Di dalam tradisi lisan Sunda, ada banyak ungkapan yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang hidup, harapan yang dititipkan, dan cinta yang disembunyikan dalam kesunyian. Salah satunya adalah Sabda Sangkala berikut ini:
“Sangsara koeat nandangan, prihatin djero ngabakti, soepaja di djaman noe bakal datang, anak intjoe satoeroenan djaoeh tina pantjabaja, diparekkeun redjekina, dibersihkeun pangrasana, ditjaangkeun pangdeuleuna, dihampangkeun dina nindakna, ngoeloewoeng pigaloereuna, ioeh pidjalaneunana, dihampoera kabeh dosana, ambeh dimana datang mangsana moelang raga tanpa rasa, dipitineung koe noe tinggaleun.”
Jika kita resapi perlahan, kalimat-kalimat ini adalah potret paling jujur tentang bagaimana orang tua mencintai anak-anaknya—bukan dengan kata-kata yang manis, tetapi dengan pengorbanan yang sering kali tak terlihat.
Cinta yang Diam-Diam Bekerja
Orang tua, dalam banyak kebudayaan termasuk Sunda, tidak selalu pandai mengucapkan “aku sayang kamu”. Tetapi mereka menunjukkannya dengan cara lain: dengan menanggung sangsara, dengan hidup dalam prihatin, dan dengan terus ngabakti—mengabdi sepenuh hati demi masa depan anak-anaknya.
Dalam Sabda Sangkala itu, tergambar jelas bahwa segala kepayahan yang dijalani bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk generasi yang akan datang:
- agar anak cucunya dijauhkan dari bahaya
- agar rezekinya dilapangkan
- agar hatinya dibersihkan
- agar langkah hidupnya dimudahkan
- agar jalannya diterangi
Ini adalah bentuk cinta yang tidak meminta balasan. Cinta yang bekerja dalam diam.
Doa yang Menjadi Jalan Hidup
Setiap baris dalam sabda tersebut sejatinya adalah doa. Doa yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga diperjuangkan melalui kehidupan sehari-hari.
Orang tua rela menahan lapar agar anaknya kenyang. Rela lelah agar anaknya bisa beristirahat. Rela tidak memiliki agar anaknya bisa bermimpi.
Mereka membersihkan “pangrasa” bukan hanya dengan nasihat, tetapi dengan teladan. Mereka “menyalakan pandangan” anak-anaknya bukan hanya dengan pendidikan, tetapi dengan harapan yang tak pernah padam.
Dan yang paling menyentuh, mereka bahkan memohon:
“dihampoera kabeh dosana…”
agar dosa-dosa anaknya diampuni
Sebuah doa yang menunjukkan bahwa cinta orang tua tidak berhenti pada kehidupan dunia, tetapi juga menembus batas-batas spiritual.
Saat Raga Kembali, Cinta Tetap Tinggal
Bagian akhir dari Sabda Sangkala itu adalah yang paling dalam maknanya:
“ambeh dimana datang mangsana moelang raga tanpa rasa, dipitineung koe noe tinggaleun.”
Ketika tiba waktunya raga kembali, tanpa daya, tanpa rasa—yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan cinta yang ditinggalkan.
Orang tua mungkin akan pergi, tetapi apa yang mereka tanamkan tidak akan hilang. Nilai, kasih sayang, pengorbanan, dan doa-doa mereka akan terus hidup dalam diri anak-anaknya.
Belajar Memahami, Sebelum Terlambat
Sering kali, kita baru menyadari besarnya cinta orang tua ketika waktu sudah terlambat—ketika mereka tidak lagi bisa kita peluk, atau ketika suara mereka hanya tinggal gema dalam ingatan.
Sabda Sangkala ini seolah menjadi pengingat halus: bahwa di balik kerasnya kehidupan yang dijalani orang tua, tersimpan cinta yang begitu lembut. Cinta yang tidak banyak bicara, tetapi tidak pernah berhenti bekerja.
Maka, selama mereka masih ada, cobalah untuk lebih memahami. Dengarkan. Hargai. Balas dengan cara kita sendiri—meski kita tahu, cinta mereka tidak akan pernah benar-benar terbalaskan.
Karena pada akhirnya, cinta orang tua adalah sabda yang hidup—yang terus mengalir, bahkan ketika mereka telah tiada.
