Karawang — Pada masa lampau, wilayah Karawang dikenal sebagai hamparan rawa luas yang disebut Rawagede. Di bagian utara kawasan tersebut terdapat sebuah wilayah bernama Muara Pitu atau Muara Tujuh, yang kini termasuk dalam wilayah Lembur Rawagede, Kecamatan Rawamerta. Muara Pitu dikenal sebagai titik pertemuan empat aliran sungai yang berasal dari Mekarjati, Kepuh, Lamaran, dan Telagasari. Keempat sungai tersebut kemudian menyatu dan membentuk tiga muara di kawasan Cilebar, Sungaibuntu, dan Cikeong, sebelum akhirnya bermuara ke Laut Jawa di bagian utara.
Seiring waktu, jejak Muara Pitu kini hanya tersisa pada aliran sungai yang dikenal sebagai Kali Mati atau Jaga Tamu, yang berada di wilayah perbatasan Balongsari dan Pasir Awi. Di kawasan tersebut masih ditemukan sisa aliran lama berupa sawah-sawah tua yang diperkirakan berasal dari era Mataram, serta sistem irigasi buatan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1925, Belanda membendung aliran sungai Muara Pitu sehingga arah alirannya berbalik ke selatan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah “Cai Mulang, Cai Ngocor ka Astana”, merujuk pada aliran air yang menuju kawasan astana di Pasir Awi.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, air yang mengalir berbalik arah tersebut dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Fenomena ini juga menjadi unik karena di wilayah Karawang hanya di Muara Pitu ditemukan aliran sungai yang mengalir ke selatan, berbeda dengan aliran sungai lain yang umumnya menuju utara.
Selain itu, salah satu aliran sungai yang bermuara ke Laut Jawa di Batujaya bertemu dengan aliran dari kawasan percandian. Berdasarkan kajian Prof. Ekadjati, sungai tersebut diduga merupakan sungai suci pada masa Kerajaan Tarumanagara yang digunakan untuk menyebarkan air suci dari patirtaan guna memberkahi wilayah serta lahan pertanian yang dilaluinya.
Muara Tujuh juga memiliki keterkaitan dengan tokoh sejarah Jaka Tingkir. Dalam cerita yang beredar, sebelum menjadi Raja Pajang yang kemudian berperan dalam lahirnya Mataram, Jaka Tingkir pernah menimba ilmu pertanian dan kemanusiaan di Muara Pitu kepada Kyai Cepret, yang merupakan murid Walangsungsang. Hingga kini, petilasan Jaka Tingkir disebut berada tidak jauh dari Monumen Perjuangan Rawagede Karawang. Di kawasan tersebut juga terdapat sebuah kampung yang seluruh warganya merupakan keturunan Jawa, namun menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Budayawan Asep R. Sundapura, menyatakan bahwa kawasan Muara Pitu memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat penting bagi identitas Karawang. Ia menilai, keberadaan jejak peradaban seperti sistem irigasi kuno, aliran sungai bersejarah, serta cerita-cerita lokal yang masih hidup di masyarakat merupakan potensi besar yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Menurutnya, Muara Pitu tidak hanya menyimpan warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan wisata sejarah dan budaya di Karawang ke depan.
