Dulu sebelum ada nama Tempuran, wilayah ini namanya adalah Dipala. Itu sebuah kadipaten dibawah pemerintahan Bupati Singaperbangsa.
Banyak yang heran, koq berani-beraninya asep r sundapura langsung berkesimpulan bilang Temuran dulunya wilayah Dipala. Sok tahu banget, padahal bukan ahli sejarah. Harusnya sebelum berkesimpulan ada dulu metodologi, riset, kajian ini ituh untuk jadi narasi sejarah. Mungkin spt itulah sberasumsi. Dan saya sendiri juga mengaku memang harus seperti itu. Biar diakui dan sahih. Karena kebetulan saya tidak sedang cari pengakuan, masing2 sajalah.
Sayangnya banyak yang tidak tahu bahwa jauh sebelum mereka bicara tentang Karawang saya sudah menggali tentang Karawang selama 10 tahun hampir setiap hari setiap malam. Memang tidak lama, cukuplah. Dan pola penggalian saya tidak dengan cara tanya ke khodam atau ke kuburan, ataupun ngagugulung mitos tapi mengikuti nasehat para leluhur yaitu pelajarilah sejarah dengan cara kudu rubak di amparan, artinya harus luas di dasar-dasar (data/referensi).
Oke kita kembali ke Dipala. Apakah ujug-ujug saya bilang Tempuran adalah Dipala? Tidaklah. Pertama saya dapat kata Dipala adalah dari surat Natamanggala, pemimpin pemberontak yang membunuh Singaperbangsa.
Surat itu masih ada di Leiden University, tapi salinannya bisa kita lihat di Perpusnas. Nah, untuk tahu bahwa ada surat seperti itu saja kita harus riset, apalagi tahu isinya.
Dalam surat yang jadi arsip VOC itu, awalnya namanya Indapela. Penulisan dan penamaan saja sudah bikin pusing apalagi obyeknya. Bisa bayangkan sendiri rumitnya tulisan Kompeni tahun 1600. Tetapi setelah dikomparasi dengan data lain akhirnya mengkerucut jadi Dipala. Sekarang kita cari tempatnya.
Mencari sebuah kampung yang berasal dari tahun 1600 bukan hal mudah, apalagi namanya juga ternyata sudah tidak ada, apalagi lokasinya.
Tapi data-data lain menyebutkan bahwa dulu Singaperbangsa itu punya 3 pemukiman besar : Karawang Nagasari, Udug-Udug Ciampel dan Tempuran. Datanya dari mana : cerita rakyat, catatan VOC, Naskah Jawi, penelitian para ahli sebelumnya dan tinjauan lapangan. Semuanya klop.
Dua nama pertama yaitu Karawang dan Udug-Udug data lengkapnya sudah diketahui. Berarti tinggal opsi tersisa yaitu Tempuran. Maka, mulailah turun ke Tempuran menelusuri puluhan kampung untuk mencari orang tua yang mungkin pernah dengar nama Dipala.
Nihil padahal nyari berminggu-minggu. Sejarah resmi Karawang juga tidak ada yang menjelaskan tentang Tempuran.
Menariknya, karena di Tempuran ternyata dekat dengan Ciparage dan Manggung Jaya dimana di sana ada Makam Singaperbangsa maka masuklah pendekatan ekopak atau lingkungan. Kita bedah profil Tempuran berdasarkan kartografi dan toponimi setiap kampung dan setiap sungainya satu-persatu.
Itulah sebabnya saya kenal juga riwayat Kali Daun, Cigobang, Ciparage, Dalem Ciparage Wiraperbangsa II, awal sejarah hubungan leluhur Tempuran dan Pagaden Subang dan riwayat-riwayat sekitar situ lainnya. Tidak asal baca atau ber-konklusi, tapi pemetaan langsung di lapangan.
Dari semua penggalian itu akhirnya mengkerucut bahwa Dipala itu adalah tempuran. Data makin kuat ketika saya juga akhirnya menemukan peta tua Belanda buatan abad 16 yang menggambarkan lokasi persis kadipaten Singaperbangsanya serta rute-rute transfortasinya ke Karawang dan Udug-Udug. Data2 referensi itu cek saja di Getih Karawang.
Semuanya semakin menguat begitu tradisi lisan ikut saya sertakan, yakni cerita turun temurun para orang tua Tempuran tentang “EUCEK” dan “CEUNAH” yang pernah mereka dengar dari nini buyutnya bahwa dahulu Tempuran adalah kota yang ramai dan ada pelabuhannya segala. Nah, jadi tradisi lisan yang kata @ocho itu “eucek” dan “ceunah” ternyata bermanfaat juga untuk mengungkap tabir gelap Karawang.
Kita harus ingat kbahwa menggali khazanah Karawang itu tidak cukup dengan metodologi dan tetek bengek definisi ilmiah lainnya, tapi harus juga menghargai sumber “eucek” dan “ceunah”nya juga karena Karawang tidak punya banyak naskah sejarah model Negarakertagama apalagi prasasti.
Begitulah metode saya menemukan Dipala. Gambar dibawah adalah sebagian dari surat-surat para penguasa Karawang abad 16 yang saya jadikan referensi juga untuk menggali Karawang. Itu termasuk sumber primer loh.
Tuh lihat bahkan di Karawang juga ada yang namanya Regent (Bupati) Senayan dan Bupati Tapraya. Wah, kalau begitu di Karawang ternyata ada juga Bupati2 selain Singaperbangsa dan Wirasaba. Itulah Karawang, tidak sesempit yang kita pikir.
