Hari Literasi yang diperingati setiap 8 September semestinya menjadi momentum refleksi tentang kondisi literasi kita hari ini. Namun kenyataannya, anak-anak kita sudah semakin jauh dari literasi. Bukan hanya karena kemajuan menakjubkan dari AI, tapi juga semakin lemahnya pengkondisian tentang literasi baik di sekolah maupun di keluarga. Apa yang dulu menjadi gerakan bersama, kini terasa memudar pelan-pelan.
Sebagaimana disampaikan oleh Asep R Sundapura, GLS (Gerakan Literasi Sekolah) tidak lagi sekencang dulu gaungnya. Di rumah, jarang ada keluarga yang memiliki Perpustakaan Keluarga. Di ruang publik pun sudah langka kita melihat orang sedang membaca buku. Kegiatan dan event literasi bahkan semakin jarang terdengar. Toko buku sepi, perpustakaan sekolah entah masih aktif atau tidak.
Ironisnya, di tengah kondisi kita yang 24 jam terkoneksi dengan internet, kebiasaan yang muncul justru lebih sering scrolling media sosial daripada selancar pengetahuan.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga budaya yang harus terus dipelihara. Dalam konteks budaya Sunda, leluhur kita justru telah menunjukkan tradisi literasi yang kuat.
Para pujangga dan resi adalah kaum literasi yang teguh, menjadikan menulis, membaca, dan mengolah pengetahuan sebagai laku hidup. Tradisi ini bukan hanya soal teks, tetapi juga tentang cara berpikir, merenung, dan menjaga nilai-nilai peradaban.
Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya karya “Satria Kabuyutan Kitab Suci Jatisunda”. Seperti diungkapkan oleh Asep R Sundapura, penulisan karya tersebut bukan hanya tentang pengenalan Kebudayaan Sunda Kuno, tetapi juga upaya menggali kembali tradisi literasi para leluhur Sunda.
Sebuah ajakan halus untuk mengingat bahwa kita pernah memiliki akar literasi yang kuat dan bermartabat.
Hari Literasi seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi titik balik untuk menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis, baik di sekolah, di rumah, maupun di ruang publik. Literasi adalah fondasi peradaban.
08Tanpa itu, kemajuan teknologi justru bisa menjauhkan manusia dari kedalaman berpikirnya sendiri.
