Mencari Sungai Yang Hilang

Bapak separuh baya itu termenung di depan saya. Tangannya sedikit gemetar seolah berusaha menggali jauh ke dalam kenangannya. Bibir keringnya bergerak pelan, “Dulu disini ada sebuah sungai. Sungai yang kecil. Datang dari kidul Cibeet bermuara ke kaler Cibeet juga. Membelah bukit jadi sepotong mangkuk terbalik.”

Saya ikut bingung. Di depan kami sama sekali tidak ada sungai. Hanya sepenggal tanah terbongkar dari perut bumi yang dikeduk banyak buldozer. Tapi Bapak Separuh Baya itu yakin betul.

Dulu, disana, tepat dipinggiran kampungngnya, pernah ada sepotong sungai berkelok yang airnya jatuh di gugusan batu bernama Kancah Nangkub. Tapi dimana sungai itu? pikir saya keheranan seraya melempar tatapan ke pucuk pabrik semen besar yg berdiri megah di tepi Cibeet.

Entah mungkin karena kasihan menyaksikan muka saya yang kebingungan, Si Bapak Tua itu akhirnya menerangkan bahwa sungai yang indah itu nampaknya sudah hilang. Alirannya terpotong pembangunan sebuah pabrik dan airnya mengering ketika perut sungai dibedah untuk kepentingan mencari bahan mentah material semen.

Sejak itu kampungnya tak lagi punya anak sungai, hanya memiliki sepenggal ingatan tentang airnya yang jatuh di gugusan batuan cadas.

Di tengah pecandian Batujaya yg legendaris, bertutur juga seorang marbot tua penjaga mushola. Dia mengurai kenangan kecilnya tentang keberadaan beberapa sungai dari Tanjung Karawang dan Citarum yg mengalir ke Tengah Pecandian.

“Ada beberapa sungai, tapi sungai merah dan sungai galian yg konon tempat perahu pembawa bahan bangunan candi lewat sudah tidak ada.”

Di daerah Rawagede, dari tujuh sungai yg bertemu di Titik Muara Pitu hanya tinggal satu sungai saja yg ada. Sisanya hilang jadi aloran. Di beberapa kecamatan lain juga sama.

Hilangnya sungai-sungai memang terjadi di banyak wilayah di Karawang dan juga daerah-daerah lain di Jawa Barat dewasa ini dan hanya menyisakan nama-nama di peta tua yang lusuh.

Sungai-sungai itu ada yang berganti jadi sawah dan menjelma aloran, ada pula yang malih rupa jadi perumahan, pabrik atau bahkan deretan ruko.

Kita memang kurang ramah sama sungai. Mungkin karena berpikir bumi ini bulat sehingga air pembuangan pasti meresap ke dalam perut bumi, menggelinding ke bawah dan bereslah masalah sanitasi. Citarum kotor no problem, wahangan menyempit biar saja.

Pembangunan modern terlalu seksi untuk di tunda hanya karena peduli alam. Tapi kemudian kita bingung manakala hebatnya pembangunan kota justru menghadirkan persoalan baru berupa banjir. Lalu, kita menuding pemerintah pasti tidak becus ngurus sanitasi.

Kita lupa, bisa jadi Karawang dan juga kota2 lain mulai terdampak banjir akibat hilang atau menyempitnya sungai-sungai di kampung kita, mungkin akibat massifnya pembangunan atau sudah tidak pedulinya lg kita kpd sungai karena rumah-rumah kita sekarang menghadapnya ke jalan darat. Bukan ke sungai spt baheula.

Entahlah …Dan ketika kita besar maka miriplah kita seperti Si Bapak Separuh Baya di gigir Cibeet, yang hanya memiliki sungai dalam ingatannya dan bukan di tanah kampungnya.

Leave a Comment