Saya masih berpendapat bahwa kawasan Alun-Alun dan sekitarnya sungguh layak menjadi destinasi wisata terpadu unggulan di Karawang. Kawasan ini memiliki potensi yang lengkap dan saling terhubung, mulai dari wisata religi di Masjid Syeh Quro, wisata rekreasi di Taman Alun-Alun yang akan segera direnovasi, wisata sejarah di Nagasari, wisata belanja di Kampung Batik, hingga wisata seni yang bisa dihidupkan melalui panggung di Gedung Juang.
Bahkan, potensi wisata kuliner yang hingga kini belum terpetakan justru menjadi peluang besar untuk melengkapi pengalaman kawasan ini sebagai ruang hidup yang utuh.
Menurut saya, sudah saatnya Pemerintah Daerah mulai melakukan langkah yang lebih serius melalui perencanaan yang matang, kajian yang komprehensif, dan visi yang berkelanjutan untuk mendaulat kawasan ini sebagai Kota Tua-nya Karawang.
Penetapan ini bukan sekadar simbol, melainkan upaya menjaga identitas, merawat sejarah, dan memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap ruang hidupnya sendiri. Ke depan, jika memungkinkan dan memenuhi kriteria, kawasan ini dapat didaftarkan sebagai cagar budaya tangible cultural heritage atau warisan budaya benda. Kalaupun belum bisa di tingkat pusat, setidaknya pengakuan dari pemerintah daerah Karawang menjadi langkah awal yang penting.
Langkah ini perlu dilakukan sedari awal, karena kita sering belajar bahwa warisan budaya kebendaan perlahan bisa hilang atau berubah seiring waktu. Kita sudah melihat bagaimana arsitektur asli Masjid Syeh Quro mengalami perubahan, bagaimana rumah ageung di Nagasari semakin jarang dikenali dalam bentuk aslinya, hingga jejak-jejak seperti sekolah istri, titik nol, asrama Belanda, dan konsep kota macapat yang perlahan memudar dalam ingatan kolektif. Jika tidak segera dirawat dan dipetakan, bukan tidak mungkin generasi berikutnya hanya akan mengenalnya sebagai cerita, bukan sebagai pengalaman nyata.
Pembangunan Taman Alun-Alun yang mulai dilaksanakan tahun ini menjadi momentum penting. Harapannya, pembangunan ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata, tetapi juga mampu merangkum konsep besar Wisata Kota Tua Karawang. Karena pada akhirnya, alun-alun bukan hanya ruang terbuka, melainkan titik pusat kehidupan—tempat di mana sejarah, budaya, ekonomi, dan interaksi sosial bertemu dan terus hidup dari waktu ke waktu.
