentu, bahkan memungkinkan negara dengan kecenderungan sosialistik untuk bertindak semaunya, termasuk dalam hal yang bersinggungan dengan nilai-nilai keagamaan.
Di titik ini, persoalan tidak lagi sesederhana pertentangan ideologi kanan dan kiri. Yang muncul justru fenomena “komprador”—kelompok yang lebih mengabdi pada kepentingan sempit, bahkan bisa dikatakan mengkhianati kepentingan bangsanya sendiri.
Ironisnya, sebagian dari mereka barangkali tidak benar-benar memahami konsep-konsep dasar yang sering mereka klaim atau gunakan. Istilah seperti jalan progresif, perjuangan kelas, Marxisme-Leninisme, atau bahkan gagasan kiri baru, bisa jadi hanya menjadi jargon kosong. Sebab yang sesungguhnya mereka pahami dan perjuangkan hanyalah kepentingan perut sendiri.
Pada akhirnya, membaca buku seperti Angsa-Angsa Liar bukan hanya soal memahami sejarah Tiongkok, tetapi juga menjadi cermin untuk melihat dinamika kekuasaan hari ini. Bahwa ideologi, sekuat apa pun ia dirumuskan, tetap bisa berubah arah ketika berhadapan dengan kepentingan pragmatis manusia.
Dan di situlah, literasi menjadi penting—agar kita tidak hanya melihat permukaan, tetapi mampu membaca lapisan-lapisan yang lebih dalam dari setiap peristiwa sosial dan politik yang terjadi di sekitar kita.
